Kemarau panjang tak berkesudahan, terik surya menyengat kulit-kulit tubuh makhluk maupun tumbuhan, angin sukar berhembus, susah mencari celah dalam ketinggian, di kain matadori bangunan menjulang, yang berjantung pendingin ruang berhidung keluar gas-gas panas, sesak bak asma, alami hanyalah janji.
Menginjak usia 50-an tahun, Samitro seorang kakek ini adalah seorang perokok berat. Dari kegemaranya mengisap rokok klobot (Rokok kulit jagung) benar atau tidak karena kebiasaanya ini dia dihinggapi penyakit asma. Akan tetapi hal itu tidak membuatnya untuk berhenti merokok, sesekali ketika asmanya kambuh ia merokok sebatang tak sampai habis. Cuma beberapa sedotan saja lalu batang rokok itu ia biarkan di asbak tanpa dimatikan. Setelah beberapa menit baru ia hisap dengan menyulutnya lagi.
Sering kali keluarganya memperingatkan agar ia berhenti merokok tapi selalu saja tak digubris olehnya, dengan pembelaan yang semaunya sendiri. Suatu ketika sehabis makan siang Samitro terbatuk-batuk tak henti-henti ketika sedang mengisap rokoknya, dari dalam anaknya berteriak, ”Kalau batuk itu mbok jangan merokok..!!!”, terdengar oleh Samitro peringatan anaknya itu tapi ia tidak langsung menjawab dikarenakan batuknya masih menjadi-jadi.
Anaknya keluar sambil membawakan segelas air putih lalu menaruhnya di atas meja, dengan agak gemetaran ia bergegas meraih gelas itu dan langsung meminumnya, setelah batuknya reda dengan santai ia menjawab, ”Kucing saja tidak merokok bisa batuk, masak orang merokok tidak boleh batuk…”
Endang, cucunya yang masih TK sering disuruh Samitro untuk membelikan rokok di warung tetangganya, karena sering mendengar orang tuanya memperingatkan kakeknya, ia pernah juga memperingatkannya seperti layaknya orang dewasa, ”Mbah, mbok jangan merokok… nanti sakit lho..”
*****
Alkisah Nitisasmito, sosok manusia penemu cikal bakal rokok kretek. Beliau pantas untuk mendapatkan hadiah nobel dikarenakan jasanya di bidang medis menemukan obat batuk/asma jenis baru.
Singkat cerita, Nitisasmito, laki-laki perokok dari keluarga yang seadanya, juga pengidap penyakit asma. Segala cara yang ia mampu untuk usir penyakitnya telah dicoba, saat itu obat yang paling dianggap mampu untuk menyembuhkannya ialah minyak cengkeh.
Setiap kambuh sesak napasnya disertai batuk-batuk, dengan bergegas ia mengoleskan minyak cengkeh tersebut di dada dan tenggorokannya, mujarab memang. Tidak begitu lama panyakit yang datang tanpa diundang itu segera pergi. Lambat-laun disesuaikan dengan kebiasan merokok lintingan yang sangat kontradiktif dengan penyakitnya, lantas Nitisasmito coba-coba mencampurkan cengkeh kering untuk bumbu dapur yang telah ia tumbuk halus ke dalam rokok lintingannya dan alhasil, setelah berulang kali rokok lintingan cengkeh itu dinikmatinya, lambat-laun penyakit yang dideritannya sudah enggan lagi mampir dan bisa dibilang sembuh.
Dari mulut ke mulut akhirnya ramuan rokok lintingan khas Nitisasmito tersebar luas sebagai rokok obat batuk dengan ciri khas waktu disulut menimbulkan bunyi kemritek, pretag-preteg…, disebabkan oleh campuran bubuk cengkeh tadi ke dalam tembakau. Dari bunyi kreteg-kreteg itu rokok ramuannya mempunyai gelar rokok kretek. Puncaknya ramuan Nitisasmito menjadi sebuah perusahaan rokok kretek yang merajai pasaran. Perkembangannnya sangat pesat beredar dengan berbagai merek.
Akan tetapi alami hanyalah janji, usia terus saja menyela menjadi waktu, yang terus merambat bak abu rokok kretek yang telah disulut. Matinya di ujung mulut sang penyulut. Melaju hingga salah satu perusahaan rokok formula Nitisasmito dengan merek “Angka”, jelas-jelas menuliskan bahwa produknya sebagai obat batuk. Akan lebih baik jika disimpan lebih lama layaknya anggur Perancis jika semakin lama semakin berkhasiat, tetapi sekarang puntung telah berabu menjadi debu.
Pemerintah mengeluarkan peraturan yang harus terpampang di setiap bungkus rokok, ”Merokok dapat meru ..Bla..Bla..Bla….”, Kali ini pencerita tidak akan menyelesaikan kalimat peringatan pemerintah tersebut untuk seksdar memberi penghargaan kepada Nitisasmito.
*****
Entah karena buta huruf atau memang Samitro tak pernah mau mengagas peringatan pemerintah yang tertera pada setiap kemasan rokok yang telah ia isap. Sugesti imajinasinya, bahwa, rokok bisa menyembuhkan asmanya membuat daya tahan tubuh lelaki tua itu bertambah kuat. Ia masih saja seorang perokok berat walau di usiannya yang telah tua. Rokoknya pun tidak mesti rokok klobot. Seperti bibir asbak rokok apa saja selalu mau menempel ke bibirnya. Mengeluarkan asap-asap putih kadang dari lubang hidungnya juga.
Suatu pagi ia berjalan kaki pulang dari pasar, sekedar membeli rokok dan ubi goreng untuk sarapannya. Sudah agak lama kegiatan pagi ini Samitro kerjakan sendiri. Endang cucunya tidak pernah lagi ia suruh membelikan rokok dikarenakan sering diperingatkan oleh orangtuanya, dan dilarang jika membelikan rokok untuk kakeknya.
Alami hanyalah janji. Sampai di rumah, bayangan Samitro untuk menikmati ubi goreng, mengisap rokok, minum teh hangat tidak terwujud, didapatinya rumah dalam keadaan kosong. Tak seperti biasa ketika rumah kosong, di meja depan selalu tersedia teh panas di cangkir doreng. Parti menantunya selalu menyajikannya sebelum mengantar Endang ke sekolah. Tapi kali ini tak didapatnya cangkir doreng itu di atas meja.
Suasana itu hening sesaat, terpecah oleh suara sepeda motor yang ternyata anak laki-lakinya. Bergegas memarkirkan motornya di depan rumah dan tergesa-gesa masuk dengan wajah panik ia berkata, ”Endang masuk rumah sakit Pak.” Tanpa terjadi dialog yang cukup lama akhirnya kedua orang bapak-anak itu meluncur di atas sepeda motor menuju rumah sakit.
*******
Samitro duduk termenung di ruang tunggu sebuah rumah sakit, diketahui dari pembicaraan dokter saat ia masih didalam sal menunggu Endang, bahwa cucunya itu terkena serangan jantung yang disebabkan penyakit keturunan, atau karena kondisi saat ia dilahirkan meminum air kawah, atau karena sebagai perokok pasif yang tak sengaja mengisap asap rokok waktu ia mengisap rokok. Semua itu belum pasti masih menunggu diagnosis tim dokter. Dalam kesendirian, Samitro merasa menyesal kalau-kalau penyakit cucunya itu disebabkan oleh asap rokoknya. Sehingga Endang jadi perokok pasif.
Usiannya yang sudah tua tergambar di kerutan ketuaan di wajah Samitro. Tiba-tiba semuanya pudar, menjadi segar, kembali muda lagi di ruang tunggu itu saat anak laki-lakinya datang lalu duduk di sampingnya dengan meletakan sebungkus rokok yang sudah terbuka dengan sebuah korek api. ”Rokok Pak?”
Keduannya terdiam, tak ada kumunikasi fisik yang terjadi. Mulut tidak saling mengeluarkan kata-kata, mata tidak saling berpandangan, wajah tidak saling berhadapan.
Saat itu hanya asap putih yang ke luar dari mulut keduannya. Mengepul membentuk lubang-lubang, membentuk tanda tanya, bergumpal-gumpal berkumpul membumbung tinggi seakan menembus langit di ruang tunggu rumah sakit.
Penulis adalah
penggiat sastra
di Kelompok
Teater Kidung Surakarta.
Sekarang bergabung
dalam
Komunitas Wayang Suket
| berbagi di Facebook : Share |
|
| berbagi di Twitter : Tweet |
berbagi di Google + : |






