Senin, 13/02/2012
PT JOGLOSEMAR PRIMA MEDIA | Jalan Setia Budi No. 89 Gilingan, Banjarsari, Surakarta | Telp. 0271-717141, 0271-720496 dan 0271-741926 | Fax. 0271-741696 | website : www.harianjoglosemar.com | email : redaksi@harianjoglosemar.com
<div style="background-color: none transparent;"><a href="http://www.rsspump.com/?web_widget/rss_ticker/news_widget" title="News Widget">News Widget</a></div> <div style="background-color: none transparent;"><a href="http://www.rsspump.com/?web_widget/rss_ticker/news_widget" title="News Widget">News Widget</a></div> <div style="background-color: none transparent;"><a href="http://www.rsspump.com/?web_widget/rss_ticker/news_widget" title="News Widget">News Widget</a></div>

Salah Cara Gosok Gigi Hati-hati Gigi Sensitif

Jumat, 15/01/2010 11:00 WIB - Ikrob Didik Irawan

Gigi sensitif atau rasa nyeri (ngilu) yang muncul ketika makan atau minum yang terlalu panas, dingin, manis atau asam ternyata banyak disebabkan oleh faktor cara menggosok gigi yang salah. Akibat cara menggosok gigi yang salah tersebut juga menyebabkan kerusakan pada gigi. Dari hasil penelitian para ahli di Amerika Serikat, diketahui bahwa sebanyak 50-90 persen penderita gigi sensitif memberikan tekanan besar atau berlebih saat menggosok gigi. 
Kebiasaan menggosok gigi dengan tekanan berlebih juga dapat membuat gusi mengalami iritasi atau gusi menurun dari leher gigi. Akibatnya, lama kelamaan akar gigi akan terbuka (resesi gingiva), leher gigi berlubang, lapisan gigi terluar (email) pun akan berkurang ketebalannya. Sehingga bila minum air panas, dingin, asam, dan manis atau bahkan tersentuh bulu sikat gigi akan terasa ngilu.
“Gigi sensitif merupakan istilah umum yang dipakai untuk menunjukkan adanya dentine hypersensitive akibat menipisnya email, penurunan gusi dan terbukanya dentin (sebuah lapisan di bawah email atau tulang gigi). Nyeri yang ditimbulkan berkaitan dengan sensitivitas yang terjadi dalam saraf gigi,” ujar drg Widia Susanti MKes, ahli kesehatan gigi dari Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) dr Moewardi Surakarta.
Menurut Widia, banyak orang belum mengetahui cara menggosok gigi yang baik dan benar. Orang beranggapan bahwa dengan memberikan tekanan yang berlebih saat menyikat gigi akan menjadikan gigi bersih dari berbagai macam sisa makanan yang menempel. Padahal, yang terjadi justru akan mengikis lapisan email yang melapisi gigi dan mengganggu gusi.
“Sebenarnya menggosok gigi itu tidak perlu ditekan terlalu keras, cukup digosokkan dan mengenai seluruh bagian gigi dengan gerakan memutar dengan hati-hati. Selain itu pilih sikat yang memiliki bulu lembut, jangan yang kaku,” jelas Widia saat di temui di ruang kerjanya.
Faktor kebersihan mulut (oral hygienes) juga merupakan faktor penyebab terjadinya gigi sensitif. Pasalnya, keadaan mulut yang buruk dan penumpukan karang gigi merupakan “rumah” berjuta-juta kuman dalam rongga mulut. Lambat laun karang gigi pun dapat membuat iritasi gusi sehingga gusi mudah berdarah dan timbul bau mulut.
Selain itu, dapat pula gigi sensitif disebabkan oleh pembentukan lapisan email gigi yang kurang sempurna (ename hypoplasia), biasanya terjadi pada orang-orang tertentu. “Faktor ini dipengaruhi oleh pembentukan lapisan email gigi dan setiap orang berbeda-beda. Keadaan ini pun akan menjadikan gigi menjadi sensitif,” ujar Widia menjelaskan.
Penumpukan Sisa Makanan
Food impaksi atau penumpukan sisa-sisa makanan di daerah pertemuan gigi dengan gigi, lanjut Widia, juga menjadi penyumbang terjadinya gigi sensitif. Sisa makanan tersebut akan menyusup masuk melalui leher gigi dan sulit terjangkau sikat gigi, sehingga sulit untuk dibersihkan. Lama kelamaan penumpukan yang terjadi semakin banyak, sehingga menekan saku gusi semakin dalam dari keadaan normal.
“Pemakaian bahan pemutih gigi, atau merokok dapat pula memicu timbulnya kesensitifan pada gigi. Sebenarnya gigi sensitif tidak langsung terjadi. Misalnya, kita sering makan permen waktu kecil, maka kita akan merasakan gigi sensitif jika sudah dewasa nanti,” papar Widia.
Untuk melakukan pencegahan agar gigi tidak menjadi sensitif, Widia menjelaskan, kunci utama yang harus dilakukan adalah dengan mengurangi tekanan berlebih saat menggosok gigi. Selain itu sikat yang digunakan sebaiknya dari jenis bulu sikat lembut yang tidak keras, arah saat menggosok juga harus benar. “Bagi yang sudah menderita gigi sensitif pakailah pasta gigi khusus atau yang mengandung strontium chloride, potassium nitrate, fluoride. Harus diingat, bahwa lamanya menggosok yang dianjurkan adalah antara 2-3 menit dan menjangkau semua permukaan gigi,” imbaunya.
Kebanyakan yang terjadi orang menggosok gigi kurang dari 45 detik, waktu yang sangat singkat untuk memperoleh hasil kebersihan gigi dan mulut yang optimal. Karena waktu yang demikian singkat maka ada daerah-daerah yang tidak terjangkau oleh sikat gigi sehingga menimbulkan pengendapan sisa-sisa makanan, alhasil timbullah plak gigi.
Jika terjadi gangguan gigi, Widia menyarankan, agar berkonsultasi dengan dokter gigi agar penanganan yang dilakukan juga tepat. “Paling tidak periksa ke dokter gigi setiap enam bulan sekali,” pungkasnya. (Ikrob Didik Irawan)
 

berbagi di Facebook :
Share
berbagi di Twitter :
berbagi di Google + :