SRAGEN—Sedikitnya 1.500 orang dari berbagai elemen yang tergabung dalam Koalisi Peduli Sragen (KPS) kembali menggelar unjuk rasadi depan Kantor Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sragen, Rabu (17/3). Seperti sebelumnya, mereka kembali menyuarakan tuntutan pengunduran diri Bupati Sragen, Untung Wiyono.
Selain soal dugaan penggunaan ijazah palsu, demo juga mengangkat sejumlah indikasi KKN, penggerogotan anggaran daerah hingga kegagalan pemerintah dalam pengelolaan Badan Usaha Milik Daerah (BUMD). Salah satu fakta yang dibeberkan adalah soal kondisi perusahaan beras daerah PD Pelopor Alam Lestari (PD PAL) yang tidak hanya diisukan kolaps, menunggak utang kepada ratusan mitra pedagang mencapai Rp 4,6 miliar.
Sebagai bukti, mereka juga membawa lima lembar surat kuasa dari penagihan dari para pedagang yang masih mempunyai piutang di PD PAL antara puluhan hingga ratusan juta. “PD PAL yang katanya dibangun untuk menyejahterakan masyarakat tapi faktanya apa? Kan malah menyengsarakan pedagang dan petani dengan membeli beras dan gabah tapi hanya diutang,” papar salah satu koordinator aksi, Rus Utaryono.
“Kebangkrutan PD PAL ini hanya satu dari 67 item kegagalan dan kebobrokan pemerintahan Bupati yang akan kami beberkan satu persatu. Dengan tujuan akhir Untung harus mundur,” tandas penasihat LSM Lintas, Saiufl Hidayat, yang juga ikut unjuk rasa.
Massa mendesak untuk bertemu Untung, namun gagal karena ia sedang dinas luar kota. Massa hanya ditemui oleh Assisten III Ruwiyatmo, Kepala BUMD Suparmin, dan Manajer PD PAL Budi Pranowo.
Baik Suparmin maupun Budi Pranowo mengakui PD PAL memang memiliki beban utang ke pedagang yang nilainya kurang lebih Rp 4 miliar. Namun, tunggakan tetap akan dibayarkan secara bertahap sembari memperbaiki sistem pengelolaan untuk memulihkan kondisi PD PAL yang saat ini tengah kritis.
“Sewaktu saya masuk di PD PAL sekitar satu tahun lalu, sudah nama-nama pedagang yang punya tunggakan hutang. Jadi angka sekitar Rp 4 miliar itu adalah kompilasi dari utang beberapa tahun,”papar Budi Pranowo.
Massa bubar sekitar pukul 13.00 WIB setelah hujan deras mengguyur. Sementara seusai demo, puluhan orang berseragam hitam dari sejumlah LSM di bawah koordinasi Forum Sragen Rembug (FSR) menggelar aksi damai di tempat sama. Uniknya, mereka tidak berorasi melainkan hanya memajang spanduk ajakan damai disertai aksi membersihkan areal jalan depan Pemkab yang dijadikan arena demo. (yok)
| berbagi di Facebook : Share |
|
| berbagi di Twitter : Tweet |
berbagi di Google + : |




