Senin, 13/02/2012
PT JOGLOSEMAR PRIMA MEDIA | Jalan Setia Budi No. 89 Gilingan, Banjarsari, Surakarta | Telp. 0271-717141, 0271-720496 dan 0271-741926 | Fax. 0271-741696 | website : www.harianjoglosemar.com | email : redaksi@harianjoglosemar.com
<div style="background-color: none transparent;"><a href="http://www.rsspump.com/?web_widget/rss_ticker/news_widget" title="News Widget">News Widget</a></div> <div style="background-color: none transparent;"><a href="http://www.rsspump.com/?web_widget/rss_ticker/news_widget" title="News Widget">News Widget</a></div> <div style="background-color: none transparent;"><a href="http://www.rsspump.com/?web_widget/rss_ticker/news_widget" title="News Widget">News Widget</a></div>

Rencana Menikah 10-10-2010 Tinggal Kenangan

Jumat, 16/04/2010 09:00 WIB - dtc

Mata Aida Afriyanti (23) sembab. Dengan terisak, dia memegang erat foto calon suaminya, Ahmad Tajudin (26). Rencananya, dua sejoli ini akan menikah pada tanggal 10 Oktober tahun ini (10-10-2010).
Cincin pernikahan sudah mereka pesan. Namun Tuhan berkehendak lain. Rencana pernikahan pada tanggal yang istimewa itu buyar, setelah tragedi Tanjung Priok, Rabu (14/4) lalu merenggut nyawa Tajudin. ”Rencananya kita bulan Okbtober ini mau menikah, tepatnya 10-10-10. Kita juga sudah sempat pesan cincin, tapi itu semua jadi kenangan,” sesal Aida di kediaman Tajudin, Jalan HH RT 01/IX No 43, Kebon Jeruk, Jakarta Barat, Kamis (15/4). Tajudin dimakamkan di Pemakaman Masjid Jami Assyurur, RT 09/I, Kebon Jeruk, Jakarta Barat.
Ahmad Tajudin adalah salah satu anggota Satuan Polisi Pamong Praja(Satpol PP) DKI Jakarta yang menjadi korban tewas pada kerusuhan di kompleks Makam Mbah Priok, Jakarta Utara. Korban tewas lainnya yakni Israel Jaya(27) dan M Soepono. Keduanya juga anggota Satpol PP.
Sebelum peristiwa berdarah di Priok, Aida baru saja dihadiahi sebuah kalung. Ia juga sempat berbincang dengan Tajudin lewat BBM (BlackBerry Messenger) sebelum kejadian. Tajudin mengatakan tangan kanannya keseleo. ”BBM pukul 13.28 WIB, tapi sekitar jam 16.00 WIB saat dihubungi kembali sudah tidak ada jawabanya,” ujarnya.  Percakapan dua sejoli itu juga masih tersimpan di BBM milik Aida. Berikut rekapan percakapan terakhir mereka.
Tajudin : Pundak ku cidera, tangan kanan ku keseleo gak bisa gerak.
Aida : Yank pulang aja, jgn ikut, kalo udah ada jamaah bahaya.
Tajudin : Gak bisa, namanya tugas.
Aida : Yank, aku liat Eko (teman Tajudin) masuk TV, Yank kok gak dibalas.
Menurut Aida, mereka sudah menjalin hubungan sejak tahun 2005, yang kebetulan berasal dari salah satu kampus swasta di daerah Jakarta Barat.

Tajudin di mata Aida adalah sosok yang sangat baik. ”Dia selalu ada buat Aku, ke mana-mana selalu sama Aku, Aku sayang dia,” tutur Aida sambil menyeka air mata yang jatuh di pipinya.
Ia pasrah dengan kejadian ini dan merelakan kekasihnya pergi untuk selamanya. Ia tidak dendam pada pihak yang sampai membuat jiwa kekasihnya melayang. ”Biar Tuhan yang membalas. Semoga ia tenang di sisi-Nya,” kata Aida sembari memeluk foto Tajudin.
Suasana duka juga menyelimuti kediaman korban, Israel Jaya. Ayah korban, Zainal Abidin, tampak lemas dan melamun di depan rumahnya. Dia tak mampu berkomentar banyak. Nama Israel Jaya, sekilas banyak yang membicarakannya. Sebuah nama yang unik, karena menyerupai Negara Yahudi, yang kerap menuai hujatan banyak orang.
Namun, pihak keluarga Israel mengatakan, nama Israel tidak mengandung arti apa pun selain berharap namanya besar dan suci seperti negara Israel. ”Tidak ada arti khusus. Orangtuanya memberi nama seketemunya saja,” kata salah satu paman Israel, Firman Pangaribuan di rumah duka Jalan Swadaya, Nomor 97, Jatibening, Bekasi, Jawa Barat, Kamis (15/4).
Menurut Firman pemberian nama tersebut mencerminkan sebuah negara yang besar di Timur Tengah. Keluarga berharap Israel juga menjadi orang besar yang berguna bagi bangsa dan negara. ”Mungkin karena negara Israel adalah sebuah negara yang besar dan suci. Orangtuanya berharap sang anak bisa tumbuh jadi orang besar dan suci,” kata Firman.
Israel yang lahir dari keluarga ekonomi rendah ini bergabung dengan Satpol PP sejak tahun 2005. Ayah Israel hanya seorang pensiunan pengemudi Bus PPD. Sedangkan ibunya buka usaha kelontong dan jahit di rumah.
Menurut Firman, Israel termasuk anak yang rajin beribadah Minggu ke gereja. Israel kuliah dengan biaya sendiri tanpa dibantu oleh orang tuanya.
Lain halnya dengan M Soepono. Korban Priok dengan kondisi mengenaskan ini, dibawa ke rumah duka, di Jalan Lontar, Tanjung Priok, Jakarta Utara, ketika kerusuhan masih berlangsung. ”Jenazah sudah dibawa ke rumah duka, tadi pas warga rusuh bakar mobil,” kata petugas kamar mayat RS Koja, Jakarta Utara, Kamis (15/4) dini hari. (dtc)

berbagi di Facebook :
Share
berbagi di Twitter :
berbagi di Google + :