SEMARANG (Joglosemar): Budayawan Prof Eko Budihardjo mengatakan rasa nasionalisme dan kecintaan terhadap Tanah Air harus terus dipupuk lewat pendidikan. ”Sebab, rasa nasionalisme bangsa Indonesia, terutama di kalangan pemuda saat ini sudah mulai luntur terkikis oleh perkembangan zaman,” katanya di Semarang, Rabu (28/10).
Menurut dia, penyebab semakin lunturnya rasa nasionalisme di kalangan pemuda disebabkan oleh pola pendidikan di Indonesia yang terlalu mementingkan aspek kecerdasan (otak).
Namun, kata dia, penekanan terhadap semangat nasionalisme yang tercermin dalam nilai-nilai luhur, di antaranya tata krama dan kesantunan cenderung dilupakan. ”Akibatnya, saat ini kita sering melihat para mahasiswa yang terlibat tawuran atau kerusuhan yang diakibatkan persoalan sepele dan lebih karena masalah internal,” katanya.
Ia mencontohkan mahasiswa yang memprotes pengangkatan rektor, dan berlanjut dengan perusakan fasilitas pendidikan di kampus yang justru merugikan mereka sendiri.
”Apabila keadaan dibiarkan seperti ini terus, maka negara-negara lain akan menganggap kita (bangsa Indonesia, red.) lemah dan akan terus mengganggu kedaulatan Indonesia,” katanya.
Malaysia, kata dia, sudah mengambil dua pulau terluar Indonesia, yakni Sipadan dan Ligitan, hal itu terjadi karena keadaan masyarakat Indonesia yang terkesan tidak solid dan selalu ribut sendiri.
Menurut dia, upaya untuk memupuk rasa nasionalisme harus dilakukan sejak dini, yakni di lingkungan keluarga, terutama orang tua yang memberikan contoh baik kepada anaknya.
”Orangtua harus bersikap secara work to talk yakni mengerjakan apa yang dikatakan, jangan melarang anaknya (melakukan perbuatan buruk, red), namun dirinya justru melakukan,” katanya.
Ia mengatakan orangtua merupakan contoh yang menjadi dijadikan teladan oleh anak-anaknya, sehingga orangtua harus mampu bersikap dan bertindak arif dan bijaksana.
Pemupukan rasa nasionalisme, lanjutnya, juga harus dilakukan di seluruh tingkatan pendidikan, mulai SD hingga perguruan tinggi, dengan menekankan rasa kebangsaan lewat pendidikan kewarganegaraan (PKn).
Eko mengakui, PKn memang sudah diberikan di sekolah-sekolah, namun hanya ditekankan pada aspek kognitif berupa pemahaman atau pengetahuan yang sudah pasti anak-anak mengetahuinya.
”Anak-anak memang tahu apa itu rasa kebangsaan dan pengertian nasionalisme, tetapi aspek keteladanan dengan memberi contoh cara bersikap nasionalisme dalam kehidupan sehari-hari belum diberikan,” katanya. (ant)
| berbagi di Facebook : Share |
|
| berbagi di Twitter : Tweet |
berbagi di Google + : |




