WASHINGTON—Ranjau laut kemungkinan besar menjadi penyebab karamnya secara tragis kapal angkatan laut Korea Selatan (Korsel). Dugaan itu mengesampingkan kecemasan-kecemasan mengenai kemungkinan Korea Utara (Korut) terlibat dalam insiden tersebut.
”Saya ragu bahwa Korea Utara terlibat di dalam insiden ini,” kata John Feffer, salah seorang direktur Kebijakan Luar Negeri pada Program Fokus pada Lembaga Pengkajian Kebijakan AS, Sabtu (27/3).
”Insiden itu tampaknya tidak melibatkan suatu tembakan artileri dari Korea Utara,” tegasnya.
Kapal perang Angkatan Laut (AL) Korsel yang berbobot 1.200 ton, Cheonan, Jumat malam waktu Seoul tenggelam setelah terjadi ledakan misterius. Menurut saksi mata dan para penjabat Korsel, ledakan membuat kapal itu terbelah menjadi dua.
Hanya 58 dari 104 awaknya yang berhasil diselamatkan, dan 46 lainnya masih hilang. Namun, operasi upaya penyelamatan masih terus dilakukan. Baik Seoul maupun Washington mengatakan, mereka belum menemukan bukti-bukti bahwa Korut terlibat dalam insiden itu.
Gabungan Kepala Staf Angkatan Laut, mengatakan sebuah ledakan merobek bagian lambung belakang kapal Jumat malam. Akibatnya mesin mati dan menenggelamkan kapal selama tiga jam kemudian.
Kecelakaan ini merupakan yang terburuk dialami angkatan laut Korsel saat mengawasi perairan yang berbatasan langsung dengan Korut. Angkatan Laut dan kapal penjaga pantai, melakukan penyisiran dekat Baengnyeong, lokasi kapal itu tenggelam.
Kapal Cheonan tenggelam akibat terjangan ombak besar dan cuaca buruk selama menjalankan misi patroli rutin. Pada Sabtu waktu setempat, sebagian besar kapal berada di bawah air meskipun lambung kapal masih terlihat.
Presiden Lee Myung-bak memerintahkan segera diadakan evaluasi untuk mengetahui penyebab kecelakaan kapal seperti, dikatakan juru bicara Presiden Kim Eun-hye. (ant/ida)
| berbagi di Facebook : Share |
|
| berbagi di Twitter : Tweet |
berbagi di Google + : |




