Sabtu, 11/02/2012
PT JOGLOSEMAR PRIMA MEDIA | Jalan Setia Budi No. 89 Gilingan, Banjarsari, Surakarta | Telp. 0271-717141, 0271-720496 dan 0271-741926 | Fax. 0271-741696 | website : www.harianjoglosemar.com | email : redaksi@harianjoglosemar.com
<div style="background-color: none transparent;"><a href="http://www.rsspump.com/?web_widget/rss_ticker/news_widget" title="News Widget">News Widget</a></div> <div style="background-color: none transparent;"><a href="http://www.rsspump.com/?web_widget/rss_ticker/news_widget" title="News Widget">News Widget</a></div> <div style="background-color: none transparent;"><a href="http://www.rsspump.com/?web_widget/rss_ticker/news_widget" title="News Widget">News Widget</a></div>

Ramadan, Kuliah Tidak Efektif?

Kamis, 26/08/2010 09:00 WIB - dwi/danie/titis

Waktu adalah uang dan waktu adalah ilmu. Dari deskripsi soal waktu tersebut, kiranya bisa dikatakan jika waktu adalah hal yang sangat penting, waktu adalah anugerah yang tidak seharusnya disia-siakan tanpa melakukan sesuatu yang berguna.
Dikaitkan dengan pembelajaran di Perguruan Tinggi, waktu juga menjadi suatu hal yang signifikan dan bisa jadi sangat berpengaruh terhadap biaya yang akan dikeluarkan oleh seorang mahasiswa saat kuliah, atau bahkan bisa jadi akan berpengaruh pada mahasiswa setelah lulus kuliah serta berpengaruh terhadap pemahaman mahasiswa terhadap sebuah materi yang disampaikan oleh dosen. Terkait mengenai pemahaman mengenai materi yang disampaikan dosen, bagaimana kalau waktu kuliah di pangkas, khususnya pada saat bulan Ramadan? Sebenarnya, perlu atau tidak adanya pemangkasan waktu kuliah saat bulan Ramadhan?
Mahasiswa Jurusan Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) Universitas Terbuka (UT) Surakarta, Wakhid Priyanto (21), mengungkapkan, bulan Ramadhan seharusnya tidak dijadikan sebagai alasan untuk melakukan pemangkasan waktu kuliah. Pasalnya, dengan adanya pemangkasan waktu kuliah, sebenarnya mahasiswa yang dirugikan. Hal ini dikarenakan dengan pendeknya waktu kuliah, maka materi yang disampaikan oleh dosen tidak bisa detail dan cenderung tidak efektif.
“Mungkin memang kalau dilaksanakan full time seperti saat kuliah biasa di luar bulan Ramadan, mahasiswa belum tentu juga bisa menerima materi dengan baik. ya tahu sendiri lah bagaimana kalau orang puasa, bawaannya kan gampang capek dan susah konsentrasi karena perutnya lapar, gampang ngantuk juga. Yang pasti, puasa itu bukan alasan untuk menjadi malas,” katanya.
Hal berbeda diungkapkan mahasiswi Jurusan Sastra Indonesia Universitas Indonesia (UI), Pramita Nurhayati. Menurutnya, pemangkasan waktu kuliah saat bulan Ramadan merupakan hal yang perlu dan layak dilakukan guna mengefektifkan perkuliahan. “Percumah juga kan kalau kuliah lama-lama tapi materinya tidak ada yang masuk karena mahasiswa tidak bisa menyerap materi dengan baik karena sedang berpuasa,” ujarnya.

Metode Pembelajaran
Paramita menambahkan, adanya pemangkasan waktu kuliah yang biasanya antara 10 – 15 menit, tidak akan menurunkan bobot atau esensi dari mata kuliah yang diajarkan. “Yang penting adalah bagaimana dosen bisa menyampaikan materi kuliah yang diajarkan dengan baik dan mudah dimengerti oleh mahasiswanya. Inti-intinya saja dan kemudian mahasiswa diminta mengembangkan sendiri dengan belajar di perpustakaan atau di rumah,” katanya.
Hingga saat ini, puasa memang seolah-olah menjadi alasan bagi dosen, mahasiswa ataupun institusi Perguruan Tinggi untuk mengurangi porsi pembelajaran dengan cara pemangkasan waktu kuliah. Entah karena alasan kemanusiaan, yakni untuk menghargai mahasiswa dan dosen yang menjalankan ibadah puasa, atau karena adanya alasan lemahnya penyerapan materi kuliah yang diajarkan serta efektivitas perkuliahan.  
Seorang ahli gizi di Puskesmas Celep, Ahmad (43) mengungkapkan, memang benar kondisi fisik seseorang yang berpuasa tidak seperti saat tidak berpuasa, hal ini dikarenakan asupan makanan dan gizi serta protein sangat terbatas, sehingga mengakibatkan kondisi seseorang akan mudah mengantuk, lemas dan akan susah untuk berkonsentrasi.
“Kondisinya, empat jam setelah sahur, lambung akan kembali kosong, sedangkan tubuh tetap memerlukan energi untuk bisa beraktivitas, selanjutnya lambung akan memecah cadangan makanan yang berwujud lemak di dalam tubuh kita. Nah dalam proses tersebut, darah dan oksigen yang menuju ke otak dan mata berkurang karena berkonsentrasi memecah cadangan makanan di dalam tubuh menjadi energi, sehingga yang terjadi adalah rasa kantuk. Di saat seperti inilah, orang jadi susah untuk berkonsentrasi,” terangnya.
Guna mengatasi permasalahan sulit untuk berkonsentrasi dan mengantuk serta sulit untuk berkonsentrasi menyerap materi kuliah saat puasa, lanjut Ahmad, sebenarnya perlu ada semacam strategi pengajaran atau pemilihan waktu yang tepat untuk melaksanakan perkuliahan.
“Waktu mengantuk itu biasanya terjadi antara pukul 09.00 – 12.00 WIB, maka dari itu, waktu-waktu tersebut kurang efektif untuk melakukan proses belajar mengajar. Yang pasti, jika dipaksakan, maka yang terjadi ya kesia-siaan saja, karena otak tidak akan bisa bekerja optimal saat mata mengantuk. Hal ini dikarenakan darah dan oksigen berkonsentrasi memecah cadangan makanan, jadi agar efektif, cari waktu yang tepat, misalnya setelah Salat Zuhur atau mungkin saat pagi hari, di mana tubuh masih fresh,” ujarnya. (dwi/danie/titis)

berbagi di Facebook :
Share
berbagi di Twitter :
berbagi di Google + :