Senin, 13/02/2012
PT JOGLOSEMAR PRIMA MEDIA | Jalan Setia Budi No. 89 Gilingan, Banjarsari, Surakarta | Telp. 0271-717141, 0271-720496 dan 0271-741926 | Fax. 0271-741696 | website : www.harianjoglosemar.com | email : redaksi@harianjoglosemar.com
<div style="background-color: none transparent;"><a href="http://www.rsspump.com/?web_widget/rss_ticker/news_widget" title="News Widget">News Widget</a></div> <div style="background-color: none transparent;"><a href="http://www.rsspump.com/?web_widget/rss_ticker/news_widget" title="News Widget">News Widget</a></div> <div style="background-color: none transparent;"><a href="http://www.rsspump.com/?web_widget/rss_ticker/news_widget" title="News Widget">News Widget</a></div>

Rahasia Lebah Penghasil Antibiotik Canggih

Minggu, 07/03/2010 09:00 WIB - Muhaimin

 Jika ada makhluk kecil jenius, yang mungkin saja mengalahkan kehebatan manusia dalam menciptakan zat antibiotik, dialah lebah atau tawon. Bayangkan saja, sebelum Alexander Fleming menemukan Penisilin, jutaan tahun sebelumnya lebah sudah menggunakannya.
Ya, Penisillin-lah, rahasia zat imun, pembunuh bakteri berbahaya yang dihasilkan lebah selain madu yang selama ini kita manfaatkan. Rahasia zat Pensilin yang digunakan lebah, terungkap ketika lebah selama ini sukses melindungi larvanya dari infeksi.
Seperti dilansir dailymail.co.uk, lebah atau tawon masuk dalam keluarga Philanthus yang juga dikenal sebagai ”beewolves”. Hewan jenius ini, dengan cerdiknya telah memanfaatkan bakteri menguntungkan dalam pembuatan ramuan obat berupa Penisilin untuk menangkal infeksi.
Penggunaan antibiotik berupa Penisilin, sudah diklaim ditemukan oleh Alexander Fleming pada tahun 1928. Fleming menemukan adanya zat Pensilin ketika meneliti proses jamur hijau yang mampu membunuh bakteri.
Padahal, jauh sebelum penemuan menggemparkan itu, lapisan kepompong lebah Philanthus telah lebih dulu menghasilkan antibiotik untuk melawan mikroba berbahaya. Dengan fakta ini, temuan Fleming bisa saja terbantahkan sebagai ilmuwan pertama yang mengklaim menemukan zat Penicilin.
Kejeniusan lebah, bukan hanya berhasil memanfaatkan Penisilin, namun juga berhasil mengkombinasikan beragam obat untuk melawan organisme musuhnya. Rahasia kehebatan lebah ini saat ini tengah dipelajari para ilmuwan.
Hasil penelitian dari para peneliti Jerman pekan lalu, misalnya berhasil menemukan kehebatan lebah yang bekerja sama dengan bakteri jenis Streptomyces dalam hubungan simbiosis yang menguntungkan kedua spesies. Dalam simbiosis ini, lebah menghasilkan sembilan ramuan antibiotika berbeda yang efektif terhadap berbagai bakteri dan jamur.
”Suatu perawatan yang dikombinasikan dengan streptochlorin dan delapan piericidines yang berbeda, kita bisa mengisolasikan kepompong lebah untuk menangkis mikroorganisme berbahaya,” kata Johannes Kroiss, peneliti ekologi dan kimia dari Max Planck Institut.
”Mereka (lebah) sudah berjuta-juta tahun yang lalu, bersimbiosis untuk menghasilkan obat bagi ilmu kedokteran, sebagai pelindung dari penyakit komplikasi,” imbuhnya.
Martin Kaltenpoth, pemimpin riset dari Max Planck menambahkan, kemampuan lebah bersimbiosis dengan bakteri merupakan kehebatan lebah dibandingkan dengan hewan yang lain. ”Kemampuan bersimbiosis ini telah mendorong ke arah penemuan obat dan racun untuk dunia medis bagi manusia,” kata Martin.
Manfaat Penisilin
Apa sebenarnya pensilin dan manfaatnya? Dikutip dari wikipedia.org, Penisilin atau PCN adalah sebuah kelompok antibiotik jenis ?-laktam yang digunakan dalam penyembuhan penyakit infeksi karena bakteri, yang biasanya berjenis Gram positif.
Sebutan "Penisilin" juga dapat digunakan untuk menyebut anggota spesifik dari kelompok Penisilin. Semua Penisilin memiliki dasar rangka Penam, yang memiliki rumus molekul R-C9H11N2O4S, di mana R adalah rangka samping yang beragam.
Alexander Fleming, ilmuwan Skotlandia, pada 1928, mengklain telah mencatat efek antibakteri dari Penisilin, meski memang para ilmuwan lain juga telah menemukan indikasi yang serupa.
Fleming, dalam laboratoriumnya di Rumah Sakit Santa Maria (sekarang jadi salah satu rumah sakit pendidikan di London), mencatat adanya lingkaran hambatan pada pertumbuhan bakteri di piringan kultur Staphylococcus. Fleming menyimpulkan bahwa hambatan itu dikarenakan sebuah subtansi penghambat pertumbuhan dan menghancurkan bakteri. Ia kemudian menumbuhkan sebuah kultur murni dan menemukan Penicillium yang kemudian dikenal sebagai Penicillium chrysogenum. Fleming memberikan istilah "Penisilin" untuk menggambarkan hasil filtrasi dari kultur mikrobiologi Penicillium.
Walaupun di tahapan awal ini, Penisilin ditemukan efektif melawan bakteri Gram positif dan tidak efektif pada Gram negatif dan jamur. Fleming optimis bahwa Penisilin akan menjadi disinfektan yang sangat berguna, berpotensi tinggi dengan tingkat keracunan yang rendah dibandingkan antiseptik masa itu.
Pembunuh Bakteri
Pada percobaan berikutnya, Fleming menyadari bahwa penisilin tidak akan bertahan lama di tubuh manusia untuk membunuh bakteri patogen. Ia menghentikan penelitiannya mengenai Penisilin setelah 1931, namun mencoba memulainya lagi pada 1934.
Kemudian pada 1939, ilmuwan Australia, Howard Walter Florey dan sebuah tim peneliti di Universitas Oxford membuat sebuah kemajuan yang berarti dalam menunjukkan aksi bakterisidal secara in vivo dari Penisilin. Mereka gagal dalam percobaan karena ketidakcukupan Penisilin, namun berhasil dibuktikan bahwa Penisilin tidak berbahaya dan bekerja pada tikus. Beberapa percobaan Penisilin dilakukan di Oxford. Pada 1942, John Bumstead dan Orvan Hess menjadi ahli yang pertama berhasil menyembuhkan pasiennya dengan Penisilin.
Struktur kimiawi penisilin diketahui oleh Dorothy Crowfoot Hodgkin pada awal 1940-an. Penemuan ini menjdikan penisilin dapat dibuat secara sintetik. Sebuah tim dari Oxford menemukan metode produksi massal Penisilin. Tim yang dipimpin Howard Walter Florey itu mendapatkan Hadiah Nobel dalam bidang Kedokteran atau Fisiologi pada 1945. Saat itu, Penisilin menjadi antibiotik yang banyak digunakan dan masih digunakan untuk beberapa infeksi bakteri Gram positif. (Muhaimin)
 

berbagi di Facebook :
Share
berbagi di Twitter :
berbagi di Google + :