Raja Kediri yang gagah nan bijaksana, Prabu Kertajaya atau terkenal dengan julukan Dandanggendis terlihat bermuram durja. Penyebabnya dalam beberapa malam terakhir, Dandanggendis merasa mendapat teror mimpi buruk yang saling berkesinambungan, mulai dari robohnya gapura kerajaan hingga tumbangnya beringin kembar di alun-alun. Akibatnya kinerja pemerintahan Kediri pun menjadi kacau karena Kertajaya lebih memilih menghabiskan waktunya dengan termenung di dalam biliknya, daripada menjalankan tugasnya sebagai raja. Dampaknya, rakyat kelaparan, dan kekacauan terjadi di mana-mana.
Situasi itu, dimanfaatkan Ken Arok, raja bawahan dari Kadipaten Tumapel untuk melakukan pemberontakan terhadap Kediri. Dia menyatakan jika sudah tak lagi sudi menjadi bagian dari Kediri, dan memilih mendirikan kerajaan sendiri bernama Singosari. Ken Arok pun memerintahkan Senopati Singo Yuda memimpin kekuatan pasukan segelar sepapan, untuk menggempur pilar Kediri. Pertempuran dahsyat tidak lagi terhindarkan dan Dandanggendis akhirnya terdesak keluar keraton dan melarikan diri ke arah selatan Kediri.
Semangat Pelajar
Di tengah pelariannya, dia mendapat petunjuk, bahwa yang mampu menyelamatkannya adalah Ni Dewi Sulastri, seorang pertapa wanita dari daerah Lawadan. Dengan susah payah, dan melalui berbagai rintangan berat, Prabu Kertajaya akhirnya berjumpa dengan Sulastri. Uniknya dalam menolong sang raja, Sulastri tidak menggunakan ilmu kesaktiannya, maupun mengimbangi kekuatan Singosari dengan pasukan perang. Putri Lawadan itu memilih dengan teknik penyadaran akan hakikat kasih sayang dalam kehidupan, kepada seluruh bala tentara Singosari. Taktik itu manjur, dan senopati Singo Yuda akhirnya menarik seluruh pasukannya dan berhenti mengejar Kertajaya. Merasa gembira karena mendapat pertolongan agung dari Tuhan melalui perantara Sulastri, maka Dandanggendis akhirnya menamakan daerah Lawadan dengan sebutan Tulungagung, seperti nama yang ada hingga sekarang.
Itulah penggalan singkat pertunjukkan ketoprak dengan Lakon Putri Lawadan dalam gelaran pembukaan Festival Ketoprak Remaja (FKR), yang ditampilkan grup ketoprak Condro Mowo Budaya dari SMKN 1 Tulungagung, di teater besar ISI Solo, Kamis (22/7) malam lalu. FKR sendiri digelar selama tiga malam berturut-turut hingga Sabtu (24/7) kemarin, dan diikuti oleh enam grup ketoprak remaja dari Jawa Tengah, dan Jawa Timur.
Ditemui setelah pementasan, dedengkot ketoprak Solo, Gigok Anurogo mengatakan meski kadangkala terlihat kaku dalam berbahasa Jawa halus, namun semangat dan kemampuan akting para pelajar itu pantas diacungi jempol. ”Ini fenomena langka, dan cukup menggembirakan untuk perkembangan seni ketoprak yang sekarang makin terpinggirkan,”ujarnya.l Deniawan Tommy Chandra Wijaya
| berbagi di Facebook : Share |
|
| berbagi di Twitter : Tweet |
berbagi di Google + : |







