Melakukan publikasi sebenarnya bukanlah perkara mudah, meski sebenarnya tak terlalu sulit dan kompleks juga. Namun, kondisi sering membuat mereka yang berniat melakukan publikasi terlena, hingga melakukan bias publikasi.
Hal yang justru bisa membawa orang seakan kehilangan arah, apakah dia tengah melakukan publikasi atau bukan. Atau lebih parah lagi, apabila tak disadari oleh si pelaku publikasi, publikasi jenis apakah yang sedang dibangunnya, positif atau negatifkah, tepatkah atau melencengkah dari sasaran yang dikehendaki.
Meski sampai saat ini masih sering diperdebatkan skala kepentingan dalam melakukan publikasi, tetap tak dapat dimungkiri bahwa publikasi adalah kata kunci di era bebas batas saat ini. Belakangan ini publikasi bahkan menjadi semakin penting karena merambah banyak hal—bukan sekadar produk atau pencitraan lembaga, melainkan pencitraan pribadi.
Dalam konteks terkini, publikasi bahkan tidak semata dilakukan melalui media klasik yang ada. Dikenal kini istilah era Web 2.0. Menggambarkan di mana sesungguhnya kita berada pada situasi publikasi bukan lagi hal yang dapat dikontrol begitu saja. Konteks di atas bisa ditarik membumi dengan melihat kondisi aktual akhir-akhir ini.
Paling dekat dan muncul sehari-hari model publikasi yang merujuk sikap dan tingkah laku elite politik negeri ini. Mungkin ada niat, ada maksud, ada hasrat untuk mendekatkan diri pada massa, rakyat, atau konstituennya, maka mereka mengambil sejumlah aksi yang diharapkan mengena. Kenyataannya malah jauh dari asyik dilihat dari sudut pandang masyarakat yang menjadi sasaran tersebut.
Kasus yang terasa cukup aktual dibahas adalah pada ajang Festival Java Jazz yang super crowded di pertunjukan hari kedua itu. Di media cetak mungkin tak ramai dibicarakan, namun di media virtual ini jadi pokok bahasan awet sampai beberapa waktu seusai pergelaran musik tiga hari itu. Dipersempit saja kasusnya pada beberapa area yang tiba-tiba disterilkan pada saat massa berada di puncak ramai berkerumunan lantaran ada elite politik datang menonton.
Arena pertunjukan musik dijaga ketat dan kesan disterilkan ini sudah terasa sejak masuk ke lapangan parkir, musala, dan gerbang. Banyak tentara berjaga-jaga, belum lagi para petugas keamanan tertutup, yakni mereka yang bertugas tanpa kostum mencolok, tampak di mana-mana. Layout Java Jazz sendiri kebetulan sudah bikin pusing, signage yang ada juga tak terlalu membantu pengunjung untuk segera menemukan panggung yang dituju; ditambah pula jumlah pengunjung yang melonjak luar biasa.
Belum sempat dikonfirmasi kepada panitia, tapi rasanya ada ratusan ribu pengunjung. Bayangkan dalam situasi demikian, pengunjung dibuat seperti orang linglung, masih pula mereka dibatasi ruang geraknya demi keamanan dan keselamatan elite politik yang ikut datang menonton. Sampai akhirnya tumpukan pengunjung dibiarkan saja di pelataran. Mereka gagal menonton Diane Warrens karena wilayah steril sudah overload. Demikian jawaban petugas saat diprotes.
Publikasi Gratis
Publikasi apakah yang hendak dicapai oleh si elite politik? Dugaan saya, paling tidak tujuannya adalah hendak mendekatkan diri kepada rakyat, bahwa dia adalah sosok manusia biasa yang gemar musik, termasuk jazz. Maka berhak mendapat peluang dan kesempatan menikmati musik tersebut sama seperti rakyat pada umumnya. Bila maksud ini tercapai, maka publikasi gratis yang didapat dari premis-premis tersebut adalah ”pemimpin manusiawi yang dekat dengan rakyat; berbudi halus karena gemar menikmati musik-musik berkelas.”
Namun sesungguhnya ada faktor lain yang entah dilupakan atau pura-pura dilupakan, padahal harus diperhitungkan. Karena ternyata faktor ini muncul nyata sebagai “pembeda” kelas yang alih-alih mendatangkan simpati, justru menjauhkan dari rasa simpati tersebut. Sebut saja antara lain pengunjung umum datang dengan tiket di tangan yang sebagiannya memperjuangkan tiket tersebut melalui upaya keras.
Baik menabung, menyisihkan uang sedikit demi sedikit, bahkan berutang dulu yang penting tiket terbeli. Kalau tak beruntung mendapat early bird price, maka harga tiket mereka praktis di atas setengah juta rupiah. Bukan jumlah yang sedikit. Lantas mereka berjuang menembus macet berjam-jam, bahkan hingga di lapangan parkir demi menuju lokasi pertunjukan.
Di dalam area festival mereka seakan harus pasrah terima nasib: menjadi seperti cendol yang ditumpahkan begitu saja ke dalam panci. Terserah mau terlempar ke kiri panci, ke kanan panci, ke bawah panci, atau mumbul di permukaan panci. Bayangkan perjuangan psikologis yang harus diatasi demi masuk dan menyaksikan musisi kesayangan.
Lalu pada saat bersamaan, ketika tekanan psikologis mencapai puncaknya, ada situasi berbeda yang ditunjukkan secara nyata di depan mata: privilese yang luar biasa. Menyandingkan privilese tersebut dengan si cendol adalah gambaran tidak enak yang harus diceritakan di sini. Maka, coba pikir, dari mana unsur simpati akan bisa ditumbuhkan? Bukan bermaksud menyalahkan, melainkan mencoba mengajak berpikir jauh sebelum bertindak, kepada para elite politik.
Harus mulai disadari bahwa publikasi gratis ibarat mata pisau dua sisi. Ia bisa positif, bisa pula negatif. Bisa dalam versi sofa. sehingga tidak terasa; bisa juga dalam versi ekstrem sehingga membekas di benak para target. Bila bekas yang tertinggal itu berupa kenangan manis bagus sekali, tapi bila berupa sayatan luka ya susah juga ya.
Membangun publikasi simpatik kadang kala memang sulit. Apalagi bila angle yang diambil cenderung dari sudut pandang satu pihak. Bukan angle dari pihak pemangku kepentingan lainnya atau angle mereka yang berada di kutub berbeda. Kebijakan memahami angle menjadi hal penting yang harus dimiliki oleh para elite politik. Atau paling tidak para penasihat elite politik tersebut.
Pendekatan publikasi hendaknya diambil dengan memperhitungkan unsur psikologis dan kultur massa yang hendak didatangi. Dalam konsep public relations, publikasi gratis terutama dari angle positif adalah benda langka yang mendapatkannya pun kadang-kadang masih untung-untungan, meski semua faktor rasional sudah dipertimbangkan.
Mau tutup mata berapa lama kita semua ini? Mudah-mudahan dapat dipikirkan secara lebih jernih dan rasional, sehingga publikasi-publikasi salah arah tak bertumpuk menjadi kerak yang mengikisnya saja sudah sulit bila menunggu kelak. (oke)
Praktisi PR dan penulis sejumlah buku tokoh-tokoh penting
| berbagi di Facebook : Share |
|
| berbagi di Twitter : Tweet |
berbagi di Google + : |




