Jumat, 25/05/2012
PT JOGLOSEMAR PRIMA MEDIA | Jalan Setia Budi No. 89 Gilingan, Banjarsari, Surakarta | Telp. 0271-717141, 0271-720496 dan 0271-741926 | Fax. 0271-741696 | website : www.harianjoglosemar.com | email : harianjoglosemar@gmail.com

Promo Turunkan Tarif Rugikan Hotel Kecil

Sabtu, 20/03/2010 09:00 WIB - Rachmadhani Fitriastuti

Selama ini Solo selalu digadang-gadang sebagai Kota Budaya yang menawarkan banyak objek untuk dikunjungi para wisatawan baik domestik maupun mancanegara. Namun sayangnya potensi ini belum bisa memberikan kontribusi maksimal terhadap dunia perhotelan yang ada di Solo.
Biro Humas dan Promosi Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Solo, Bambang Gunadi, menuturkan setidaknya ada 17 hotel berbintang dan 100 hotel melati. Ini membuat jumlah penawaran yang ada jauh lebih tinggi dibandingakan jumlah permintaannya.
Hal itu mengakibatkan kompetisi antarhotel di Kota Solo menjadi tidak sehat. Khususnya di awal tahun yang acap kali menjadi momok buruk para pelaku bisnis perhotelan karena merupakan masa sepi tamu atau low season. Kondisi yang demikian menyebabkan hotel  khususnya hotel berbintang yang ada di Kota Solo harus gencar melakukan promosi.
Namun sayangnya, hotel berbintang ini kebanyakan melakukan promosi dengan cara menurunkan tarif kamar atau menawarkan program paket kamar dengan harga sangat murah. Sadar atau tidak sadar, sengaja atau tidak sengaja penurunan harga ini sangat merugikan hotel-hotel yang ada di bawahnya mulai dari bintang dua dan tiga hingga hotel kelas melati.
Menurut Bambang, seharusnya hotel berbintang empat dan lima memasang tarif Seharusnya Rp 500.000 hingga Rp 800.000, tapi kemudian turun menjadi Rp 400.000 hingga Rp 600.000. Dengan begitu, tarif hotel bintang dua dan bintang tiga yang rata-rata bertarif Rp 300.000 hingga Rp 500.000 menjadi kalah bersaing.
“Ini memang sudah biasa terjadi apalagi di awal-awal tahun seperti ini yang merupakan low season. Semua berusaha melakukan segala cara untuk menarik tamu sebanyak-banyaknya. Kita pun tidak bisa memberikan sanksi kepada mereka karena tidak ada aturan hukumnya,” tutur Bambang saat ditemui Joglosemar, Jumat (5/3).
Turun Harga
Ditambahkannya, penurunan tarif ini sebenarnya merupakan kerugian bagi para hotel bintang empat dan lima sendiri. Karena saat akan menaikkan harga kembali mereka sedikit banyak pasti akan mendapat komplain dari para tamu. Selain itu dengan tarif yang lebih murah mereka tetap harus membayar biaya operasional yang cukup tinggi, karena penurunan harga tidak sebanding dengan okupansi yang bisa diraih.
“Selain itu ini juga bukan hal yang mendidik bagi para customer. Karena tanpa mereka sadari dengan penurunan tarif ini ada beberapa fasilitas yang dihilangkan. Seperti misalnya sarapan pagi yang tidak sesuai standar hotel berbintang, pasta gigi yang seharusnya ada dua cuma ada satu, atau yang harusnya dapat sandal jadinya tidak,” paparnya.
Hal senada juga disampaikan Sales Executive and PR Hotel Baron Indah, Reny Listiana. Menurutnya perang tarif yang terjadi selama ini cukup merugikan hotelnya yang termasuk hotel bintang dua. “Dengan diturunkannya tarif hotel bintang empat dan lima itu berarti mereka juga membidik segmen yang seharusnya bukan miliknya. Apalagi sekarang juga bermunculan hotel baru, jadi persaingannya juga semakin ketat,” ujarnya.
Ditambahkan pula bahwa, tidak hanya hotel bintang empat dan lima yang menurunkan harga, sejumlah hotel bintang tiga dan dua pun ikut-ikutan melakukan hal serupa demi tidak kehilangan tamu hotel. Namun hal tersebut tidak lantas membuat Hotel Baron Indah untuk latah ikut menurunkan tarif. (Rachmadhani Fitriastuti)

berbagi di Facebook :
Share
berbagi di Twitter :
berbagi di Google + :