Ancaman krisis listrik terus menghantui manusia. Namun, banyak energi lain yang bisa menjadi solusi krisis listrik tersebut. Di beberapa negara, kekuatan angin sudah dimanfaatkan untuk menghasilkan litrik.
Salah satu negara yang memanfaatkan angin untuk menghasilkan listrik adalah Mesir. Bahkan, komitmen Mesir tersebut didukung oleh Jepang. Belum lama ini, Perdana Menteri Jepang, Yukio Hatoyama berkomitmen membantu negara-negara berkembang untuk mengurangi emisi gas rumah kaca.
Komitmen itu dibuktikan dengan penandatanganan Duta Besar Jepang untuk Mesir Kaoru Ishikawa dan Menteri Kerja Sama internasional Mesir Fayza Abul-Naga di Kairo seperti dilansir liputan6.com dari NHK, Selasa (16/3) pekan lalu.
Pemerintah Jepang akan memberikan kontribusi sekitar 430 juta dolar AS untuk membantu membangun fasilitas pembangkit tenaga angin skala besar di sepanjang pantai Laut Merah. Kontribusi Jepang akan mencakup pembangunan pembangkit listrik angin. Ini akan menghasilkan seperempat fasilitas dari total output. Ketika selesai, fasilitas ini akan menghasilkan listrik sekitar 940 megawatt. Produksi listrik itu cukup memenuhi kebutuhan sekitar satu juta rumah tangga. Ini akan menjadi yang terbesar di dunia dalam hal output.
Selain fasilitas, pemerintah Mesir merencanakan meningkatkan generasi tenaga angin lebih lanjut. Pada 2020, Mesir berharap 12 persen dari kebutuhan listrik nasional tercukupi dari tenaga angin. Untuk itu, selama lima tahun, paling tidak 100 generator listrik bertenaga angin akan dibangun di sepanjang Laut Merah. Tentunya, dengan bantuan Jepang.
Sementara di Indonesia tak kalah ketinggalan. Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) juga mengembangkan pembangkit listrik dari tenaga panas bumi, meski baru dalam skala kecil. ”Pada rencana tahun 2010-2014 ada dua kegiatan utama pengembangan pembangkit ini,” kata Arya Rezavidi, Direktur Pusat Teknologi Konversi dan Konservasi BPPT, Senin (15/3) pekan lalu, seperti dikutip tempointeraktif.com.
Pertama, pengembangan pembangkit binary cycle dengan kapasitas 1 MW melalui tahapan prototipe 2 KW dan pilot project 100 KW. Kedua, pengembangan pembangkit teknologi condensing turbine dengan kapasitas 2-5 MW.
Menurut Arya, BPPT telah merancang-bangun dan menguji prototype pembangkit listrik tenaga panas bumi (PLTP) binary cycle dengan kapasitas 2 KW. Mereka menggunakan fluida hidrokarbon sebagai fluida kerjanya. Seluruh sistem dan komponen utama seperti turbin, evaporator, kondenser dan sistem kontrol dirancang dan dibuat sendiri oleh Tim Panas Bumi BPPT. (Muhaimin)
| berbagi di Facebook : Share |
|
| berbagi di Twitter : Tweet |
berbagi di Google + : |




