Rabu, 10/03/2010

Presiden Cadel

Minggu, 07/02/2010 11:00 WIB - Tri Hatmodjo

Kembang Jepun adalah sebuah negeri opera berwajah mistis yang sarat dengan intrik. Sikap pemimpinnya yang serba ragu, tanggung bin sensitif acap memantik keonaran dan kegaduhan nasional. Walau demikian, dalam rentang lima tahun kepemimpinannya, rakyat Kembang Jepun tetap menaruh kepercayaan tinggi kepada Sang Presiden, Sutikno Bimbang Yogakpopo.
Tempaan hidup yang dilakoni telah menjadikan Sutikno sebagai pribadi yang kontroversial. Sebuah insiden kecil saat ia duduk di bangku SD Negeri Sukolilo, secara tak sengaja mengubah jalan hidupnya hingga memuncaki singgasana kekuasaan.
Kala itu, guru kelas di mana Sutikno menuntut ilmu menanyakan perihal cita-cita kepada anak didiknya. Jawaban sang bocah pun beragam. Ada yang ingin menjadi dokter, insinyur, pilot, petani hingga wirausahawan.
Berbeda halnya dengan Sutikno. Lelaki asal Dusun Klampis Ngasem ini dengan lantang berseru, “Saya ingin jadi Plesiden, Pak.” Suasana kelas yang tadinya hening sontak membuncah oleh deru tawa murid-murid dan sang guru. Lafal cedal Sutikno lah yang membuat seisi ruangan terpingkal.
Mulai hari itu, Sutikno kerap menjadi bahan olokan teman-temannya. Merasa harga dirinya terinjak-injak, Sutikno pun gusar bin gundah gulana. Sepanjang waktu ia berlatih mengucap konsonan “R” agar fasih melafalkan kata “Presiden”. Sampai pada akhirnya sewaktu kawannya melontarkan ejekan serupa ihwal cita-cita, Sutikno bergegas menyahut dengan penuh keyakinan, “Saya akan jadi Presiden!” Perkataan Sutikno tersebut spontan membuat mulut teman-temannya terkatup rapat.
Namun begitu, sindrom huruf “R” tak urung menjadikan Sutikno lebih bersikap hati-hati. Pun, pada saat Pemilihan Presiden lima tahun silam, Sutikno menggamit Ucup Kelik sebagai wakilnya dengan alasan sederhana, nama Ucup mudah diucap. Sayangnya kongsi Sutikno-Ucup ini pecah. Walhasil, pada periode berikutnya, Sutikno musti mencari sosok pendamping baru. Partner baiknya, Partai Dokar lantas menyodorkan satu nama: Abunawas Bakrie. Mendengar nama kandidat yang diajukan Partai Dokar, dahi Sutikno berkernyit. Dengan santun ia pun berucap, “Beliau memang hebat, tapi maaf nggak kompatibel kayaknya.”
Mengetahui jago Partai Dokar rontok, Partai Kampiun Sejati alias Pake Es, yang juga mitra koalisi Sutikno, bertindak sigap. Diulurkanlah nama Widayat Nur Wahid, dengan harapan bisa memenangi kontes Kembang Jepun Idol Jilid II. Setali tiga uang, nama Widayat Nur Wahid tidak membikin Sutikno kesengsem. “Beliau sungguh cendekia, lagi saleh. Tapi maaf, agak nggak matching,” begitu Sutikno berdalih.
Melihat sikap Sutikno yang masygul, sang istri pun bertanya. “Gimana sih Pak, masak semua nggak ada yang cocok?” Sutikno menghela nafas sebentar, kemudian perlahan berujar, “Begini Bune, masalahnya dua nama itu susah dilafalkan.” Mendengar jawaban sang suami, Ibu Negara tersenyum simpul seolah memahami sindrom huruf “R” yang diidap Presiden.
Beruntung situasi tesebut tidak berlangsung lama. Nama Boedi Anduk tiba-tiba menyeruak ke permukaan. Tanpa halangan berarti pasangan Sutikno-Boedi Anduk didaulat untuk mengemban amanat rakyat Kembang Jepun.
Seiiring waktu, pemerintahan Sutikno-Boedi Anduk digoyang mosi tidak percaya dari para wakil rakyat. Kinerja 100 hari kabinetnya dianggap gagal total. Walhasil, demo ketidakpuasan berlangsung di mana-mana. Tuntutannya cuma satu, impeachment alias pemakzulan!
Awalnya, Sutikno mampu menahan diri. Namun aksi unjuk rasa 28 Januari membuatnya kalut. (***)