JAKARTA (Joglosemar): Presiden Susilo Bambang Yudhoyono meminta pelaku pendidikan nasional agar mereformasi metode belajar mengajarnya untuk menghasilkan anak didik berjiwa kewirausahaan guna memajukan pembangunan Indonesia di masa datang.
Saat membuka Temu Nasional atau National Summit 2009 di Jakarta, Presiden mengatakan ada tiga hal penting yang dikategorikan sebagai strategi utama agar Indonesia dalam lima tahun mendatang tidak sekadar bertumbuh, yakni adanya pemberdayaan masyarakat, kewirausahaan dan inovasi teknologi.
”Pemberdayaan masyarakat melalui program pro rakyat saya ingatkan hanya bersifat sementara, bantuan langsung tunai hanya bersifat subsidi,” kata Kepala Negara di Jakarta, Kamis (29/10).
Agar pertumbuhan terus berlanjut, kata Yudhoyono, maka tidak bisa dilakukan hanya dengan memberikan subsidi terus menerus.
”Perlu ada langkah lanjutan yakni adanya jiwa kewirausahaan,” ujarnya.
Jiwa Wirausaha
Kewirausahaan salah satunya bisa ditumbuhkan melalui metodologi pengajaran nasional. ”Saya minta Menteri Pendidikan Nasional untuk mengubah metodologi belajar mengajar yang ada selama ini. Di mana sejak taman kanak-kanak, sekolah dasar hingga menengah, jangan hanya gurunya yang aktif, tetapi harus mampu membuat siswanya aktif pula,” lanjut Presiden.
Dengan begitu, anak didik yang dihasilkan tidak sekadar menjadi pencari kerja tetapi juga mampu menciptakan lapangan kerja.
Dengan begitu, tingkat pengangguran dan kemiskinan dapat diturunkan secara signifikan.
Dalam kesempatan itu, SBY juga mengkritik metode pendidikan nasional yang tidak mendorong siswa untuk mengembangkan inovasi dan kreativitas sehingga sulit memunculkan para wirausaha maju.
”Saya ingatkan Mendiknas, coba sejak TK, SD, SMP, SMA itu metodologinya jangan guru aktif siswa pasif dan hanya sekadar mengejar ujian, rapor. Kalau itu, yang dipilih maka anak-anak bersekolah tidak berkembang kreativitasnya, inovasi, dan jiwa wirausahanya,” katanya.
Menurut dia, jiwa wirausaha atau enterpreneur penting untuk dipupuk sejak kecil, sehingga pendidikan nasional tidak hanya melahirkan para pencari kerja tetapi pencipta lapangan kerja.
”Ini perlu reformasi di bidang pendidikan nasional. Guru dan dosen harus diajak untuk bisa mengembangkan jiwa kewirausahaan, inovasi dan kreativitas,” katanya.
Dikatakan Presiden, jumlah wirausaha di Indonesia masih sangat sedikit bila dibandingkan dengan negara-negara lain seperti di Amerika dan Singapura.
Presiden dalam kesempatan itu juga menegaskan mengenai target pembangunan nasional yang harus pro growth, pro job, dan pro poor, yang bisa dicapai dengan pemberdayaan masyarakat, peningkatan kewirausahaan dan inovasi teknologi. (ant)
| berbagi di Facebook : Share |
|
| berbagi di Twitter : Tweet |
berbagi di Google + : |




