Pendidikan saat ini merupakan salah satu hal yang cukup mahal untuk dijangkau. Tidak bisa dimungkiri, saat ini pendidikan telah menjadi sebuah industri dan “komoditas”. Namun, kita juga tidak bisa menafikan jika biaya pendidikan yang mahal tidak terlepas atas berbagai kebutuhan penunjang pendidikan.
Pada pendidikan di Perguruan Tinggi, biaya yang bisa dikatakan sangat tinggi dan tidak akan dengan gampang dijangkau oleh mereka yang memiliki ekonomi menegah ke bawah, tak lepas atas adanya berbagai sarana pendukung seperti laboratorium dengan biaya praktikumnya yang tidak sedikit. Terutama untuk jurusan eksakta. Sebenarnya, mengapa biaya kuliah yang dilengkapi dengan berbagai praktikum bisa lebih tinggi? dan apa sebenarnya keuntungan yang bisa diperoleh oleh mahasiswa?
“Sebenarnya, munculnya biaya pendidikan yang mahal dikarenakan adanya sejumlah komponen, di antaranya fasilitas pendukung pendidikan seperti adanya praktikum yang akhirnya membutuhkan biaya yang mahal. Misalnya, jurusan kedokteran,” ungkap Dosen Histologi Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), dr Endang Widhiyastuti kepada Joglosemar, kemarin.
Endang menjelaskan, untuk Jurusan Kedokteran, mahalnya biaya praktikum juga dikarenakan mahalnya biaya perawatan alat yang digunakan untuk menunjang kegiatan praktikum mahasiswa. Apalagi, alat-alat tersebut berasal dari luar negeri.
“Yang pasti, semakin lengkap sarana penunjang perkuliahan, tentu biaya yang harus dikeluarkan oleh mahasiswa juga akan semakin tinggi. Namun, tentunya semua akan seimbang dengan hasilnya kelak,” imbuhnya.
Sementara itu, mahasiswa Jurusan S1 Farmasi Universitas Setia Budi (USB), Melisa Puspito Sari, menilai mahalnya biaya kuliah karena adanya praktikum penunjang merupakan hal yang wajar. Menurutnya, mahalnya biaya pendidikan akibat adanya praktikum harus mampu menjadi motivasi bagai mahasiswa untuk bersungguh-sungguh kuliah.
“Yang penting, seimbang fasilitasnya. Jadi uang yang dikeluarkan mahasiswa itu memang benar-benar bisa menunjang kompetensi mahasiswa,” ujarnya.
Terpisah, Mahasiswa Jurusan Pendidikan Dokter UMS, Herdy, mengungkapkan, mahalnya biaya praktikum cukup memberatkan mahasiswa. Menurutnya, perlu adanya semacam pembagian atau pengelompokan mahasiswa yang tidak mampu agar bisa membayar dengan lebih murah dan terjangkau.
“Biaya praktikum yang berkisar Rp 650.000-Rp 1.000.000 jelas beban yang cukup berat. Tapi, ya mau bagaimana lagi, itu sudah ketentuan. Yang penting, fasilitas untuk praktikum harus benar-benar memadai dan mampu menunjang skill mahasiswa,” katanya.
Sampai saat ini, memang belum ada perhatian yang khusus dari pemerintah untuk memberikan subsidi keringanan biaya untuk kegiatan praktikum mahasiswa. Direktorat Pendidikan Tinggi (Dikti) rutin mengadakan kegiatan hibah bantuan bagi universitas, namun dana hibah bantuan dari Dikti ini tidak dapat digunakan untuk perkembangan dan pembelian peralatan laboratorium yang digunakan untuk kegiatan praktik mahasiswa.
Selama ini biaya praktikum yang dibebankan mahasiswa. Semahal apa pun biaya praktikum yang harus dikeluarkan oleh mahasiswa, selama biaya itu adalah biaya yang sesuai dengan kebutuhan yang memang diperlukan oleh laboratorium hal itu tidak menjadi persoalan besar. Semua fasilitas itu nantinya akan kembali pada mahasiswa untuk memperlancar dan memudahkan mahasiswa menyerap ilmu pengetahuan dari kegiatan praktik di laboratorium. (Windy Anggraina)
| berbagi di Facebook : Share |
|
| berbagi di Twitter : Tweet |
berbagi di Google + : |







