Keberadaan poliklinik kesehatan di dalam kampus guna menunjang pelayanan kesehatan bagi mahasiswa, dosen atau karyawan, kiranya merupakan hal yang mutlak diperlukan. Namun, bagaimana kalau poliklinik hanya buka beberapa jam saja setiap harinya? Padahal, mahasiswa bisa kapan saja sakit saat di lingkungan kampus.
Bagaimana jadinya juga kalau setiap mahasiswa akan menggunakan poliklinik, mahasiswa harus terlebih dahulu ribet dengan berbagai birokrasi yang harus dilalui? Atau mungkin malah muncul permasalahan kelengkapan fasilitas, mulai dari obat hingga tenaga dokter dalam poliklinik sendiri? Apa kira-kira yang bisa menjadi solusi atas seabreg permasalahan tersebut?
Berdasarkan penelusuran dan informasi yang dikumpulkan di sejumlah universitas di wilayah Surakarta, seabreg permasalahan tersebut masih terjadi, seperti yang diungkapkan oleh petugas di poliklinik Universitas Slamet Riyadi (Unisri), D Slameto. Menurutnya, memang terdapat batasan waktu buka pada poliklinik kampus.
“Poliklinik memang hanya buka sekitar dua jam saja. Pukul 09.00 WIB – 11.00 WIB. Untuk fasilitas, juga memang belum cukup memadahi dan perlu penambahan. Tapi, untuk masalah obat-obatan, kita bekerja sama dengan Rumah Sakit besar di daerah Solo, jadi, obat-obatan di poliklinik selalu tercukupi,” terangnya.
Sementara itu, kurang efektifnya keberadaan poliklinik di kampus ternyata tidak sampai di situ saja, beberapa poliklinik ternyata juga membebani persyaratan biaya yang cukup mahal untuk para calon pengguna fasilitas kesehatan ini.
Mahasiswi Jurusan D3 Keperawatan PKU Muhammadiyah Surakarta, Dwi Sugiarti (20). Menurutnya, selama ini, mahasiswa masih diminta biaya saat berobat di poliklinik kampus. Biayanya pun menurutnya cukup lumayan.
“Mahasiswa memilih poliklinik kampus kan karena cepat pelayanannya dan biayanya tidak semahal kalau berobat ke dokter. Jadi, harusnya mahasiswa tidak ditarik biaya lagi setiap berobat. Pembiayaan kesehatan untuk di poliklinik sebaiknya diatur per semester saja. Tidak setiap mahasiswa berobat bayar,” katanya.
Pendapat serupa diungkapkan mahasiswa Jurusan Teknik Informatika, Universitas Surakarta (Unsa), Cahyotias (20). Menurutnya, kebijakan mengenai pendanaan kesehatan bagi mahasiswa dan keberadaan poliklinik perlu mendapatkan perhatian dan perlu di kaji ulang.
“Lebih baik untuk mahasiswa yang ingin mengakses fasilitas kesehatan di kampus tidak membayar. Tetapi, hanya sumbangan sukarela saja di waktu periksa supaya tidak memberatkan mahasiswa. Di samping biaya pendidikan yang sudah mahal, masih ditambah dana kesehatan yang mahal pula. Tapi yang pasti, keberadaan poliklinik itu sangat penting. Harusnya, semua kampus memiliki poliklinik,” katanya.
Keberadaan poliklinik sebenarnya dapat dioptimalkan sehingga dapat menjadi kontribusi keilmuan bagi masyarakat kampus. Karena poliklinik dapat dijadikan ajang media pembelajaran untuk mahasiswa dan wujud nyata Tri Dharma Perguruan Tinggi.
Seperti yang disampaikan Kepala Litbang dan Pengabdia Masyarakat, AKPER AKBID PKU Muhammadiyah Surakarta, Cemy Nur Fitria, SKep, Ns. Poliklinik kampus menurutnya selain dimanfaatkan oleh civitas akademika seharusnya juga di peruntukan untuk masyarakat sekitar. Sehingga dapat dibuat program-program pelayanan kesehatan. Dan pelayanan Poliklinik seharusnya tidak memungut biaya, namun hanya biaya obat.
“Dibukanya pelayanan poliklinik untuk masyarakat umum, selain melibatkan tenaga medis, dokter dan dosen. Keberadaan poliklinik yang dibuka untuk umum juga mampu memberikan pengetahuan secara riil kepada mahasiswa dalam hal pengabdian kepada masyarakat,” katanya.
Terpisah Albertus Donatus Nuho Komek (22), Mahasiswa Jurusan Pendidikan Bahasa Inggris Unisri, yang telah menjadi anggota Poliklinik di kampusnya mengungkapkan, Diperlukan adanya semacam sinergi positif antara biaya yang dikeluarkan mahasiswa dengan fasilitas yang diberikan poliklinik.
“Saya mendaftar anggota Poliklinik harus membayar uang sebesar Rp 5.000. Saya merasa itu terlalu kemahalan karena saya juga dipungut biaya Rp 50.000 untuk dana kesehatan per semesternya. Apalagi fasilitasnya juga belum begitu baik dan kadang obat-obatnya juga tidak lengkap. Ini jelas perlu adanya perbaikan,” katanya.
Permasalahan yang ada di poliklinik kampus memang menjadi polemik yang cukup menarik. Di satu sisi poliklinik kampus telah menjalankan fungsinya dengan maksimal. Namun, di sisi lain masih banyak masyarakat kampus yang belum dapat merasakan itu semua. (belinda/irwan)
| berbagi di Facebook : Share |
|
| berbagi di Twitter : Tweet |
berbagi di Google + : |




