BANGKOK—Perdana Menteri (PM) Thailand Abhisit Vejjajiva menyatakan, dirinya terbuka untuk melakukan negosiasi dengan kelompok pendukung PM terguling Thaksin Shinawatra. Pendukung Thaksin yang menyebut dirinya dengan kaus merah ini melakukan protes sejak pekan lalu.
Sebanyak 100.000 pendukung Thaksin yang melakukan unjuk rasa pada Minggu 14 Maret lalu, menuntut PM Abhisit untuk turun dari jabatannya. Mereka juga meminta parlemen untuk dibubarkan dan diadakannya pemilu dadakan.
Menanggapi tuntutan ini, PM Abhisit bersedia untuk melakukan negosiasi dengan para pendukung Thaksin Sinawatra itu. ”Jika demonstrasi tidak berlawanan hukum yang telah ditetapkan, pemerintah tidak berkeberatan untuk melakukan negosiasi dengan mereka (demonstran),” ungkap PM Abhisit Vejjajiva dalam konferensi pers yang disiarkan lewat televisi nasional.
”Pemerintah amat terbuka untuk menerima masukan positif. Saya bersedia untuk melakukan pembicaraan namun harus tetap berada dalam koridor hukum yang jelas,” tandas perdana menteri lulusan Universitas Oxford tersebut seperti dikutip AFP, Kamis (18/3).
Kesediaan PM yang meraih jabatannya pada 2006 ini membuka peluang perdamaian antara pemerintah dengan kelompok oposisi yang menginginkan mantan PM Thaksin Shinawatra untuk berkuasa kembali.
Sementara sejak protes besar-besaran yang berlangsung sejak pekan lalu, kerusuhan tidak tampak sedikit pun selama jalannya protes. Namun aksi protes ini disertai taktik mengejutkan yang menggunakan darah para pendukung Thaksin yang dilemparkan ke kediaman pribadi PM Abhisit serta kantornya. (oke)
| berbagi di Facebook : Share |
|
| berbagi di Twitter : Tweet |
berbagi di Google + : |




