Jumat, 25/05/2012
PT JOGLOSEMAR PRIMA MEDIA | Jalan Setia Budi No. 89 Gilingan, Banjarsari, Surakarta | Telp. 0271-717141, 0271-720496 dan 0271-741926 | Fax. 0271-741696 | website : www.harianjoglosemar.com | email : harianjoglosemar@gmail.com

Pilkada dan Partai Islam

Jumat, 26/03/2010 09:00 WIB -

Seperti menjadi kelaziman, setiap event demokrasi seperti Pilpres hingga Pilkada, agama seolah menjadi primadona untuk kendaraan politik. Tidak bisa dimungkiri, menjelang ajang Pilkada, setiap Parpol berbasis massa umat Islam serta berbagai komunitas umat muslim menjadi langganan untuk dirangkul.
Kondisi ini juga berlaku di ajang Pilkada Solo kali ini. Belum lama ini, Partai Amanat Nasional (PAN) Solo menjadi rebutan dua kandidat pasangan yang maju dalam Pilkada Solo, Jokowi-Rudy (Jo-Di) dan Eddy Wirabhumi-Supradi(Wi-Di). Persoalan sepele, yakni sikap mantan Ketua Umum PAN, Amien Rais yang mendukung Wi-Di. Padahal sikap PAN Solo sebelumnya sepakat mendukung pasangan Jo-Di.
Perebutan dukungan Partai Islam juga terjadi di Partai Keadilan Sejahtera (PKS). Di level atas, PKS sepakat mendukung Jo-Di termasuk pernyataan resmi mantan Presiden PKS, Hidayat Nur Wahid beberapa waktu lalu. Sayang, di level bawah mendadak ada massa PKS yang mendukug Wi-Di.
Bukan hanya Parpol Islam yang menjadi primadona dukungan masing-masing calon kandidat Pemimpin Solo. Ormas Islam juga tak luput dari lirikan para calon kandidat. Terbukti, para calon kandidat rajin lawatan ke berbagai organisasi Islam. Setidaknya ada PP Muhammadiyah, Nahdlatul Ulama (NU), dan Majelis Tafsir Alquran (MTA). Itu juga hal lumrah dan wajar dilakukan bagi masing-masing kubu calon kandidat, karena organisasi massa Islam memang mempunyai ciri unik, yakni takdim atau mengikuti apa yang difatwakan pimpinan organisasi.
Pemberian dukungan memang hak setiap organisasi mana pun, termasuk organisasi massa Islam. Yang disayangkan jika, dalam praktik dukung-mendukung salah satu calon kandidat menghalalkan segala cara, seperti isu money politic atau pemberian uang untuk jaminan dukungan. Praktik semacam itu tak ubahnya melacurkan organisasi yang mengatasnamakan salah satu umat dalam panggung politik.
Kita patut bangga, mendengar pernyataan setiap pimpinan Ormas Islam yang tetap netral meski menjadi sasaran lawatan salah satu calon kandidat. Sikap seperti itu pantas kita apresiasi sebagai sikap yang menjunjung demokrasi.
Kita juga berharap bagi masing-masing calon kandidat bisa fair dan bersikap dewasa dalam Pilkada Solo kali ini.
Sebab, kita menginginkan Pemimpin Solo yang bersih, pengabdi dan pelayan rakyat, untuk mewujudkan slogan Kota Solo Berseri ini. (***)

berbagi di Facebook :
Share
berbagi di Twitter :
berbagi di Google + :