Kota Kartasura memiliki peran yang penting bagi sejarah berdirinya kota Solo karena di kota inilah dulu terdapat Keraton Kartasura yang menjadi cikal bakal berdirinya Keraton Solo.
Bagi mereka yang belum pernah mengunjungi bangunan bersejarah ini mungkin akan berpikir menemui sebuah bangunan yang megah dan benar-benar bernuansa sejarah.
Kini yang tersisa dari bekas kediaman Sunan Hamangkurat II tersebut hanyalah bangunan benteng yang dulunya menjadi tameng bagi Keraton Kartasura dari serangan musuh. Bangunan utama, yakni Keraton, Gunung Kunci (taman kerajaan), Mesjid Agung, Gedong Obat (gudang mesiu), Tangsi Kompeni (barak militer), sudah diboyong ke Keraton Solo pada tahun 1745.
Kini tempat itu sudah berubah menjadi tempat pemakaman umum, sedangkan sumur taman hingga kini masih dipakai untuk mencuci dan memasak. Menurut juru kunci benteng Keraton Kartasura, Haris (66), tempat pemakaman umum itu kini sudah tertutup untuk pemakaman baru.
“Tempat pemakaman umum sudah ditutup sejak 21 Juni 2005 sesuai dengan perintah yang diturunkan oleh Keraton Surakarta. ,” terangnya.
Bagian keraton yang masih dapat dilihat sebagai bangunan bersejarah hanyalah benteng dan pemakaman keluarga kerajaan. Untuk benteng ada dua bagian, benteng luar dan dalam. Benteng luar bernama Benteng Baluwarti dan benteng dalam bernama Benteng Sri Manganti. Hanya Benteng Sri Manganti yang masih terlihat relatif utuh.
“Sedangkan Benteng Baluwarti kini hanya 100 meter saja yang tersisa. Itu pun sudah rusak parah dan sebagian besar areanya sudah berubah menjadi pemukiman penduduk,” tegasnya.
Benteng dengan tinggi kurang lebih tiga meter dan tebal satu setengah meter itu kini sudah tampak menua. Dari pengamatan Joglosemar kemarin, Selasa (27/10), hampir sekeliling benteng terdapat bagian yang sudah tidak utuh, karena runtuh dan mulai tumbuh rumput di atasnya.
“Perawatan untuk benteng biasanya hanya saya lakukan bersama dengan adik saya. Kami tidak mempunyai orang khusus untuk merawat peninggalan ini,” ujar Haris.
Jerih Payah
Untuk membiayai semua pekerjaan perawatan mereka hanya mengandalkan dari sumbangan sukarela para pengunjung. Kalau pun tidak cukup, terpaksa Haris harus merogoh kocek sendiri. Untuk jerih payah yang dilakukannya itu, pihak Keraton Solo memang memberikan gaji kepada Haris, meski sangat minim. “Gaji saya dari keraton hanya Rp 89.200 per bulan,” tegasnya.
Selain dari biaya pribadi, setiap bulannya ada bantuan dari Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala (BP3) Jawa Tengah. “Tiap bulannya Rp. 200.000, tapi tetap saja saya masih banyak tomboknya,” ujarnya.
Kondisi di bekas keraton itu kini sepi, kalau pun ada pengunjung biasanya tidak lama. Ada juga beberapa wisatawan asing yang datang, sementara untuk domestik biasanya berasal dari pelajar.
“Para pelajar biasanya datang bulan April dan Mei, untuk mengetahui sejarah petilasan ini,” ujarnya.
Pernah terbersit kabar, Pemkab Sukoharjo berencana merenovasi Benteng Kartasura, namun sampai kini tidak ada kejelasan. Bagian dalam kawasan benteng kini ditinggali oleh abdi dalem (Haris–red) dan sanak familinya. Mereka hidup berdampingan dengan Madrasah Diniyah dan Mesjid. (Eko Sudarsono)
| berbagi di Facebook : Share |
|
| berbagi di Twitter : Tweet |
berbagi di Google + : |




