Perempuan tua itu duduk melamun di teras depan tokonya. Sudah sebulan lebih dagangannya tak laku. Nasibnya begitu tergantung pada omzet dari penjualan perlengkapan kematian itu. Sepuluh tahun belakangan ini nasibnya tak semujur tahun-tahun sebelumnya. Kota kecil itu telah banyak berubah. Perubahan yang tak memihak kepadanya. Toko sederhana itu tergerus perlahan oleh kuatnya persaingan perdagangan. Meskipun toko itu adalah pioneer penjualan peralatan kematian. Namun usia tak menjaminnya untuk terus berkembang.
Sejak pemerintah daerah menetapkan kota kecil itu sebagai kota budaya. Berbondong-bondong serangan kapitalis menerjang kekuatan pribumi untuk bertahan hidup. Modal yang kuat dengan produk yang bervariasi hingga puluhan kali lipat menggeser kekuatan toko pribumi yang hanya bermodal asal jalan. Bangunan pertokoan megah dan promosi yang berada di luar jangkauan pribumi menjadikan usahanya semakin melemah dan menghilang.
Tak berbeda dengan nasib perempuan tua itu yang masih setia menunggu keajaiban agar bisa makan. Perutnya yang sudah keriput meremas-remas ke dalam isinya yang kosong. Perut itu bertahun-tahun diisi dengan santapan di luar ketentuan empat sehat lima sempurna. Tiap hari tenggakan karbohidrat untuk kepuasan kenyang mendramatisasi prosesi makan. Sajian air putih yang diharapkan menyegarkan semangatnya kembali pun menutup ritual itu.
Ia begitu setia pada dirinya sendiri. Hidup tanpa keluarga dan hanya sekadar menunggu berkah dari kematian orang lain. Sekali-kali angannya bertengger pada nikmatnya sate bakar yang dijual toko sebelahnya. Bukan sekadar menikmati jamuan sepiring nasi dengan kerupuk dan sambal sebagai simbol kenikmatan.
Mungkin sudah hampir satu tahun ia tak menikmati gigitan daging yang begitu lezat itu. Kerinduan pada kenikmatan itu sangat ia nikmati. Ia berharap seseorang membeli dagangannya. Hingga ia pun tak sekedar mencium bau harum dari warung sate bakar tetangganya itu.
Di sela lamunannya ia sempatkan untuk berdoa, ”Ya Tuhan. Kasihanilah hamba-Mu ini. Biarkan aku memakan makananan enak untuk hari ini. Berikan aku rezeki-Mu. Bukanlah aku menginginkan kematian orang lain. Tapi berlaku adillah Engkau pada hamba-Mu ini. Bukankah kematian itu proses kehidupan yang akan dijalani setiap insan. Dan bukankah kematian itu juga bagian dari rezeki-Mu. Tak banyak yang kuminta dari-Mu ya Tuhan. Aku hanya ingin seorang ke tokoku yang sudah lama tak laku ini.”
Satu jam setelah berdoa. Sebuah mobil pick up terbuka berwarna merah berhenti di depan tokonya. Seorang bapak muda memakai kacamata hitam tampak turun dari sisi kanan mobil. Pakaiannya serba hitam. Dapat dipastikan ia sedang mencari peralatan kematian. ”Ada yang bisa saya bantu Pak ?”, tanya perempuan tua itu.
”Ya. Saya sedang mencari perlengkapan kematian Bu. Tapi untuk bayi. Saudara saya baru saja keguguran saat melahirkan. Saya butuh peti mati ukuran bayi.”
Serentak perempuan tua itu terdiam. Rezeki yang ia tunggu akan segera meninggalkannya. Pasokan dagangan peti mati ukuran bayi sudah habis. Ia baru ingat dagangannya sudah lama tak ditambah, tak di-upgrade lagi.
”Maaf Pak, saya tidak punya. Dagangan yang Bapak maksudkan sudah habis terjual”
”Lalu ke mana saya harus mencari Bu ?”
”Perempatan itu belok kanan, terus lurus kira-kira tiga ratus meter. Bapak akan menemui toko bercat hijau, di depannya ada sederetan batu nisan. Di situ mungkin ada Pak”
”O, iya terima kasih Bu atas petunjuknya”
Laki-laki itu segera memohon diri. Tapi ketika ia hendak masuk ke dalam mobil. Perempuan tua itu memanggilnya kembali, ”Paaak”
”Ada apa Bu ?, tanya Bapak itu heran.
”Maaf Pak. Saya cuma berpesan. Lain kali kalau seandainya keluarga Bapak ada yang meninggal lagi. Jangan langsung ke toko sana ya Pak. Mampir dulu kemari. Siapa tahu saya punya yang Bapak cari.”
Laki-laki itu kaget dengan penuh kekesalan. Ia tampak agak tersinggung. Dihindarinya pandangan pada perempuan tua itu. Tanpa tersenyum lagi, ia melangkahkan kakinya ke dalam mobil dan tancap gas. ”Perempuan gila”, pikirnya dalam hati.
Kekecewaan perempuan tua itu semakin menjadi-jadi. Lamunannya pada sate bakar yang mengganggunya, secepat kilat sirna. Tampak wajahnya diselimuti kekecewaan yang luar biasa. Ia pun berdoa kembali kepada Tuhan yang ia yakini keberadaan-Nya.
”Ya Tuhanku. Kenapa Kau menggodaku dengan ketidakpastian ini. Aku hanya ingin barang daganganku terjual. Tapi kenapa Kau datangkan pembeli yang aku tak punya apa yang mereka cari. Tuhan. Aku butuh makan. Datangkanlah pembeli yang aku punya yang mereka cari.” Air matanya menetes di kedua pipinya. Diusapnya air mata itu dengan sebelah lengannya.
Keesokan harinya datanglah sebuah mobil pick up berwarna merah. Diparkirnya mobil itu di depan toko kecil itu. Seorang Bapak membuka pintu mobil bagian depan kanan. Dan ditutup kembali pintu mobil itu dengan keras agar mengunci.”Daar”. Beberapa orang yang duduk di bagian belakang mobil juga turun serempak, tanpa aba-aba.
Bapak itu menghampiri perempuan tua dan menanyakan apa yang ia cari.
”Permisi Bu, kami mencari sembilan peti mati ukuran dewasa dengan peralatan kematian lainnya.”
”Sembilaaaan ?”, tanya perempuan tua itu kaget.
”Kenapa Bu ?”
Perempuan tua itu pun terdiam
”Untuk apa sebanyak itu Pak ?”
”Begini Bu. Keluarga Pak Cie. Orang China yang beternak babi di kampung kami terkena flu babi. Sembilan orang dalam keluarga itu mati seketika. Yang tersisa tinggal anak bungsunya yang masih kuliah di Jogja. Tadi sempat diliput reporter TV. Nanti sore ibu lihat saja di TV.”
”Heleh, saya ini sudah tidak punya TV Pak. TV sudah saya gadaikan tiga bulan yang lalu hanya sekadar untuk makan. Sampai sekarang belum sempat menebusnya.”
”Ngomong-ngomong barangnya ada kan Bu ?”
”Lha itu masalahnya Pak. Barangnya tinggal enam. Bapak jadi membelikan?”
”Waduh Bu. Maaf. Saya tadi sudah di-peseni sama si bungsu kalau beli perlengkapan kematian harus satu toko. Biar seragam begitu.”
”Tapi Pak. Bapak bisa beli di sini keenamnya, lalu sisanya beli tiga di toko lain.”
”Tapi Bu. Saya hanya seorang pesuruh. Saya tidak berani melanggar perintah Bu. Ibu tahu sendiri kan orang China. Kalau tidak sesuai pesanan, pasti akan protes.”
”Ayolah Pak. Berbohonglah sedikit tidak apa-apa.”
”Jujur Bu, saya tidak berani. Orang China itu penuh perhitungan. Daripada nanti saya disuruh mengganti. Terlalu berisiko Bu. Maaf.”
”Saya perlu makan Pak. Dua hari ini saya belum makan. Uang di laci saya sudah habis. Sudah sebulan lebih dagangan saya tidak laku. Tolonglah saya Pak.”
”Maafkan saya Bu. Saya tidak dapat menolong. Saya ini hanya pesuruh. Hidup saya sama seperti Ibu. Saya mencari uang untuk sekadar menghidupi keluarga. Jangankan menabung. Membayar biaya sekolah anak saja saya mengutang.”
Ibu itu terdiam. Wajahnya tampak murung. Bapak sopir itu berpamitan dengannya. Tapi tak dibalasnya. Mesin mobil pick up itu segera dihidupkan. ”Greeeng,”. Pak sopir segera tancap gas dengan membunyikan klakson sebelumnya. Tapi mungkin perempuan itu tak mendengarnya. Telinganya telah diselimuti lamunan kesedihan.
Ia mematung beberapa saat. Air matanya menetes melambangkan kesedihan itu. Ia menengadahkan wajahnya ke langit.
”Ya Tuhan. Kenapa Kau mempermainkan aku. Bukankah doa orang yang menderita Kau kabulkan. Dua hari ini aku tak makan untuk mendapatkan belas kasihan-Mu. Aku telah prihatin, seperti ajaran-Mu. Aku ingin Engkau sekedar memandangku. Mengabulkan permohonanku. Tapi apa yang Kau beri ? Kau justru mengejekku dengan permainan ini. Apa salahku ya Tuhan?”, teriak perempuan tua itu.
”Sekali lagi Tuhan. Aku memohon kepada-Mu. Berikan aku rezeki dari sebuah kematian seseorang. Yang aku punya barang dagangan yang dimaksudkan. Dan ia memakai barang daganganku. Kabulkanlah permohonanku ini hingga aku benar-benar percaya akan keberadaan-Mu. Atau aku benar-benar menganggap-Mu tak ada”
Doa itu terlihat begitu tulus mengekspresikan suara hatinya.
Keesokan harinya. Kematian itu benar-benar terjadi. Salah satu peti mati di tokonya benar-benar terpakai. Namun uang dilaci itu tidak bertambah sepeser pun. Bagaimana pun juga itu adalah kematian yang diharapkan perempuan tua itu. Kematian atas dirinya sendiri yang tengah kelaparan.
Penulis adalah
penikmat sastra
Tinggal di Gondang RT 02/VIII, Karangbangun,
Matesih, Karanganyar
| berbagi di Facebook : Share |
|
| berbagi di Twitter : Tweet |
berbagi di Google + : |






