BOYOLALI—Petani tembakau lereng Merapi berbondong-bondong turun gunung untuk mengeringkan daun tembakau hasil panenan mereka. Tahun ini terhitung merupakan tahun terbaik petani tembakau di lereng Merapi, karena harga tembakau sudah mencapai Rp 100.000 per kilogram.
Para petani terpaksa turun gunung karena di atas sudah tidak ada tempat untuk menjemur daun tembakau mereka. Selain itu meskipun sudah musim kemarau, namun cuaca di atas masih sering mendung terutama di pagi hari.
“Di atas sudah tidak ada tempat lagi, ya terpaksa harus dibawa turun ke bawah,” tutur Suroso (32), petani tembakau warga Dukuh Petak, Desa Genting, Kecamatan Cepogo, Jumat (19/8).
Akibatnya, para petani tembakau pun memenuhi hampir seluruh lahan kosong yang ada di Kecamatan Boyolali Kota, Mojosongo, Teras, hingga Banyudono. Bahkan petani mulai bingung lantaran lahan kosong sudah habis sementara saat ini sudah memasuki musim panen raya tembakau.
Waluyo (20), petani tembakau warga Cepogo lainnya mengatatakan, untuk membawa turun hasil panenan mereka biasanya menyewa mobil pikap. Setidaknya dalam sehari mereka harus keluar ongkos Rp 200.000 untuk transportasi. Selain itu kadang mereka juga harus membayar pungutan untuk penggunaan lahan, seperti di lapangan milik desa.
“Ya bagaimana lagi, di atas sudah tidak ada tempat, di bawah sini saja sudah rebutan,” kata Waluyo.
Di sisi lain, petani tembakau lereng Merapi saat ini semakin bergembira lantaran harga tembakau semakin melambung. Jika tembakau kualitas terbaik Rp 100.000 per kilogram, maka kualitas biasa mencapai Rp 65.000 per kilogram.
Petani tembakau lereng Merapi patut bersyukur lantaran panen pertama pascaerupsi Merapi lalu menjadi sandaran utama hidup mereka. Selain itu, harga tembakau sempat anjlok beberapa tahun terakhir lantaran kondisi cuaca yang tidak menentu, dan hujan turun terus sepanjang tahun.
Ario Bhawono
| berbagi di Facebook : Share |
|
| berbagi di Twitter : Tweet |
berbagi di Google + : |




