Kamis, 24/05/2012
PT JOGLOSEMAR PRIMA MEDIA | Jalan Setia Budi No. 89 Gilingan, Banjarsari, Surakarta | Telp. 0271-717141, 0271-720496 dan 0271-741926 | Fax. 0271-741696 | website : www.harianjoglosemar.com | email : harianjoglosemar@gmail.com

Pesan Moral Perempuan Gerabah

Jumat, 30/10/2009 17:25 WIB - Bonus Wibowo Bramhartyo

Pentas teater biasanya dilakukan di dalam ruangan tertutup, tetapi pertunjukkan kali ini berbeda dengan yang lainnya. Aksi kelompok teater Studio Indonesia-Serang, menyajikan aksi teater dengan judul Perempuan Gerabah selama 40 menit. Acara yang digelar di area outdoor Teater Arena Taman Budaya Jawa Tengah (TBJT) Solo, merupakan rangkaian acara Mimbar Teater Indonesia yang digelar selama enam hari mulai dari Senin (26/10)- Sabtu (31/10), Rabu ( 28/10) malam.
Acara yang dimulai pukul 20.00 WIB tersebut, menceritakan sebuah perjalanan kehidupan seorang petani gerabah perempuan yang tangguh. Sebuah karya yang disutradarai oleh Nandang Aradea tersebut, mempersiapkan acara hanya selama dua hari. Dengan konsep yang sebelumnya telah ada, mempermudah langkah untuk pentas yang berikutnya.
“Judul teater yang bertajuk Perempuan Gerabah, diambil dari kejadian nyata kehidupan saya. Dengan melihat aktivitas para pembuat gerabah sehari-hari, memunculkan  ilustrasi gerakan membangun lalu menghancurkan. Saya sengaja mengeluarkan teater di ruang terbuka, saya ingin menciptakan ruang sendiri agar bisa menginstruksi ide kreasi sendiri lebih total,” ungkap Nandang Aradea.
Etos Kerja
Penampilan teater Studio Indonesia-Serang, menggunakan panggung berdiameter tiga meter dengan tumpukkan bambu sebanyak 200 batang yang disusun mengerucut, lengkap dengan sebuah tempat duduk para penonton yang dibuat melingkar mengitari panggung. Dengan aksi seorang petani gerabah perempuan yang bernama Rasmi Bin Maskad (50), mempraktikkan cara membuat gerabah dengan gerakan seolah-olah membangun dan menghancurkan.
Banyak pesan moral yang terkandung dalam pentas teater ini, mulai dari kritik sosial dan juga etos kerja. Istilah membangun dan menghancurkan diartikan dengan beraneka ragam asumsi masyarakat yang kritis. Dari awal sampai berakhirnya acara pun, penonton yang hadir dipersilakan untuk meninggalkan panggung jika takut terkena cipratan tanah liat saat membuat gerabah.
Asal-usul cerita tanah tersebut dikumpulkan dari berbagai sejarah. Tanah sebagai bahan pembuat gerabah, berasal dari tanah sengketa yang diambil dari daerah Serang Banten Jawa Barat. Ada tanah bekas sengketa pembebasan lahan, tanah longsor, tanah dari berbagai macam bencana. Bertujuan untuk menyatukan tanah dari Banten Jawa Barat dengan tanah di Solo Jawa Tengah.
“Sengaja menyatukan tanah Banten dengan tanah Solo di Jawa Tengah, dengan pentas teater ini mudah-mudahan spirit dan etos kerja yang petani gerabah miliki dapat menular kepada generasi muda saat ini,” tandas Nandang. (Bonus Wibowo Bramhartyo)

berbagi di Facebook :
Share
berbagi di Twitter :
berbagi di Google + :