Kamis, 24/05/2012
PT JOGLOSEMAR PRIMA MEDIA | Jalan Setia Budi No. 89 Gilingan, Banjarsari, Surakarta | Telp. 0271-717141, 0271-720496 dan 0271-741926 | Fax. 0271-741696 | website : www.harianjoglosemar.com | email : harianjoglosemar@gmail.com

Permainan Batu Ekspos Menjadikan Hunian Etnik nan Rileks

Minggu, 21/03/2010 09:00 WIB - Dwi Hastuti

Permainan batu bata ekspos bisa dipastikan akan memunculkan kesan etnik. Karena sentuhan alami memnuculkan kesan natural nan etnik. Biasanya rumah dengan hunian etnik pun menimbulkan kesan berat yang ditimbulkan oleh interior dan eksteriornya.
Akan tetapi berbeda dengan rumah milik keluarga Wulung A.Prasojo yang terletak di Jalan Srigunting V No.11, Gremet, Manahan. Jika dilihat sekilas, rumah yang berada di pinggir jalan aspal tersebut sudah memunculkan kesan etnik. Tetapi rumah tersebut justru menimbulkan kesan maknyes sekaligus ringan dan eye catching pula.
Apalagi jika masuk ke dalam rumah tiga lantai tersebut. Sedikit gambaran dari rumah Wulung adalah terasa teduh meski cuaca panas akan tetapi hangat meski cuaca dingin. Meski rumah Wulung tersebut berada di pinggiran kota, namun terasa kesejukannya layaknya di desa.
Jika dilihat dari depan rumah tersebut terlihat sempit karena hanya memiliki lebar lima meter dan panjang 25 meter. Sehingga rumah tersebut memiliki desain yang bentuknya memanjang ke belakang.
Pagar rumah yang terbuat dari batu-bata ekspos serta pintu pagar yang terbuat dari kayu pun langsung menyambut. Halaman rumah pun terhitung sangat sempit, karena sebagian harus direlakan untuk taman dan kolam ikan. Kolam ikan juga terlihat alami, pasalnya ornamen yang digunakan dalam kolam ikan tersebut menggunakan batu kali tanpa di plaster.
Lalu, ketika mulai menginjakkan kaki di teras rumah kesejukan masih terasa. Udara dari taman membantu sirkulasi udara terasa segar.
Terlihat, hampir 95 persen dari tembok rumah tersebut menampakkan batu batanya. Hanya bagian kamar mandi dan bagian dalam kamar tidur saja yang tidak menampakkan batu bata ekspos-nya. Permainan batu bata ekspos di rumah Wulung membuat huniannya terasa luas dan ringan. Bukan berat, sebagaimana yang sering distereotipekan selama ini.
Secara konsep arsitektural, bangunan ini mengusung desain tradisional modern. Sehingga pemilik rumah mencoba untuk mengolaborasikan antara gaya tradisional dengan modern.
“Untuk konsep rumah ini saya mencoba untuk memadukan gaya tradisional dan modern,” ungkap Wulung yang berprofesi sebagai arsitek konsultan perumahan saat ditemui Joglosemar di kediamannya beberapa waktu yang lalu.

Sitinggil
Perpaduan tersebut terlihat dari tembok rumah yang hanya menggunakan batu bata tanpa diplaster apa pun. Bahkan untuk warna batu batanya pun masih alami.
Lalu untuk konsep lantai rumahnya pun juga diibaratkan layaknya sitinggil yaitu semakin ke dalam lantai semakin tinggi. “Untuk lantainya memang saya sengaja buat berbeda. Jadi antara ruang satu dengan satunya tinggi lantai tidak sama,” imbuh Wulung.
Sedangkan untuk sentuhan modernnya tampak terlihat dalam pintu rumah. Berbeda dengan rumah-rumah Jawa pada umumnya. Untuk lantai satunya rumah tersebut memiliki tinggi 3,75 meter. “Memang saya tidak menggunakan gebyok seperti yang digunakan di rumah tradisional lainnya, karena ini tidak murni tradisional,” ujarnya.
Selain itu, di bagian belakang atau tepatnya di dekat ruang makan terdapat jendela kaya yang juga merupakan sentuhan gaya modern. Ternyata kaca jendela tersebut memiliki fungsi membuat rumah terlihat luas.
Berhubung rumah tersebut sempit, maka supaya tidak sempit, Wulung mencoba menaikkan ke atas. “Rumah saya ini berlantai tiga, lantai satu untuk garasi, ruang makan, ruang tamu, dua kamar tidur, kamar mandi, dapur serta ruang makan. Untuk lantai dua terdapat ruang keluarga dan dua kamar tidur, sedangkan untuk lantai tiga hanya sempit dan digunakan untuk menjemur pakaian,” ceritanya.
Lalu supaya sirkulasi udara lancar dan pencahayaan cukup, maka dibuat banyak ventilasi serta terdapat pencahayaan dari atas supaya tidak pengap. Pas di atas ruang makan, terdapat floid (lubang) yang menembus hingga lantai tiga yang atasnya tidak menggunakan genting, namun menggunakan kanopi dari kaca.
Untuk perabot rumah yang digunakan pun disesuaikan dengan konsep rumah yang diusungnya. Supaya serasi maka untuk kursinya Wulung lebih memilih kayu. Lalu untuk warna lantainya pun juga disesuaikan dengan warna batu batanya. Sedangkan untuk lampu pun banyak yang menggunakan lampu yang memiliki warna alami atau kecokelatan. “Ini untuk menyesuaikan saja supaya serasi,” terangnya. (Dwi Hastuti)

berbagi di Facebook :
Share
berbagi di Twitter :
berbagi di Google + :