Sebagai orangtua pastilah menginginkan yang terbaik untuk si kecil. Orangtua tak akan rela jika anaknya terjerumus dalam pergaulan yang tak sehat.
Lantaran tak ingin terjerumus dalam hal yang negatif, tak sedikit orangtua yang kemudian memilih, mendikte bahkan melakukan intervensi pergaulan si kecil. Apalagi mengingat anak belum memiliki pikiran yang rasional untuk menentukan mana yang baik dan buruk. Tetapi tak sedikit juga yang hanya memberikan pengarahan kepada anak mengenai pergaulan yang sehat.
Prihatin Puji Lestari, ibu yang memiliki dua anak ini, mengaku tidak terlalu mengikat kedua anaknya dalam memilih teman. Namun, ibu yang memiliki sapaan Puji ini lebih memberikan pengetahuan moral. Pendidikan moral ini tidak secara langsung diungkapkan kepada si anak, tapi melalui perilaku dan perkataan sehari-hari.
“Anak-anak zaman sekarang kalau dinasehati cenderung akan cuek. Tapi kalau perilaku dan perkataan yang positif kita terapkan di lingkungan keluarga dan meraka akan mencontoh orang-orang terdekatnya. Dari sinilah anak akan mengetahui mana yang baik dan mana yang tidak,” ungkapnya.
Julianni Prasetyaningrum, Psikolog UMS, mengatakan antara usia 5-12 tahun, berteman merupakan salah satu bagian terpenting di masa tumbuh kembang kanak-kanak yakni keterampilan sosial yang akan terus melekat di sepanjang hidupnya. Dalam tahap interaksi dengan lingkungan luar anak jangan terlalu didikte. Untuk memilihkan teman bagi anak sebaiknya orangtua jangan terlalu menyetir.
“Memilihkan teman dari sisi mana dulu, jika ini berkaitan dengan kebaikan akhlak dari si anak sangat dianjurkan orangtua membimbing anak dalam memilih anak. Tapi jangan gunakan kata larangan,” jelas Juliani.
Dijelaskannya, menjalin hubungan pertemanan yang baik sebenarnya telah terbangun saat interaksi dan komunikasinya dalam keluarga. Jika di dalam lingkungan keluarga, kasih sayang dan perhatian diberikan sepenuhnya dari anggota keluarga, secara tak langsung ini akan membentuk perilaku anak yang positif juga. Pasalnya pada usia kanak-kanak mereka masih membutuhkan modeling (tiruan).
“Jika si anak memperlakukan dirinya dengan baik atau jika ia telah dihargai dan dicintai oleh keluarganya maka kemungkinan besar ia berhasil memilih teman yang benar. Dan jika anak memiliki hubungan yang saling mendukung dan memperhatikan sesama saudaranya dengan demikian ia telah melihat contoh yang positif tentang bagaimana berhubungan yang baik sesama teman,” ujarnya.
Kepekaan Sosial
Kesan di dalam keluarga ini akan dibawa anak ke dalam hubungan persahabatan termasuk dalam melakukan proses pergaulan. Sebaliknya, jika hubungan di keluarga tidak mendukung dan malah memberikan contoh yang negatif, maka kemungkinan anak akan mencari teman yang memiliki masalah yang serupa dan kelompok pertemanan akan terbentuk sesuai dengan kondisi dan karakter tiap anak.
Menurut Julianni, cara yang lebih baik bukan mengintervensi tetapi mengarahkan bagaimana untuk memilih teman yang baik. Tetapi pengarahan pun jangan menggunakan kata larangan yang tegas. Dengan perkataan larangan yang tegas anak justru tidak akan menggubris larangan orangtua.
“Sebaiknya orangtua menyamakan persepsi dulu kepada anak bagaimana hubungan pertemanan yang baik atau tidak. Misalnya saja jika berteman dengan si pemukul maka ia pun akan terkena pukulannya. Berikan contoh yang mereka mengerti dan bahasa yang dipahaminya,” imbuhnya.
Sementara itu dalam menjalin proses pertemanan yang perlu ditanamkan pada anak adalah kompetensi sosial, di mana anak akan mengenal simpati dan empati kepada orang lain. Menjalin pertemanan yang baik akan membuat anak belajar banyak bagaimana bisa menghargai pendapat yang lain, bagaimana bisa mengalah, bagaimana menjadi pendengar yang baik. “Sikap seperti inilah yang akan membentuk jiwa kepekaan sosial anak sejak dini,”singkatnya.
Sri Ningsih
| berbagi di Facebook : Share |
|
| berbagi di Twitter : Tweet |
berbagi di Google + : |




