Oleh
Yulia Damayanti Purnomo
Ibu rumah tangga
di Sukoharjo, penulis buku
kolaborasi Jurnalisme
Investigasi, Trafficking
di Jawa Tengah
Dara Matesih Terkoyak. Itulah judul tulisan yang diturunkan Joglosemar pada Minggu (11/7) lalu. Itu adalah laporan tentang peristiwa asusila di sebuah desa kecil di timur Kota Solo. Para pelaku masih tergolong anak-anak, sedang korban masih di bawah umur lima tahun (Balita).
Sebuah peristiwa pelecehan seksual yang dipelopori anak belasan tahun dan sempat mengajak dua teman sebayanya bersama–sama, bersepakat melakukan pelecehan seksual pada bocah Balita.
Yang memprihatinkan, kelakuan di luar norma itu dilakukan dengan begitu rapi, bak film yang menggambarkan penjahat yang sedang melampiaskan nafsu seks bergiliran. Ada yang berperan sebagai penjaga pintu, ada yang jadi penggilir dan aksi amoral itu pun berjalan mulus, aman hingga selesai.
Hebatnya lagi, tidak ada yang memergoki sampai si Balita pulang ke rumah. Baru di rumah inilah, si Balita bercerita pada sang Bunda dan gemparlah masyarakat desa.
Kegemparan masyarakat ternyata tidak dibarengi dengan empati yang menggema. Tapi aksi diam yang ditengarai karena ada salah satu orangtua pelaku yang tergolong preman dan melarang warga untuk mengabarkan peristiwa ini pada media. Meskipun belakangan, si orangtua ini membantah telah menekan warga untuk bercerita pada pers.
Pelarangan ini, menjadi kesesakan sendiri pada pihak korban. Kabarnya keluarga korban juga diperas oleh polisi atas kasus ini dan proses perkara berjalan lambat. Berapa lapis kesesakan yang dialami keluarga? Pernahkah kita membayangkan, jika Balita itu anak kita, buah cinta kita, yang terkoyak kebahagiaannya sejak dini?
Efek Tak Langsung
Ahmad Faiz Zainuddin SPsi, penggagas Spiritual Emotional Freedom Technique (SEFT) dalam diskusi kecil mengatakan, dampak psikologis pelecehan seksual pada anak–anak biasanya tidak langsung seperti yang dialami orang dewasa. Pada orang dewasa, biasanya peristiwa nahas itu diikuti dengan runtuhnya kepercayaan diri si korban yang menggiring ia menjadi sosok yang minder dan merasa kotor, bahkan jijik pada diri sendiri. Pada anak–anak, efek sikap yang menjurus ke tertutup tidak langsung tampak. Dampak langsungnya, anak akan lebih merasakan kesakitan secara fisik, ketimbang kesakitan psikis.
Tapi, hal yang perlu dicamkan oleh orangtua adalah, dampak pelecehan pada anak–anak, akan mulai tampak ketika ia menginjak remaja dan mulai mengenal dirinya melalui kecerdasan intrapersonal yang dimiliki. Dan ini, cekatan lukanya jauh lebih luar biasa sakit dibanding luka ketika dewasa. Kenapa? Karena, anak yang mengalami pelecehan seksual, ketika menginjak remaja seperti dibangunkan dari mimpi panjang yang indah. Ketika terbangun, ia langsung dihadapkan pada kegelapan dirinya. Ia akan merasa, semua orang tahu bahwa ia pernah dilecehkan. Lalu, ia akan terbentuk menjadi pribadi yang minder dan kurang bisa menghargai diri sendiri. Bahkan tidak sedikit, yang menjatuhkan pilihan pada prostitusi, hanya karena ia tak merasa pantas bersanding dengan lelaki baik–baik.
Ini banyak diakui oleh para remaja yang menjadi korban pelecehan seksual pada masa kanak–kanak, pada penulis. Alhasil masa remaja yang seharusnya penuh keceriaan dan pencarian jati diri, terampas serta-merta dengan kesadaran akan masa lalu yang “gelap”.
Ada kondisi yang lebih fatal, jika seseorang pernah mengalami pelecehan seksual saat kanak–kanak, lebih–lebih Balita adalah, goresan luka yang hingga kematian menjemput pun, mungkin tak akan terlupakan. Anak mengalami masa golden age atau masa emas pertumbuhan, yakni pada lima tahun pertama kelahiran. Ini adalah masa di mana anak menjadi peniru yang luar biasa ulung. Juga memiliki daya serap yang super tinggi pada apapun yang terjadi pada diri dan lingkungannya.
Kita tentu ingat, bagaimana anak kita ketika Balita. Ia belum bisa berkata–kata. Satu–satunya bahasa yang digunakan adalah menangis. Haus menangis, lapar menangis, risih dengan ompol menangis, mengantuk menangis dan segala keluhan ia ekspresikan dengan menangis. Menginjak tahun berikutnya, ia tetap tak bisa berkata–kata, paling hanya huruf vokal A yang diucapkan ketika ingin mengomunikasikan sesuatu.
Nah, dalam masa inilah dalam kacamata ilmu psikologi, anak memiliki tabungan memori yang banyak dari apa yang ia lihat, cium, dengar dan rasakan, baik fisik maupun psikis. Bisa jadi karena tabung memorinya masih kosong, sehingga ia mampu menyimpan apapun yang ia terima, entah buruk atau baik. Pada Balita, ia akan menyimpan semua memori yang masuk. Jadi tidak perlu heran, begitu anak kita mulai bisa bicara, maka ia langsung mampu mengucapkan kalimat seperti yang kita ucapkan.
Saya pernah punya pengalaman, melakukan terapi pada anak yang punya trauma masa Balita dikunci di dalam kamar mandi oleh ayahnya. Ternyata ingatan itu tertancap hingga ia remaja dan mengakibatkan ia takut gelap dan ketika mandi tak pernah mengunci pintu. Kita bisa membandingkan, hanya karena dikunci di kamar mandi, itu bisa menjadi ingatan yang luar biasa bahkan menimbulkan trauma akan gelap. Bagaimana jika yang dialami adalah pelecehan seksual yang mengoyak bagian tubuhnya yang paling berharga dan sensitif sebagai perempuan atau laki–laki?
Itulah luka anak–anak yang niscaya akan menyertai jiwanya dan mengadangnya ketika menginjak remaja. Pun hingga hari ini, ancaman kekerasan dan pelecehan seksual masih menjadi hantu bagi anak–anak negeri ini.
Sebegitu mengerikannya dampak luka seksual pada anak–anak. Maka mari mulai hari ini, kita luangkan banyak hal untuk benar–benar menjaga kebahagiaan anak–anak sejak awal. Sebelum ia tumbuh menjadi pribadi yang merasa tak beruntung dan itu tak membuatnya melesat cepat seperti anak panah meraih impian. Yah, mulai hari ini, hari yang dicanangkan negara sebagai Hari Anak Nasional. (***)
| berbagi di Facebook : Share |
|
| berbagi di Twitter : Tweet |
berbagi di Google + : |







