Penampilan kelompok Teater Eks Surakarta mengawali pergelaran Mimbar Teater Indonesia di Teater Arena Taman Budaya Surakarta (TBJT) Solo, pada Minggu (25/10) malam. Acara yang digelar selama enam hari hingga 30 Oktober mendatang ini, digelar oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kota Solo serta pihak TBJT.
Sebanyak delapan kelompok teater akan beradu kreativitas dalam mementaskan sebuah cerita. Selanjutnya akan dilakukan penilaian terhadap delapan grup teater untuk bahan evaluasi masing-masing kelompok.
Seorang kurator seni Halim HD menilai, pada masa kini pentas teater pada umumnya masih terlalu glamor dan dari segi artistik kurang menggigit. “Mayoritas kelompok teater saat ini masih terlalu kaku, memberikan jeda ruang berpikir penonton cukup berlebihan dan buang-buang waktu. Ibaratnya sekarang seperti sound system, apa sebenarnya itu dan fungsinya apa kurang dipahami lebih dalam,” tutur Halim yang ditemui Joglosemar di sela-sela pentas.
Teater Eks Surakarta mengusung cerita Hampir Manusia, yang diangkat dari naskah sandiwara karya Peter Handke. Kisah ini menyoroti sebuah fenomena kekhawatiran manusia akan masuknya teknologi, membuat beberapa elemen masyarakat kebingungan.
Dengan olah gerak tubuh selama 65 menit, mereka ingin menyampaikan sebuah kekhawatiran manusia jika sampai kehilangan konstruksinya. Ketika sebuah tubuh dijadikan ruang iklan dan bahan tontonan. Salah satunya sesosok manusia dengan kepala botak dan bertubuh subur, diperagakan sebagai ilustrasi teknologi, melalui busana dari plastik bening mereka lilitkan ke seluruh bagian tubuhnya dengan menyelipkan beberapa buah handphone.
“Naskah cerita ini sengaja dipentaskan dengan tema teknologi. Bagaimana cara kita menyikapi saat tubuh kita mulai kehilangan konstruksinya,” ungkap sutradara Hampir Manusia, Nusa. (Bonus Wibowo Bramhartyo)
| berbagi di Facebook : Share |
|
| berbagi di Twitter : Tweet |
berbagi di Google + : |




