Kamis, 24/05/2012
PT JOGLOSEMAR PRIMA MEDIA | Jalan Setia Budi No. 89 Gilingan, Banjarsari, Surakarta | Telp. 0271-717141, 0271-720496 dan 0271-741926 | Fax. 0271-741696 | website : www.harianjoglosemar.com | email : harianjoglosemar@gmail.com

Perencanaan Kota Tak Berhasil Maksimal

Jumat, 30/10/2009 18:04 WIB - qds

JOGJA (Joglosemar): Sistem perencanaan kota tidak membawa perubahan signifikan pada kualitas manusia dan lingkungan namun malah sering menimbulkan persoalan baru.   
Hal itu disampaikan oleh Kepala Dinas Pekerjaan Umum Perumahan dan Energi Sumber Daya Manusia Provinsi DIY, Rani Syamsinarsi saat membuka Semiloka Hari Habitat 2009 Tingkat Provinsi DIY di Hotel Garuda Yogyakarya, Kamis (29/10).
“Permukiman perkotaan di seluruh dunia sedang dipengaruhi oleh berbagai kekuatan baru baik bagi negara yang baru berkembang, perkotaan maupun pedesaan. Mereka sangat merasakan dampak dari iklim, berkurangnya sumber daya, dan juga krisis pangan yang diakibatkan oleh ketidakstabilan ekonomi,” terangnya.
Persoalan tersebut tandas Rani, akan mempengaruhi wilayah perkotaan yang ada secara signifikan. Baik dalam bentuk fisik, sosial secara berkesinambungan termasuk Kota Yogyakarta sendiri. Apalagi kaitannya dengan aglomerasi perkotaan seperti Yogyakarta yang telah tumbuh menjadi Kota metropolitan .
Sementara itu Kepala Badan Perencanaan Daerah (Bappeda) Kota Yogyakarta, Aman Yuriadijaya justru menekankan pentingnya penyadaran perilaku masyarakat dalam menggarap permasalahan pemukiman dan penataan lingkungan sekitarnya.
“Kata kuncinya hanya satu, dalam menggarap pemukiman atau apapun bentuknya harus dilakukan lebih dulu penyadaran perilaku masyarakat. Sehingga mencapai keberhasilan di tataran hasil,” tegasnya.
Garap Sungai
Perilaku kesadaran menjaga lingkungan utamanya harus dilakukan oleh masyarakat yang bermukim di sekitar tiga sungai di Kota Yogyakarta yakni Sungai Winongo, Sungai Code dan Sungai Gajah Wong. Tiga sungai ini menjadi persoalan yang kompleks dan harus diatasi bersama-sama oleh semua pihak
“Tahun ini dan yang akan datang kita ingin menggarap sungai ini secara optimal sehingga nantinya bisa dijadikan pembentuk karakter Kota Yogyakarta,” ucapnya.
Sementara itu Budi Prayitno, Ketua Ikatan Ahli Perencanaan Indonesia DIY sekaligus narasumber Bagian Litbang Pekerjaan Umum Kementerian Negara Perumahan Rakyat (Kemenpera) RI, membenarkan keberadaan Sungai Winongo, Code dan Gajah Wong yang berpotensi menjadi area kumuh. Dan kekumuhan ini dibarengi dengan tingginya jumlah penduduk yang datang ke Yogyakarta dan akhirnya bermukim di sekitaran sungai, di tengah kota dan dekat rel kereta. (qds)

berbagi di Facebook :
Share
berbagi di Twitter :
berbagi di Google + :