SOLO—Peredaran uang palsu (upal) di Solo menurun dibanding tahun sebelumnya. Terhitung, hingga pertengahan Desember 2009 jumlahnya hanya 2.450 lembar dengan nilai Rp 197.715.000.
Kasir Muda Senior Kantor Bank Indonesia (KBI) Solo, Bambang Santosa mengatakan peredaran upal di Solo dari tahun ke tahun jumlahnya terus mengalami penurunan. Dari jumlah 2.450 lembar, paling banyak dari uang pecahan Rp 100.000 emisi 2004 sebanyak 1.072 lembar yang nilainya Rp 107.200.000 dan uang pecahan Rp 100.000 emisi 2005 sebanyak 899 lembar yang nilainya Rp 44.950.000.
Jika dibandingkan dua tahun sebelumnya, Bambang mengakui jika peredaran upal di Solo terlihat jumlahnya menurun. Berdasarkan data, tahun 2007 sebanyak 3.335 lembar yang nilainya mencapai Rp 219.100.000. Sedangkan untuk tahun 2008 peredaran upal jumlahnya 2.976 lembar dengan nilai sebesar Rp 190.931.000.
”Untuk tahun 2007 memang pecahan Rp 100.000 emisi 2004 masih mendominasi yaitu sebanyak 1.200 lembar. Disusul kemudian uang pecahan Rp 50.000 emisi 2005 sebesar 989 lembar. Sementara, untuk tahun 2008, upal didominasi pada uang pecahan Rp 50.000 emisi 2005 sebanyak 1.265 lembar dan uang pecahan Rp 100.000 emisi 2004 sebanyak 1.112 lembar,” sebut Bambang.
Penurunan tersebut, menurut Bambang dikarenakan sosialisasi yang terus dilakukan oleh Kantor KBI Solo di pasar (pedagang), bendahara swasta maupun bendahara pemerintah, sekolah maupun Stasiun Bahan Bakar Umum (SPBU).
”Sosialisasi untuk mengenal mata uang rupiah asli terus menerus kita lakukan. Itu sebagai upaya preventif dari kita kepada seluruh lapisan masyarakat,” ujarnya. (ken)
| berbagi di Facebook : Share |
|
| berbagi di Twitter : Tweet |
berbagi di Google + : |







