Kamis, 24/05/2012
PT JOGLOSEMAR PRIMA MEDIA | Jalan Setia Budi No. 89 Gilingan, Banjarsari, Surakarta | Telp. 0271-717141, 0271-720496 dan 0271-741926 | Fax. 0271-741696 | website : www.harianjoglosemar.com | email : harianjoglosemar@gmail.com

Peran Nasoendoskopi pada Operasi Bedah Sinus

Rabu, 01/02/2012 06:00 WIB - Triawati Prihatsari Purwanto

Operasi bedah sinus endoskopi fungsional pada umumnya dilakukan untuk penatalaksanaan atau untuk mengatasi penyakit sinusitis kronik dan sinusitis akut berulang yang sering kali telah disertai dengan adanya poliposis di daerah meatus atau adanya polip yang sudah meluas ke rongga hidung.
Dokter Spesialis THT RS Kasih Ibu Surakarta, dr Eddy Burhan SpTHT-KL, menuturkan, peradangan pada sinus-sinus besar seperti sinus maksila dan frontal kebanyakan adalah rinogenik yang merupakan perluasan infeksi dari hidung. “Walaupun gejala klinik yang dominan merupakan manifestasi gejala infeksi dari sinus frontal dan maksila, tetapi kelainan dasarnya tidak pada sinus-sinus itu sendiri melainkan pada dinding lateral rongga hidung,” tuturnya.
Sementara itu, Kompleks Ostiomeatal atau celah-celah sempit di etmoid anterior yang merupakan serambi muka bagi sinus maksila dan frontal memegang peranan penting dalam terjadinya sinusitiskronis atau sinusitis berulang. “Bila terdapat gangguan di daerah kompleks ostiomeatal tersebut seperti terjadi peradangan, edema atau polip maka hal itu akan menyebabkan gangguan drainase sehingga terjadi sinusitis. Bila ada kelainan anatomi seperti deviasi atau spina septum, konka bulosa atau hipertrofi konka media, maka celah yang sempit itu akan bertambah sempit sehingga memperberat gangguan yang ditimbulkannya,” imbuh dr Eddy.
Maka untuk penatalaksanaan gangguan tersebut dapat dilakukan operasi bedah sinus endoskopi fungsional. Pada prinsipnya, bedah sinus endoskopi fungsional adalah membuka dan membersihkan kompleks ostiomeatal sehingga nantinya tidak ada lagi hambatan ventilasi dan drainase. Untuk itu dapat disimpulkan agar sinus paranasal atau hidung berfungsi baik diperlukan tiga faktor yakni ostium dalam keadaan baik, sistem mukosilier bekerja baik dan kualitas, serta kuantitas sekresi palut lender yang normal. “Dengan nasoendoskopi kita dapat memperoleh visualisasi sempurna sehingga diagnosis dan tindakan kita dapat dilakukan dengan akurat dan efisien,” tandas dr Eddy.

Triawati Prihatsari Purwanto

berbagi di Facebook :
Share
berbagi di Twitter :
berbagi di Google + :