Mungkin belum banyak orang yang mengenal tentang penyakit buerger (buergers disease) yang disebabkan oleh bahan berbahaya yang terkandung dalam rokok. Pasalnya, orang lebih tahu penyakit jantung atau stroke sebagai akibat dari kecanduan rokok. Jika dibandingkan dengan penyakit-penyakit tersebut, sebenarnya penyakit buerger tidak mematikan. Namun, sebagian besar penderita penyakit buerger harus diamputasi anggota tubuhnya agar luka yang terjadi tidak semakin menyebar.
Penyakit buerger adalah penyakit di mana terjadi penyumbatan pada pembuluh darah kecil yakni anggota gerak atas (tangan) dan bawah (kaki), sehingga aliran darah menjadi terganggu. Meski belum diketahui secara pasti penyebabnya, namun menurut dr Tangkas S Sibarani, SpOT, FICS, spesialis bedah ortopedi dari RS Ortopedi Prof Dr Soeharso Surakarta, merokok adalah faktor utama yang memicu timbulnya penyakit buerger. Sebab, sebagian besar penderita adalah mereka yang memiliki riwayat merokok yang berat.
“Penyebab pasti penyakit ini belum diketahui secara jelas. Tetapi penyakit buerger banyak ditemukan pada perokok berat atau mereka yang merokok pada usia yang masih terlalu muda. Penyakit ini jarang ditemukan pada mereka yang tidak merokok,” ujar Tangkas, sapaan akrabnya.
Meski merokok diyakini meningkatkan risiko terjadinya penyakit buerger, belum dapat dijelaskan bagaimana tembakau dapat meningkatkan risiko itu. Beberapa ahli menduga bahan kimia yang terkandung di dalam tembakau mengiritasi endotel (sel yang melapisi permukaan pembuluh darah) sehingga terjadi inflamasi (panas dan gangguan fungsi organ tubuh).
Tangkas menjelaskan, seseorang dapat dikatakan sebagai perokok berat jika dalam sehari paling sedikit menghabiskan sebanyak 20 batang. Sementara perokok muda adalah mereka yang mulai merokok pada usia 12 hingga 13 tahun. “Manifestasi penyakit buerger adalah usia 20 hingga 40 tahun. Orang-orang dengan riwayat tersebut (perokok berat dan merokok usia muda) akan memiliki risiko tinggi terkena penyakit buerger,” tambah Kepala Instalasi Paviliun Wijaya Kusuma ini.
Sekitar 40 persen penderita penyakit buerger memiliki riwayat peradangan pada pembuluh vena (flebitis) berupa tonjolan pada kulit yang berperan penting dalam perkembangan penyakit.
Kesemutan
Gejala penyakit ini diawali dengan rasa ngilu seperti kesemutan pada pembuluh darah yang terkena (terutama tungkai dan lengan), dan jika disentuh terasa keras. Kemudian pembuluh darah yang terserang tadi berubah menjadi kecil, dan rasa sakit yang timbul akan hilang. Serangan beralih tempat ke pembuluh darah yang lain dan mengalami hal yang sama yakni sakit, keras dan mengecil. Kejadian tersebut akan berlanjut terus jika penderita tetap merokok. Lama kelamaan pembuluh darah (terutama tangan dan kaki) secara perlahan akan terus-menerus mengecil akibat sumbatan.
“Semakin lama banyak pembuluh darah yang mengecil sehingga keperluan tubuh di bagian tertentu seperti zat makanan atau oksigen akan tersumbat. Akibatnya, sebagian jaringan menjadi rusak dan mati atau muncul luka tanpa sebab berwarna hitam,” paparnya. Luka ini sukar sekali disembuhkan dan yang pastinya akan timbul rasa sakit yang terus menerus. Akibatnya segala aktivitas sehari-hari bahkan istirahat (tidur) menjadi terganggu.
Luka tadi secara perlahan akan semakin membesar, rasa sakit semakin hebat, hingga terjadi pembusukan. Dalam keadaan seperti ini dokter akan memberi pilihan agar bagian tubuh yang luka tersebut untuk diamputasi.
Kehilangan salah satu anggota tubuh tentunya bukanlah hal yang menyenangkan. Namun jika penyakit buerger telah memasuki stadium lanjut amputasi merupakan jalan terakhir untuk menyelamatkan penderita. Sehingga sebagai langkah deteksi dini, Tangkas menyarankan agar setiap orang mengetahui gejala-gejala pada stadium awal. Hal ini perlu dan wajib agar segera mendapatkan penanganan yang tepat.
“Umumnya gejala awal penyakit ini ditandai dengan seringnya kesemutan, kram, dan rasa tidak nyaman pada kaki. Pada tahap selanjutnya, akan terjadi nyeri yang kadang muncul kadang tidak pada kaki saat digunakan untuk berjalan,” imbuhnya.
Tidak ada pengobatan atau pembedahan yang efektif untuk kelainan jenis ini. Penderita harus berhenti merokok untuk mengurangi gejala-gejala yang dikeluhkan. Obat-obat vasodilator yang melebarkan diameter pembuluh darah dapat diberikan pada penderita, tetapi tidak efektif. Bagi penderita yang telah terserang, hal yang bisa dilakukan yaitu menghindarkan daerah tubuh yang terkena terhadap paparan panas dan dingin. Hindari pula terhadap trauma dan jika terjadi infeksi harus segera mungkin mendapatkan pengobatan. (Ikrob Didik Irawan)
| berbagi di Facebook : Share |
|
| berbagi di Twitter : Tweet |
berbagi di Google + : |




