Senin, (1/3) siang pekan lalu itu, suasana Pasar Panggung Rejo, Jebres tampak beda dari biasanya. Keheningan pasar pecah dengan munculnya puluhan laki-laki berbadan tegap dan berbaju hitam.
Belum hilang rasa kaget itu, mendadak kibasan anyaman dadak merak yang berkepala harimau berukuran sekitar 2,5 meter, menyusul. Kibasan kipas raksasa itu bak hembusan puting beliung di pasar itu.
Tidak hanya itu, sang pembarong sebutan bagi penari dadak merak, juga melakukan aksi berguling dan kayang berkali-kali. Seolah tidak kenal lelah, sengatan mentari seperti tak dirasakannya. Hentakan suara kendang yang ditimpali gong bertalu-talu diiringi lengkingan terompet dari bambu kian menambah aksi pembarong itu makin gesit.
Setelah lama beraksi, ketegangan itu perlahan mulai mencair dengan kemunculan seorang bocah lelaki, yang bertingkah lucu. Dia menari dengan membawa topeng aneh berhidung besar yang lazim disebut ganongan di tengah kerumunan.
Bahkan penonton yang tadinya terlihat serius, karena, aksi pembarong dengan dadak meraknya, akhirnya tertawa lepas dengan aksi bocah itu. Gerak tariannya terlihat lincah, akrobatik dan sesekali agak konyol. Bayangkan saja, bocah yang umumnya menari layaknya tari reog justru tampil konyol dengan berjalan dengan kedua tangan di tanah kemudian pura-pura terpeleset, serta menirukan goyang ngebor ala Inul Daratista.
Itulah sekelumit aksi pentas grup Reog Ponorogo Singo Taruno Joyo dari Prayunan Solo. Cuaca terik tak menyurutkan antusias ratusan penonton untuk menikmati aksi kesenian asli Ponorogo Jawa Timur ini. Mereka tampil memukau hampir sekitar dua jam lebih.
Mitos Mistik
Niken, seorang mahasiswi UNS asal Palangkaraya, menyatakan takjub melihat aksi mereka. ”Saya tidak menyangka, jika ternyata pergelaran kesenian Reog Ponorogo sangat dahsyat. Tidak heran jika ada negara tetangga yang ingin mengklaimnya,” ujarnya.
Dia takjub ketika, para pembarong tampil aktraktif menari dengan beban dadak merak yang konon beratnya mencapai 75 kilogram ini. Beban itu bukan dibebankan di pundak, namun diangkat dengan cara menggigit kayu yang ada di balik mulut topeng harimau atau singo barong yang ada di bawahnya. Dari aksi ini, wajar jika kemudian muncul asumsi jika pertunjukkan Reog Ponorogo identik dengan penggunaan kekuatan spiritual tertentu.
Namun asumsi itu dibantah Agung, ketua grup Reog Singo Taruno Joyo. Menurutnya, seorang pembarong mampu mengangkat dadak merak yang beratnya puluhan kilogram dengan cara menggigitnya, karena didasari latihan fisik dan mental secara rutin saja. Bahkan dia menjamin, siapa pun orangnya akan mampu mengangkat dadak merak, asal berlatih tekun dan keras. Bukan karena mempunyai ilmu gaib atau kesaktian tertentu. ”Main reog itu sama dengan olahraga. Kuncinya yaitu kekuatan fisik, dan ketahanan mental saja,” papar Agung.
Sementara itu, Thomas, pemain ganongan cilik yang baru duduk di kelas II SD ini mengaku dirinya berlatih mengganong sejak umur 4 tahun. Ke depannya dia berniat untuk menjadi seorang pembarong yang andal. (Deniawan Tommy Chandra Wijaya)
| berbagi di Facebook : Share |
|
| berbagi di Twitter : Tweet |
berbagi di Google + : |







