Kamis, 24/05/2012
PT JOGLOSEMAR PRIMA MEDIA | Jalan Setia Budi No. 89 Gilingan, Banjarsari, Surakarta | Telp. 0271-717141, 0271-720496 dan 0271-741926 | Fax. 0271-741696 | website : www.harianjoglosemar.com | email : harianjoglosemar@gmail.com

Pengusaha Resah

Sabtu, 20/03/2010 09:00 WIB - lim

KLATEN—Rencana kenaikan tarif dasar listrik (TDL) sebesar 15 persen telah membuat kalangan pengusaha dan pelaku usaha mikro kecil dan mengengah (UMKM) cemas. Mereka khawatir kenaikan TDL itu akan membengkakkan  ongkos produksi.
Kenaikan TDL yang rencananya akan diberlakukan mulai Juli itu dirasakan berat oleh para  pelaku usaha UMKM. Meski hanya sekitar 10-20 persen imbas kenaikan ongkos produksi yang diakibatkannya, namun dampaknya lebih luas.
Ketua asosiasi pertekstilan Indonesia (API) Klaten, Herawati mengatakan, ongkos pembelian bahan-bahan hingga distribusinya pun bakal mengalami lonjakan. Tak pelak, harga penjualan produk UMKM itu meningkat.  “Akhirnya daya beli masyarakat menurun dan membuat penyerapan modal menjadi tidak efisien,” ujar dia ketika ditemui, Jumat (19/3).
Padahal, menurut  Herawati, produk UMKM di kabupaten Klaten sangat potensial baik dalam kualitas maupun penyerapan tenaga kerja. Setidaknya tenaga kerja yang terserap pada sektor itu menurut catatan Dinas Perindustrian, Perdagangan dan UMKM mencapai 19.000 orang. Namun API mencatat, industri tekstil di Klaten menyerap lebih dari 25.000 orang.
Kualitas Layanan
Ada enam sentra industri tekstil di Klaten dengan penyerapan tenaga kerja sebesar itu. Yaitu di Kecamatan Polanharjo dengan produk handuk dan pakaian ihram, Kecamatan Karanganom dengan busana berpayet, Ngawen (Tempursari) dengan pakaian dalamnya, Wedi dan Gantiwarno dengan konveksinya dan Bayat serta Cawas, masing- masing dengan batik dan luriknya.
Sementara diakui oleh salah satu pengusaha bordir di  Desa Pakahan Kecamatan Jogonalan, Tatang (36) kenaikan TDL itu harusnya diikuti dengan kualitas layanan yang memadai. Pasalnya, sering kali aliran listrik di Klaten mendadak terputus. Hal tersebut sangat merugikan para pengusaha yang bergantung pada pasokan listrik untuk mengolah bahan. “Kerja kami ya dari listrik. Kalau banyak pesanan dan listrik mati tidak ada kerjaan yang bisa dilakukan,” ujar dia.
Ketua Koperasi Batur Jaya (perkumpulan para pengusaha cor logam di Kecamatan Ceper), Anas Yusuf Mahmudi merasa produk impor akan semakin membanjiri pasar lokal.  ”Harga jual akan naik setelah pemerintah menaikkan TDL. Imbasnya produk menjadi sulit untuk bersaing,” tukasnya. (lim)

berbagi di Facebook :
Share
berbagi di Twitter :
berbagi di Google + :