SUKOHARJO—Karena hanya mendapatkan anggaran dari Pemkab sebesar Rp 391 juta, program Pemberian Makanan Tambahan (PMT) di Sukoharjo harus melakukan efisiensi dana dengan cara penggeseran alokasi di bidang lain di Dinas Kesehatan Kabupaten (DKK) Sukoharjo.
Minimnya anggaran tersebut dalam menjalankan Program-program perbaikan gizi yang ada di Sukoharjo menyesuaikan anggaran.
Menurut Kabid Promosi Kesehatan DKK Sukoharjo, Nasrudin, anggaran dana yang terbatas tersebut pada akhirnya berdampak pada PMT Penyuluhan dan PMT Pemulihan yang seharusnya diterapkan di masyarakat.
Nasrudin mengatakan, PMT Penyuluhan yang bertujuan memberikan penyuluhan kepada masyarakat mengenai pentingnya gizi akan dilakukan melalui Posyandu di seluruh wilayah Sukoharjo, yang jumlahnya mencapai 1.127 buah.
Sementara itu program PMT Pemulihan bertujuan untuk pemulihan bagi penderita gizi buruk maupun gizi kurang nantinya pihak DKK hanya membatasi 25 Balita di tiap desa dan itu hanya dilakukan dua bulan. “Kalau kita melebihi 25 Balita, anggaran jelas tidak cukup,” ujar Nasrudin, Senin (4/1).
Untuk mengurangi jumlah angka gizi buruk di Sukoharjo, menurut Nasrudin, salah satunya diupayakan pemberdayaan peran masyarakat dengan program Keluarga Sadar Gigi (Kadarzi) dan pemberian pola makan orangtua pada anak.
“Kita juga baru mendapatkan bantuan dari pemerintah pusat berupa Susu dan makanan. Dan nantinya akan didistribusiakan pada posandu tiap wilayah,” terang Nasrudin.
Nasrudin menambahkan, dalam penyakit kurang gizi itu, kesadaran orangtua kurang dalam memahami akan pentingnya gizi bagi anak. Kemudian, pola makan anak juga tidak diperhatikan oleh orangtua. “Hal seperti inilah yang menjadikan kurang gizi menjadi merebak di masyarakat,” terangnya. (mal)
| berbagi di Facebook : Share |
|
| berbagi di Twitter : Tweet |
berbagi di Google + : |







