Kota Solo merupakan kota yang patut diperhitungkan di Tanah Air. Kota yang tak pernah tidur ini menjadi medan magnet bagi berbagai usaha. Detak usaha hampir tidak pernah mati, dari pagi hingga dini hari lagi perekonomian di Kota Bengawan terus berdenyut. Apa saja yang terekam di tahun 2009 serta proyeksi bisnis 2010 mendatang di Kota Batik ini? Berikut paparan reporter Joglosemar, Amrih Rahayu.
Kota Surakarta, atau yang lebih dikenal sebagai Kota Solo di tahun 2009 mengalami perkembangan yang cukup signifikan. Iklim usaha yang sejuk mendukung pertumbuhan investasi kota ini. Sebut saja Bandara Adi Soemarmo yang diresmikan menjadi bandara internasional pada 7 Maret 2009. Diharapkan, bandara ini menjadi daya tarik bagi wisatawan manca maupun investor untuk mengunjungi Kota Solo. Lalu mega proyek apartemen dan pusat bisnis Solo Paragon dan Solo Center Point. Solo Paragon ditargetkan terjual 100 persen sekitar pertengahan 2010 nanti. Walaupun mayoritas konsumen Solo Paragon adalah warga Solo, namun investasi di bidang properti ini juga menarik sebagian warga dari kota lain, seperti Semarang, Yogyakarta dan Jakarta. Bahkan sampai luar Jawa dan Belanda. Padahal, harga yang ditawarkan tidaklah murah, dari Rp 300 juta untuk satu ruang tanpa sekat hingga Rp 2 miliar.
Sementara Solo Center Point, yang pembangunannya sempat tertunda, tahun 2009 ini kembali bangkit. Mega proyek dengan nilai investasi mencapai Rp 200 miliar ini konsep pembangunannya mengalami sedikit perubahan. Diperkirakan proyek yang dibangun di atas lahan seluas 30.000 meter itu bakal selesai pada Juli 2011 mendatang. Selain itu, digelarnya event internasional di Kota Solo, seperti Solo International Performing Art (SIPA) 2009 yang digelar pada 5 Agustus lalu juga berdampak pada tingkat hunian hotel berbintang.
Tidak lupa juga, dikukuhkannya batik sebagai warisan budaya Indonesia oleh UNESCO pada 2 Oktober 2009 turut membuka lebar pasar batik di Karesidenan Surakarta. Industri batik yang sempat mati suri pun kembali bergairah. Kini, batik tidak hanya bisa ditemui di acara formal, batik sudah menjadi fenomena. Dari acara santai, sekadar jalan-jalan hingga acara rapat, masyarakat memakai batik.
Walaupun iklim investasi bisa dibilang cemerlang, namun di tahun ini pula, ada beberapa catatan yang cukup memberatkan pendapatan masyarakat. Salah satunya adalah naiknya harga elpiji 6 kilgram, 12 kilogram dan 50 kilogram sebesar Rp 100 per kilogram dari Rp 5.750 menjadi Rp 5.850. Masyarakat pun terpaksa migrasi konsumsi ke elpiji 3 kilogram yang harganya tidak mengalami kenaikan. (bersambung)
| berbagi di Facebook : Share |
|
| berbagi di Twitter : Tweet |
berbagi di Google + : |







