Kamis, 24/05/2012
PT JOGLOSEMAR PRIMA MEDIA | Jalan Setia Budi No. 89 Gilingan, Banjarsari, Surakarta | Telp. 0271-717141, 0271-720496 dan 0271-741926 | Fax. 0271-741696 | website : www.harianjoglosemar.com | email : harianjoglosemar@gmail.com

Pengembang Keberatan

Sabtu, 27/03/2010 09:00 WIB - nie

SOLO—Rencana pemerintah yang akan mengganti pola subsidi perumahan justru dinilai memberatkan oleh sejumlah pengembang. Pasalnya, dengan pola baru ini diperkirakan akan semakin menurunkan daya beli masyarakat.
Pemerintah melalui Kementrian Perumahan Rakyat (Kemenpera) rencananya menggulirkan program baru subsidi, berupa subsidi langsung dengan cara menekan suku bunga kredit pada kisaran 7-8 persen per tahun selama jangka waktu pinjaman. Harapannya, beban mencicil rumah yang ditanggung masyarakat menengah ke bawah akan berkurang sehingga daya belinya meningkat.
Namun menurut Anthony Hendro, Direktur Utama PT Athaya yang merupakan salah satu pengembang perumahan subsidi, pola ini justru akan semakin memberatkan. Karena menurutnya kendala yang selama ini dihadapi para konsumen terletak pada pembayaran uang bukan dalam hal cicilan atau angsuran. Penghapusan subsidi selisih bunga dan uang muka akan semakin menjauhkan akses dan keterjangkauan masyarakat untuk membeli rumah
“Keberatan konsumen itu kebanyakan di masalah uang muka bukan di angsurannya yang hanya berkisar Rp 600.000 per bulan. Jadi kalau subsidi uang muka malah dihilangkan dan digantikan dengan penekanan suku bunga, malah bisa menurunkan daya beli masyarakat,” ujarnya, Jumat (26/3).
Dikatakannya dengan skim subsidi yang baru ini akan menghambat pemasaran rumah subsidi di Solo. Karena dikhawatirakn konsumen justru lebih memilih membeli rumah komersial dimana uang muka tidak jauh berbeda tetapi mereka bisa memperoleh tanah yang lebih luas.
Sementara itu, Ketua DPP REI Solo, Yulianto W Kusumo, mengaku belum bisa berkomentar banyak terkait hal ini. Pihaknya masih menunggu kepastian penerapan kebijakan. “Saya belum bisa berkomentar banyak karena mekanisme yang baru ini pun belum diterapkan. Kita serahkan saja kepada konsumen, mereka lebih menyukai yang mana apakah pola yang lama atau yang baru,” tuturnya. (nie)

berbagi di Facebook :
Share
berbagi di Twitter :
berbagi di Google + :