Adek jangan keluar rumah dulu ya. Pakai baju dulu, malu kalau tidak pakai baju terus dilihat orang,” seru Mama Heny Lestari pada putrinya Laila.
“Berarti kalau keluar rumah harus pakai maju dulu, ya Ma?,” tanya Laila.
“Kalau dulu Laila masih bayi tidak pakai baju tidak apa-apa. Kalau sekarang kan sudah masuk play group jadi adek harus punya malu kalau nggak pakai baju di depan umum,” jawab Ibu Heny Lestari.
“Berarti mulai sekarang Laila tidak boleh keluar rumah kalau tidak pakai baju ya, Ma?,” tanya lagi Laila.
“Iya, karena ada bagian-bagian tubuh kita yang tidak boleh diperlihatkan kepada orang lain. Makanya kita harus mengenakan baju supaya dapat menutupi tubuh kita. Misalnya menutupi bagian kemaluan kita, serta menutupi bagian-bagian lain yang tidak pantas dipertontonkan kepada orang lain,” jelas Mama Laila.
Percakapan tersebut memang terbilang sepele dan biasa terdengar sehari-hari. Akan tetapi lewat percakapan tersebut Ibu dapat memberikan pembelajaran terhadap sang anak mengenai pentingnya pendidikan seks. Walaupun baru berusia 3 tahun hingga 5 tahun namun pendidikan seks tersebut perlu untuk diterapkan sejak dini.
Memberikan pendidikan seks pada anak memang tidaklah mudah. Meski demikian, mengajarkan pendidikan seks pada anak harus diberikan agar anak tidak salah melangkah dalam hidupnya kelak misal terjerumus seks bebas.
Menurut Pak Soleh Amini Yahman, psikolog dari Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), seks bagi anak wajib diberikan orangtua sedini mungkin. "Pendidikan seks wajib diberikan orangtua pada anaknya sedini mungkin. Tepatnya dimulai saat anak masuk play group (usia 3-4 tahun). Karena pada usia ini anak sudah dapat mengerti mengenai organ tubuh mereka dan dapat pula dilanjutkan dengan pengenalan organ tubuh internal," papar Pak Soleh.
Menurut Pak Soleh, pendidikan seks sejak dini didefinisikan sebagai pendidikan mengenai anatomi organ tubuh yang dapat dilanjutkan pada reproduksi seksual. Dengan mengajarkan pendidikan seks pada anak, menghindarkan anak dari resiko negatif perilaku seksual.
“Karena dengan sendirinya anak akan tahu mengenai seksualitas dan akibat-akibatnya bila dilakukan tanpa mematuhi aturan hukum, agama, dan adat istiadat, “ urai Pak Soleh.
Pengenalan seks pada anak, lanjut Pak Soleh dapat dimulai dari pengenalan mengenai anatomi tubuh. “Nah, kalau sudah tahu, orangtua dapat memberi tahu apa saja dampak-dampak yang akan diterima bila anak begini atau begitu," ucap psikolog yang tinggal di daerah Banjarsari ini.
Cara menyampaikan pembelajaran seks pun dapat dimulia dengan cara yang sederhana. Seperti mengajari mereka membersihkan alat kelaminnya sendiri. "Ajari anak untuk membersihkan alat genitalnya dengan benar setelah buang air kecil maupun buang air besar. Pendidikan ini pun secara tidak langsung dapat mengajari anak untuk tidak sembarangan mengizinkan orang lain membersihkan alat kelaminnya," papar Pak Soleh.
Hal lain pun dapat orangtua lakukan, misalnya saat memandikan si kecil, Anda bisa memberitahu berbagai organ tubuh anak, seperti rambut, kepala, tangan, kaki, perut, dan jangan lupa alat kelaminnya. Lalu terangkan perbedaan alat kelamin dari lawan jenisnya, misalnya jika si kecil memiliki adik yang berlawanan jenis.
Cara menyampaikan pendidikan seksual itu pun tidak boleh terlalu vulgar, karena justru akan berdampak negatif pada anak. Di sini orangtua sebaiknya melihat faktor usia. “Karena ketika anak sudah diajarkan mengenai seks, anak akan kritis dan ingin tahu tentang segala hal. Selain itu gambarkan pula tentang dampak negatif dari perilaku seks yang menyimpang, “ jelas Pak Soleh.
Anak-anak dan remaja rentan terhadap informasi yang salah mengenai seks. Jika tidak mendapatkan pendidikan seks yang sepatutnya, mereka akan termakan mitos-mitos tentang seks yang tidak benar. Informasi tentang seks sebaiknya didapatkan langsung dari orangtua yang memiliki perhatian khusus terhadap anak-anak mereka.
Karena rasa ingin tahu yang besar, jika anak tidak dibekali pendidikan seks, maka anak tersebut akan mencari jawaban dari orang lain. Dan akan lebih menakutkan jika informasi seks didapatkan dari teman sebaya atau internet yang informasinya bisa jadi salah. Nah… adik-adik sudah paham kan kenapa kita perlu pendidikan seks sejak dini. (dui)
| berbagi di Facebook : Share |
|
| berbagi di Twitter : Tweet |
berbagi di Google + : |







