SOLO—Keputusan pemerintah yang akan menaikkan cukai minuman alkohol antara 200 hingga 300 persen pada 1 April 2010 mendatang dinilai sangat memberatkan. Salah satu yang merasa keberatan dengan kebijakan ini adalah kalangan perhotelan.
Pendapatan terbesar hotel selain dari hunian kamar adalah melalui food and beverage (F&B). Di mana minuman beralkohol menjadi salah satu komoditasnya menyumbang sekitar 40 persen sampai 50 persen.
Food and Beverage Manager The Sunan Hotel Solo, Sugeng Mulyadi, menuturkan dengan kenaikan cukai minuman alkohol yang sangat tinggi bisa dipastikan akan berpengaruh pula pada kenaikan harga minol. Kenaikan harga minuman alkohol diperkirakan bisa mencapai 100 persen.
“Ini tentu saja sangat memberatkan, karena di satu sisi pricing-nya naik, tapi permintaannya cenderung stabil. Sehingga tidak mungkin juga bagi kita untuk menaikkan harga minuman sampai dua kali lipat,” tutur Sugeng, Rabu (24/3).
Dengan kenaikan harga minol ini diperkirakan akan menurunkan pendapatan hotel dari sisi beverage. Namun demikin Sugeng belum bisa memastikan berapa besar penurunannya. Sebelum adanya kenaikan cukai minol ini, setiap bulannya The Sunan rata-rata bisa menjual 60 sampai 120 botol wine dan sekitar 20 botol spirit.
“Tingkat revenue pasti akan drop karena harga sudah tidak rasional lagi. Dan keuntungan pun akan berkurang,” ujarnya.
Pendapat tidak jauh berbeda juga disampaikan Food and Beverage Manager Novotel, Edward Setyadi. Menurutnya kenaikan cukai minuman alkohol ini pasti akan memberikan dampak meskipun belum diketahui sampai sejauh mana. Pengaruh terutama akan dirasakan pada loyalitas customer, karena mau tidak mau mereka harus menaikkan harga. Dijelaskannya, pada saat ramai penjualan minuman alkohol dapat menyumbang pemasukan antara 40 sampai 50 persen. Sedangkan di saat sepi hanya berkisar 10 sampai 15 persen. (nie)
| berbagi di Facebook : Share |
|
| berbagi di Twitter : Tweet |
berbagi di Google + : |




