Senin, 06/02/2012
PT JOGLOSEMAR PRIMA MEDIA | Jalan Setia Budi No. 89 Gilingan, Banjarsari, Surakarta | Telp. 0271-717141, 0271-720496 dan 0271-741926 | Fax. 0271-741696 | website : www.harianjoglosemar.com | email : redaksi@harianjoglosemar.com
<div style="background-color: none transparent;"><a href="http://www.rsspump.com/?web_widget/rss_ticker/news_widget" title="News Widget">News Widget</a></div> <div style="background-color: none transparent;"><a href="http://www.rsspump.com/?web_widget/rss_ticker/news_widget" title="News Widget">News Widget</a></div> <div style="background-color: none transparent;"><a href="http://www.rsspump.com/?web_widget/rss_ticker/news_widget" title="News Widget">News Widget</a></div>

Pencari Kecoa

Minggu, 31/01/2010 11:00 WIB -

Aku tidak akan sebutkan kepada siapa pun mengenai alamat rumahku. Karena aku tidak memiliki seorang saudara yang tersisa. Sepuluh tahun yang lalu, istriku meninggal karena kecoa masuk ke tubuhnya melalui alat kelamin. Mungkin dia masuk ke dalam tubuh istriku hingga ke hati.  Dokter mengatakan: ”Jejak kecoa itu tertinggal di kemaluan istriku.”
Sementara, anakku semata wayang meninggal setahun kemudian, pada saat itu berusia dua tahun. Pun karena kecoa. Dia girang ketika kecoa menghampirinya. Dia berlari mengejar kecoa hingga ke jalan raya. Anakku menangis, darah dari telinganya mengalir setelah bercium keras dengan sepeda motor. Ketika itu, aku tak tahu dirinya sedang mengejar kecoa, tetapi kecoa itu datang saat aku mengangkat mayat anakku. Aku telah menjadi lelaki yang tak bisa menjaga jerih payahku di kasur.
Sejak saat itu aku tak berani menginjak jalan raya depan rumahku. Aku hanya seorang pekerja di dunia maya, untuk memenuhi kebutuhan hidup. Setiap malam harus berhadapan dunia maya. Menetes pula air mata kosong. Tapi aku harus bertahan di depan dunia maya demi mempertahankan hidup. Setiap malam pula, perempuan itu menegurku, demi mempertahankan hidupku yang masih berkepala tiga. Sama seperti alamat rumah, aku tak pernah memberitahukan usiaku kepada orang lain. Pertanyaan klise bila orang-orang mempertanyakan usiaku. Sesungguhnya itu kebodohan bagi mereka, karena usia bukan waktu tetapi sikap.
Sudah dua hari ini, aku merindukan perempuan itu. Dia tak hadir di dunia maya. Aku rindu ludahnya. Rasanya pahit mulut ini bila tak menelan ludahnya. Kunyalakan komputer, berharap dia ada. Mulai mencari-cari namanya. Tikus-tikusan kugenggam erat seperti aku dan tubuhnya. panah-panahan di layar pun bergerak seiring gerak tikus-tikusan di tanganku. Panah-panahan itu sibuk mencari-cari namanya sesuai perintahku. Terus kuselami dunia maya berharap malam ini aku bertahan hidup.
Sudah sepuluh menit. Waktu, di sudut kanan bawah layar berteriak kencang menyatakan sepuluh menit telah berlalu. Dan, sejam pun aku duduk di depan layar tak kunjung bertemu dengan perempuan itu. ”Aku baru tahu, ternyata kau sekarang benar-benar maya,” aku menggerutu sambil meniadaaktifkan komputer.
Sama saja aku menunggu bus di stasiun bila tetap mencarinya di dunia maya. Meski tidak biasa, telepon, itu yang sedikit nyata bagiku. Ada harapan besar bila aku menelepon dirinya. Tapi, tut… tut.. tut.. Hanya itu jawab teleponnya, bukan jawabnya.
Singgah ke kasur, itu pilihan terbaik. Menghilangkan semua segala keinginan yang kosong. Tidur tubuhku, maka akan tidur pula panca indera. Seperti biasa, sebelum tidur aku harus harus minum obat. Aku tak bisa tidur tanpa menelan obat-obat. Berjalan sudah tak selancar dahulu ketika masih remaja. Usiaku tua retan meski aku masih berkepala tiga. Kurentangkan tubuh di atas kasur layaknya mayat, karena memang hidup ini pelajaran untuk mati tetapi hidup bukan bertujuan pada mati.
Suara-suara binatang merdu masuk ke telingaku. Tubuhku tak bermata. Kunikmati syahdu binatang dunia sebab mereka adalah keindahan dunia. Perlahan suara-suara itu meredup. Suara-suara itu hilang berganti menjadi seekor binatang. Perlahan pula binatang itu masuk ke telingaku. Kunikmati halus kakinya melangkah.
”Aku datang, saying.” Suaranya merdu hingga tubuhku kini bermata.
”Siapa? Mengapa berani masuk ke rumahku tanpa izin?” Aku bertanya kepada suara itu.
”Aku hanya binatang kecil yang bisa masuk ke mana saja, kapan saja, karena aku makhluk tanpa pikir.”
”Lalu, mengapa malam-malam begini kau mengganggu? Dan, ke telinga pula?”
”Aku tak suka mengatakan siapa sebenarnya diriku. Aku hanya binatang yang tanpa nama. Itu artinya kau hanya menganggapku sebagai binatang.”
Kakinya halus membuat gairahku memuncak. Gesekan-gesekan nafsu ditebarnya. Aroma tubuhnya tak wangi, tetapi aroma itu memanjakan gairah tubuh. Aku lupa siapa aku. Aku terus merapatkan jempol kakiku ke jari sebelahnya. Langkahnya perlahan, ada nafsu pula dari tubuhnya.
Sesampainya di daun telinga, dia berhenti sambil menggesek-gesekkan tubuhnya. Kini aku akan sampai di puncak gunung asmara. Gerakannya tidak beraturan. Kadang ke kiri, kadang ke kanan. Dia memanjakan tubuhku. Sampailah aku di puncak asmara. Gunung pun meletus karena tak sanggup menahan laharnya, seperti itulah diriku.
”Apakah kau puas?” Katanya lembut, selembut kulitnya.
”Ah, cukup.”
”Sekarang aku ingin berkelana kembali. Selamat tinggal, sayang.”
”Hey, hey!” Aku lantangkan suara agar dia bicara denganku sejenak.
Tapi, dia tetap pergi. Aku bangunkan tubuhku. Kulihat di sekitar kamarku kosong, tiada seorang pun. Tanpa bekas manusia. Tanpa bekas perempuan pun yang beraroma. Kugenggam pelindung kelaminku. Basah kuyup. Malam ini dahsyat. Tak ada pekerjaan yang senikmat malam ini. Apakah dia datang tiba-tiba demi meninggikan hasrat nafsuku? Entahlah. Kini nyatanya tubuhku puas. Aku beranjak dari kasur, dan kuganti pelindung kelamin yang basah karena kehadirannya. Malam ini kurajut suara-suara binatang indah itu menjadi satu sebagai teman tidurku kali ini. Kutelentangkan tubuh.
Pagi tiba, aku keluar dari kamar tidur. Seperti biasa pula, tidak seperti budaya dalam keluarga umumnya, aku harus suguhkan kopi sendiri untuk tubuh sendiri. Karena itulah hakikat sejati seorang individu.
Di atas meja yang berkursi keluarga, aku bermain-main pada segelas kopi. Tak ada kopi, maka tak ada diriku. Putaran air kopi itu menjadi tanda yang tepat dalam pikiranku. Ampasnya di atas, namun kuputar kencang ampas itu tetap di atas. Kuputar terus hingga air hitam muntah dari gelas. Oh, ternyata aku tak kuat memutar yang layak air kopi dalam gelas ini. Beranjak dari meja, maksud hati ingin mengambil kain lap di balik pintu. Aku pun tak suka membiarkan sesuatu yang buruk di tempat terbuka, karena itu kain lap kusimpan rapat di balik pintu.
Kuhapus muntahan gelas kopi. Dua kali mengusapnya, tersambarlah suara ketukan pintu. Tok.. tok.. tok.. Kaki ini berat seperti membatu. Beranjak dari meja ke pintu yang berjarak tiga meter saja tak sanggup lagi.
”Permisi..” Suara dari balik pintu itu berjenis kelamin lelaki.
Apa ini takdirku? Baru kali ini aku mendapatkan tamu saat siang hari, setelah delapan tahun aku tak dikunjungi oleh seorang pun. Pintu mana yang harus kubuka? Pintu suara itu? Apa yang akan terjadi bila kubuka nanti. Seandainya ada kaca sebagai celah di pintu ini, aku pasti bisa melihatnya. Melihat yang akan menghampiriku. Tapi aku hanya manusia, yang hanya menyimpulkan sesuatu dari gejala.
”Permisi..” Suara itu lagi, memberi tanda agar aku cepat-cepat membuka pintu suara.
”Sebentar, saya sudah tua.”
Jalanku semakin cepat. Semakin ingin kubuka pintu bertamu itu. Langkahku semakin cepat. Semakin dekat pula dengan pintu suara. Tak sabar tanganku membuka pintu itu. Setibanya pada engsel pintu suara kubuka penutup rumahku dari alam. Perlahan kubuka, dan pintu itu berbunyi karena usianya.
”Maaf saya mengganggu, Pak. Saya kemari hanya ingin mencari kecoa saya. Semalam dia lari masuk ke rumah ini, tapi saya tak berani mengganggu Bapak yang sedang menikmati kecoa saya.”
”Anda siapa?” Aku bertanya karena aku tak kenal dirinya.
”Saya pemasar kecoa, yang selama ini berhubungan dengan Bapak dari Internet.”
”Jadi, selama ini saya berhubungan dengan binatang?”
”Bukan, Pak. Tapi, dengan kecoa!”
Dada ini berdetak kencang. Ingin menutup pintu. Ingin mengusir tamu tapi tak sanggup lagi. Aku semakin tua. Nafas semakin sesak. Tak sanggup mengatakan sehuruf pun. Perlahan mataku menutup tirai. Ada batu besar mengganjal di dadaku setelah kata ”kecoa” keluar dari bibirnya. Kulihat tamu itu berubah menjadi hitam, dan aku tertidur karena tak sanggup melawan kuatnya pintu.
”Maaf, saya hanya korban kecoa.” Kataku sebelum tidur pulas yang dahsyat tanpa waktu.

Penulis adalah penggiat sastra di Komunitas Sastra Langkah, Jatinangor
Saat ini tengah merampungkan studi Sastra Indonesia, Unpad.

 

berbagi di Facebook :
Share
berbagi di Twitter :
berbagi di Google + :