Kaki diabetik tidak boleh disepelekan. Karena jika tidak ditangani dengan benar dapat menimbulkan komplikasi atau bahkan harus diamputasi. Pada prinsipnya, penanganan ulkus pada kaki diabetik harus menghilangkan tekanan pada kaki yang sakit terlebih dulu. Caranya yakni dengan mengistirahatkan kaki secara total dan penggunaan gips atau sepatu khusus. Kemudian lakukan restorasi perfusi kulit dan pengobatan infeksi.
Dokter Spesialis Penyakit Dalam RS Kasih Ibu Surakarta, dr Ndarumurti Pangesti SpPD, menuturkan, langkah seterusnya adalah dengan kontrol metabolik dan pengobatan penyakit penyerta. Lalu dilanjutkan dengan perawatan luka lokal. “Komunikasikan dengan pasien dan keluarga perihal kaki diabetik tersebut dan tentukan penyebab serta sebaiknya mencegah kekambuhan,” tuturnya.
Sementara itu, untuk pengobatan dengan antibiotik pada prinsipnya berikan secepatnya untuk luka yang secara klinik terinfeksi. Pilihlah spektrum sesempit mungkin untuk infeksi ringan dan sedang. Untuk terapi inisial, pilihlah berdasarkan data bakteri penyebab tersering dan sensitivitasnya terhadap antibiotik. Lalu sesuaikan terapi empiris berdasarkan hasil kultur dan respons klinis terhadap regimen sebelumnya.
Di sisi lain, penyebab kegagalan penanganan masalah kaki diabetik adalah karena kurang telitinya dokter pada saat awal menginspeksi luka pasien. Atau bisa juga karena tidak mengistirahatkan area kaki yang terinfeksi. “Kegagalan penanganan dapat juga dikarenakan penggunaan antibiotik yang kurang tepat, debrimen dan drainase terlalu luas, pembalutan kaki yang salah, atau ketidakrutinan pasien dalam penanganan dan pencegahan lebih lanjut sesudah luka sembuh,” papar dr Ndarumurti.
Dengan kata lain, dapat disimpulkan bahwa infeksi pada kaki diabetik dapat mengancam kaki dan jiwa pasien. Maka dari itu sebaiknya tidak disepelekan dan harus ditangani dengan tepat.
Triawati Prihatsari Purwanto
| berbagi di Facebook : Share |
|
| berbagi di Twitter : Tweet |
berbagi di Google + : |




