SRAGEN—Sejumlah kalangan pemerhati edukasi meminta agar sanksi pemulangan pelajar yang terlambat datang ke sekolah sebaiknya dikaji ulang. Pasalnya, penerapan sanksi itu dinilai justru memberikan peluang kenakalan baru bagi pelajar. Di mana banyak pelajar ternyata memanfaatkan sanksi itu untuk hura-hura dan berbuat tidak terpuji.
“Sering saya memergoki, pelajar yang terlambat dan disuruh pulang tapi ternyata malah keluyuran ke mana-mana. Bahkan beberapa kali saya melihat ada yang keluyuran ke Solo, ada pula yang malah minum-minuman keras,” papar Suwarti, salah satu pendidik di sebuah sekolah negeri di Sragen Jumat (3/9). Menurutnya, sanksi pemulangan siswa kurang efektif untuk mendidik kedisiplinan siswa. Sebab itu ia mengusulkan agar pihak sekolah terutama Sekolah Menengah Pertama (SMP) dan Sekolah Menengah Atas (SMA) lebih selektif dalam menerapkan sanksi bagi siswa. “Jangan sampai sanksi yang diberikan justru memunculkan problem baru yang efeknya jauh lebih merugikan bagi siswa dan sekolah,” terangnya.
Tidak hanya fenomena membolos dan keluyuran, beberapa pelajar nakal juga mulai terindikasi menggunakan narkoba. Hanya, ia enggan menyebut secara rinci jenis narkoba dan lokasi yang biasa dijadikan untuk menggelar aktivitas haram itu.
Ketua Komisi IV DPRD Sragen Suparno mendukung penuh usulan tersebut. Menurutnya, sanksi pemulangan siswa pada jam pelajaran memang rentan disalahgunakan untuk kegatan negatif. “Biasanya kalau mau pulang pasti takut ditanya orangtuanya, makanya kadang banyak yang mbelok di jalan. Nah ini yang kadang rawan dimanfaatkan untuk hal-hal yang tidak benar,”ujarnnya. (yok)
| berbagi di Facebook : Share |
|
| berbagi di Twitter : Tweet |
berbagi di Google + : |







