Guru merupakan ujung tombak dalam menghadapi tantangan pendidikan di masa depan. Terutama untuk mewujudkan sumber daya manusia bangsa Indonesia yang lebih berkualitas, bermartabat, dan bermoral yang merupakan tujuan pembangunan nasional Indonesia. Apalagi profesi guru atau tenaga pendidik kini mulai digandrungi.
Hal ini salah satunya terlihat dari meningkatnya peminat calon mahasiswa di lembaga pendidik dan tenaga kependidikan di Perguruan Tinggi (PT) di Indonesia. Berdasarkan data Humas Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), peminat jalur PMDK (Penelusuran Minat dan Kemampuan) menunjukkan tren peningkatan dari tahun ke tahun.
Tahun 2008 misalnya, total ada 9.085 pendaftar dari 962 sekolah di seluruh Indonesia, yang diterima hanya 1.065 orang. Begitu juga di Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS). “Tiga tahun terakhir peminat Jurusan Keguruan atau FKIP mengalami peningkatan hingga 11.000-an mahasiswa padahal sebelumnya hanya 5.000-an,” ujar Muhammad Saleh, Staf Tata Usaha (TU) FKIP UMS, kemarin.
Peningkatan tersebut menurutnya, salah satunya karena profesi guru mulai diperhatikan oleh pemerintah. Profesi pengajar juga mulai mendapat pengakuan dari masyarakat. “Itu karena lahirnya Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen yang secara tegas mengatur profesionalisme guru dan kesejahteraannya,” ujarnya.
Terpisah, Sumardiono, SS, dosen Jurusan Pendidikan Bahasa Inggris, Universitas Slamet Riyadi (Unisri) Surakarta mengatakan dengan adanya sertifikasi guru menjadikan minat mahasiswa sangat besar untuk masuk ke jurusan FKIP. Sebab para mahasiswa punya persepsi bahwa profesi keguruan sangat menjanjikan dan mempunyai prospek yang cerah dengan adanya sertifikasi tersebut.
“Salah satu efek dari sertifikasi adalah guru akan disejahterakan yaitu dengan banyaknya tunjangan. Namun di sisi lain juga untuk memenuhi kualifikasi tersebut,” ujar Sumadiono.
Menurutnya, sertifikasi merupakan solusi dan guru memiliki kualitas yang dapat dipertanggungjawabkan. Selain itu profesi guru juga semakin dihargai baik secara kultural maupun finansial.
salah satu mahasiswa Rini Hastuti (18) dari Fakultas Pendidikan Bahasa Inggris, Unisri menyatakan meningkatnya minat mahasiswa masuk FKIP salah satunya karena adanya sertifikasi sebab merupakan jaminan terpenting meraih hidup layak. “Tapi saya lihat tidak 100 persen mahasiswa yang masuk FKIP ingin menjadi guru sebab mungkin keterampilannya tak mendukung,” ujarnya.
Dirinya berharap mahasiswa FKIP harus mempersiapkan diri sebab ke depan tantangan semakin berat. “Walaupun memiliki fasilitas bagus dalam proses pembelajaran tapi kalau tidak didukung dengan kemampuan juga akan percuma adanya sertifikasi,” ujar Rini. (Eny, Dondee)
| berbagi di Facebook : Share |
|
| berbagi di Twitter : Tweet |
berbagi di Google + : |




