Kamis, 24/05/2012
PT JOGLOSEMAR PRIMA MEDIA | Jalan Setia Budi No. 89 Gilingan, Banjarsari, Surakarta | Telp. 0271-717141, 0271-720496 dan 0271-741926 | Fax. 0271-741696 | website : www.harianjoglosemar.com | email : harianjoglosemar@gmail.com

Pecinta Kuliner Harus Waspadai Hepatitis Bisa Menular Lewat Makanan

Senin, 29/03/2010 09:00 WIB - Ikrob Didik Irawan

Penyakit hepatitis atau masyarakat sering menyebutnya dengan penyakit kuning adalah jenis penyakit yang disebabkan oleh sejumlah virus. Serangan virus tersebut menyebabkan peradangan serta merusak sel-sel organ hati manusia. Salah satu penularan penyakit ini adalah melalui makanan yang tidak higienis. Sehingga menuntut kewaspadaan tingkat tinggi, terutama bagi mereka yang gemar berburu kuliner. Karena jika salah, bukan kenikmatan makanan yang didapat, tapi justru penyakit yang hinggap ke tubuh.
Di Solo bisa dibilang merupakan surganya para pecinta kuliner,  karena beragam makanan dengan berbagai cita rasa ada di kota ini. Maka jika mengingat penularan virus hepatitis melalui makanan, kota ini menjadi rawan terjadinya penularan penyakit itu.
Sedikitnya ada lima jenis virus hepatitis yang dapat menyerang manusia yaitu virus hepatitis A, B, C, D, dan E. Namun, hanya virus hepatitis A dan E yang biasa menular melalui makanan dan minuman. Sedangkan hepatitis B, C, dan D menular melalui darah yang terinfeksi yang tertinggal pada jarum suntik atau lainnya.
“Bagi yang gemar kuliner, hati-hati penyakit kuning bisa bersumber dari makanan yang terkontaminasi oleh virus,” ujar dr Nashirudin Rouf dari Rumah Sakit Umum Islam (RSUI) Kustati Surakarta.
Diperkirakan, 2 juta orang meninggal tiap tahunnya atau empat orang tiap menitnya meninggal akibat penyakit tersebut. Kecepatan penularan penyakit hepatitis empat kali lebih cepat dari penyakit HIV. Selain melalui makanan, penularan penyakit hepatitis jenis dapat melalui aliran darah, plasenta bayi bagi ibu yang mengandung serta cairan tubuh seperti sperma, vagina, dan air liur.
Menurut Rouf, penularan hepatitis melalui makanan bukan terletak pada masalah kandungan berbahaya dalam makanan, namun lebih pada sisi kebersihannya. Misalnya saja dari segi pencucian piring-piring bekas untuk menyajikan makanan, sebab banyak rumah makan yang tidak menggunakan air yang tidak mengalir. Akibatnya air yang hanya beberapa ember digunakan untuk mencuci puluhan bahkan ratusan piring. Hal ini akan membuat kuman maupun virus yang mungkin saja tertinggal di piring masih menempel lantaran tak bersih saat dicuci.
“Bayangkan jika tanpa diketahui ada penderita hepatitis yang juga makan di warung tersebut. Cara mencuci yang demikian bisa kita amati pada warung-warung yang tempat pencuciannya berada di depan,” jelasnya.
Masuk Tubuh
Setelah tertelan lewat makanan dan masuk ke dalam tubuh, ketahanan virus hepatitis A terhadap asam memungkinkannya melalui dalam perut dan masuk ke usus halus. Virus ini menginfeksi sel-sel epitel mukosa, berkembang biak dan menyebar ke sel-sel yang berdekatan dan kemudian masuk ke hati (liver) lewat peredaran darah keluar. Virus hepatitis A menginfeksi sel-sel parenkimal hati. Setelah sel terpenetrasi, virus hepatitis A akan mengambil alih sistem sel tersebut untuk menghasilkan komponen-komponen virus yang baru dan memicu respons antibodi tubuh.
Rouf menerangkan, gejala-gejala awal hepatitis adalah sakit pada otot, sakit kepala, hilang nafsu makan (anoreksia), tidak enak perut, demam kemudian diikuti sakit kuning yaitu penguningan kulit, mata, dan selaput lendir serta air kencing berwarna lebih gelap. Orang yang terkena hepatitis, hatinya akan rusak. Perutnya tampak membesar, muntah, diare dan kulit berwarna kekuningan.
Fungsi hati yang menyaring racun telah hancur oleh virus ini, akibatnya kematian mengancam penderita hepatitis. “Kalau orang merasakan masuk angin dalam waktu lama namun tidak sembuh-sembuh, perlu dicurigai. Karena bisa jadi hal itu merupakan gejala awal hepatitis,” paparnya.
Berat ringannya gejala dan lamanya sakit tergantung pada seberapa banyak sel-sel hati yang dirusak. Jika kurang dari setengahnya dari total sel yang dirusak, penderita hanya akan mengalami gejala-gejala ringan. Pada beberapa penderita, gejala-gejala tidak timbul dan hanya tahu bahwa mereka telah terinfeksi melalui tes darah. Sebab, pada masa inkubasi penderita tidak akan merasakan apa pun. Padahal masa ini adalah masa paling rawan penularan virus pada orang lain. Jika sel hati yang rusak begitu banyak, misalnya sampai tiga perempatnya, maka yang terjadi adalah hati tidak lagi berfungsi.
Tidak ada terapi khusus untuk penderita hepatitis, karena sama dengan penyakit lain yang disebabkan virus hepatitis belum memiliki vaksin. Maka dianjurkan untuk menjaga kebersihan lingkungan dan pribadi, serta menghindari faktor risiko hepatitis. Pencegahan lain adalah air dan makanan dimasak terlebih dahulu sebelum dikonsumsi. “Perlindungan terbaik dari hepatitis adalah dengan melakukan vaksinasi. Vaksinasi ini dapat dilakukan pada saat masih balita maupun ketika telah dewasa,” kata Rouf. (Ikrob Didik Irawan)

 

berbagi di Facebook :
Share
berbagi di Twitter :
berbagi di Google + :