Di Indonesia yang merupakan negara tropis dengan udara yang cukup lembab, penyakit demam berdarah terbilang telah akrab dengan masyarakatnya. Kendati gencar didengungkan, kenyataannya masih banyak keluarga yang belum mengetahui penanganan penyakit ini (demam) yang tepat terutama pada anak-anak.
Banyak masyarakat datang ke rumah sakit dengan kondisi terlambat, sehingga tingkat kematian cukup tinggi. Penyakit demam berdarah dengue (DBD) atau biasa disebut dengan dengue hemorrhagic fever (DHF) adalah penyakit yang disebabkan oleh virus dengue yang ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes Aegypti dan Aedes Albopictus.
Setelah tergigit nyamuk pembawa virus itu, seseorang akan mengalami masa inkubasi selama beberapa hari sampai gejala demam dengue muncul. Demam dan gejala lain dari demam dengue akan berlangsung selama dua hari yang kemudian diikuti oleh penurunan suhu yang cepat dengan diiringi oleh produksi keringat yang meningkat. Periode penurunan suhu ini biasanya berlangsung sehari, selanjutnya suhu tubuh akan meningkat lagi dengan cepat.
“Umumnya DBD menyerang anak-anak karena sistem imunnya (kekebalan) tidaklah sekuat orang dewasa. Sehingga virus itu tidak akan berpengaruh terhadap orang yang memiliki daya tahan tubuh prima karena perkembangbiakannya dalam tubuh akan terhambat. Dan penyakit ini tidak hanya terjadi pada saat musim hujan,” ujar dr Tatar Sumandjar SpPD-KPTI, spesialis penyakit dalam dari Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Dr Moewardi Surakarta.
Demam, pada penderita DBD merupakan mekanisme alamiah yang dilakukan oleh tubuh dalam menetralisasi virus yang masuk. Namun terdapat pemahaman yang kurang tepat yang terjadi pada masyarakat dalam hal penatalaksanaan demam. Pasalnya, masyarakat sering kali menganggap demam sebagai sesuatu yang lumrah. Terutama pada anak-anak, orangtua harus lebih waspada dalam memilih obat penurun demam yang dijual bebas (over the counter) karena pada kasus demam yang disebabkan oleh DBD tidak semua obat penurun demam aman digunakan.
“Obat pilihan pertama yang tepat untuk menurunkan demam pada penderita DBD adalah paracetamol. Namun hal ini juga harus diikuti dengan asupan cairan yang cukup agar hasil yang diperoleh dapat maksimal,” ujar Tatar, panggilan akrabnya. Khasiat dan keamanan yang sangat baik dari paracetamol untuk penanganan nyeri dan demam, direkomendasikan oleh ahli kesehatan termasuk dokter anak di seluruh dunia. Bahkan, paracetamol menjadi satu-satunya obat nyeri dan demam yang dapat digunakan secara aman pada demam dengue.
Aman bagi Anak-anak
Dalam hal menurunkan panas, paracetamol bisa dibilang memiliki reaksi yang lebih lama jika dibandingkan dengan golongan penurun panas lainnya. Namun obat ini jauh lebih aman bagi anak-anak. Selain itu, tidak dianjurkan pemberian obat demam yang mengandung ibuprofen bagi anak-anak. Obat dengan kandungan asam asetilsalisilat juga berbahaya karena dapat mengiritasi lambung, sebab sifatnya asam. Akibatnya, bisa menurunkan trombosit sehingga terjadi trombosipeni.
“Terlebih obat-obat racikan tanpa resep dokter dan ilegal yang dijual bebas di masyarakat sebaiknya jangan dikonsumsi. Meskipun memberikan reaksi yang sangat cepat namun efek sampingnya lebih besar,” ujar dokter yang juga dosen di Universitas Sebelas Maret Surakarta (UNS).
Beberapa golongan obat antidemam yang beredar di pasaran meliputi paracetamol atau juga disebut dengan acetaminophen, asam asetilsalisilat (acetylsalicylate acid) dan ibuprofen.
Perbedaan obat-obat tersebut terdapat pada derajat antidemam dan antinyeri, selain juga efeknya. Sebagai contoh, penggunaan obat yang mengandung bahan aktif asam asetilsalisilat. Obat ini sangat tidak cocok untuk anak-anak karena dapat menimbulkan sindroma reye yang ditandai dengan gejala tidak sadar dan gangguan fungsi hati.
Selain itu, banyak konsumen yang tidak menyadari bahwa baik asam asetilsalisilat maupun obat antiinflamasi nonsteroid (NSAID) seperti ibuprofen mempunyai indikasi kontra pada DBD. Akibatnya, obat ini dapat menimbulkan risiko pendarahan pada infeksi dengue. Berdasarkan rekomendasi badan kesehatan dunia (WHO) pada tahun 1997, pemakaian obat antidemam golongan paracetamol lebih tepat untuk meredakan demam DBD. (Ikrob
Didik Irawan)
| berbagi di Facebook : Share |
|
| berbagi di Twitter : Tweet |
berbagi di Google + : |







