Sabtu, 11/02/2012
PT JOGLOSEMAR PRIMA MEDIA | Jalan Setia Budi No. 89 Gilingan, Banjarsari, Surakarta | Telp. 0271-717141, 0271-720496 dan 0271-741926 | Fax. 0271-741696 | website : www.harianjoglosemar.com | email : redaksi@harianjoglosemar.com
<div style="background-color: none transparent;"><a href="http://www.rsspump.com/?web_widget/rss_ticker/news_widget" title="News Widget">News Widget</a></div> <div style="background-color: none transparent;"><a href="http://www.rsspump.com/?web_widget/rss_ticker/news_widget" title="News Widget">News Widget</a></div> <div style="background-color: none transparent;"><a href="http://www.rsspump.com/?web_widget/rss_ticker/news_widget" title="News Widget">News Widget</a></div>

Orangtua, Guru Pertama bagi Anak

Jumat, 05/02/2010 11:00 WIB - dik

Coba perhatikan bagaimana anak memiliki rasa ingin tahu yang tinggi dengan cara bereksperimen dan bereksplorasi diri. Bagaimana mereka memegang benda, mengguncang-guncang, dan kemudian memutar-mutar. Selain itu sikap anak yang terus menerus bertanya, bahkan dengan cara yang mendesak yang terkadang membuat orangtua menjadi jengkel. “Yang terjadi adalah anak kecil itu menggunakan seluruh otaknya untuk berlogika, menganalisa dan sebagainya,” ujar Irene F Mongkar, Konsultan Pendidikan Anak.
Anak-anak memulai belajar dengan pancaindranya, dan bagi mereka setiap hari merupakan pengalaman untuk belajar. Mulai dari bereksperimen, mencipta, mengetahui cara kerja sesuatu, serta tertantang untuk mendapatkan jawaban. “Tetapi apa reaksi kita sebagai orangtua terhadap anak? Kita lebih sering menghambat, membatasi, melarang, bahkan mengkritiknya dengan negatif, ” jelas Irene, wanita asli Betawi ini.
Menurut Irene, komentar-komentar seperti “jangan begitu” atau “kamu memang tidak bisa” merupakan sumber masalah. Pasalnya, beberapa ahli psikologi mengungkapkan bahwa dengan membatasi gerakan anak antara umur 9 sampai 18 bulan bisa menghambat perkembangan anak, bahkan bisa menurunkan tingkat kecerdasan yang akan dicapai.
Saat ini pengetahuan mengenai perkembangan kecerdasan anak sudah berkembang dengan pesat. Para ahli telah mengetahui yang terjadi dalam otak selama otak tumbuh, dan menyimpulkan bahwa untuk merangsang kemampuan dasar belajar pada anak sebagian besar terjadi sebelum anak mencapai usia lima tahun. “Artinya jika memang demikian, rumah adalah lembaga pendidikan terpenting bukan sekolah. Dan orangtua yang berperan sebagai pendidik pertama dan utama,” imbuh Irene.
Sehingga orangtua adalah guru pertama dan paling penting bagi anak. Orangtua memiliki kesempatan yang paling besar untuk mempengaruhi kecerdasan anak pada saat mereka mulai peka dari pengaruh luar. “Mengajar anak belajar sejak kecil berarti menerapkan pengetahuan mengenai kebutuhan otak anak selama empat tahun pertama dari hidupnya. Sehingga perkembangan mental anak akan sesuai dengan kemampuan dan anak menjadi lebih cerdas,” ungkap Irene lagi.
Jadi bila orangtua mencintai anak dan menginginkan anak menjadi cerdas, hal yang harus dilakukan adalah dengan memberikan cukup waktu untuk anak. Karena tanpa disadari hal tersebut dapat membantu perkembangan intelektualnya. “Cobalah untuk mengikuti kegiatan anak selama sehari, apalagi jika dapat bermain bersamanya,” pungkasnya. (dik)

 

berbagi di Facebook :
Share
berbagi di Twitter :
berbagi di Google + :