Tiga orang lelaki bertubuh ceking, dan berpenampilan dekil terlihat duduk bersila membuka arena judi di pinggiran jalan. Di seberang jalan, beberapa pemuda kampung terlihat menenggak minuman keras sambil mendendangkan tembang kehidupan.
Keheningan malam mengantar kedua kubu yang berbeda kepentingan ini, larut dalam kegiatannya masing-masing. Namun, beberapa saat kemudian ketenangan itupun terusik ketika salah seorang penjudi mengamuk. Dia kalah dalam permainan.
Kedua kubu yang tadinya rukun, mendadak baku hantam karena merasa saling terganggu, baik dengan dentingan gitar, ocehan mulut pemabuk dan umpatan penjudi yang kalah. Selang beberapa saat, keributan terhenti oleh senandung tembang Jawa, dari pria tua yang berjuluk Karto Bagor. Namanya Karto Bagor karena hobinya menjahit bagor atau karung tua yang rusak. Namun si penjudi tersulut emosinya, karena merasa tersindir oleh temmbang Karto.
Tak peduli, Karto terus bernyanyi. Si penjudi yang ternyata centengnya Den Ayu Arum Sari, pergi seraya mengumpat akan membuat perhitungan dengan Karto Bagor.
Di kemudian hari, umpatan si penjudi terbukti. Karto Bagor, Prenjak, Sri, dan Paijo para magersari atau penghuni liar yang numpang di halaman rumahnya Den Ayu Arum pun diancam si empunya rumah untuk segera pergi dari situ. Karena kediaman Den Ayu Arum akan dibuat taman kota oleh pemerintah.
Para magersari itu pun berontak dan menolak untuk pergi. Begitupun dengan Den Ayu Arum, wanita cantik tapi licik itu pun bersikeras untuk tetap mengusir mereka dari wilayah rumahnya. Karena perintah Den Ayu Arum tak digubris para magersari, akhirnya datanglah segerombol petugas pemerintah dengan sigap memorak-porandakan gubuk tempat para penghuni liar itu.
Situasi menjadi kacau. Para magersari berlarian menyelamatkan diri. Namun, nahas bagi Karto Bagor, di saat semua kawannya berlari dirinya justru terpelanting dan terinjak-injak petugas serta alat berat yang menyapu bersih seluruh bangunan liar yang ada. Keinginan Karto untuk tetap tinggal di dalam gubuk reyotnya hingga akhir hayatnya pun terpenuhi, karena Karto tewas dalam kondisi mengenaskan oleh aksi penggusuran tersebut.
Itulah sekelumit pertunjukan teater berbahasa Jawa yang dipentaskan Komunitas Oyot dengan lakon Lemah Panguripan, di teater arena TBJT Solo, Rabu (24/3) malam lalu. Latar belakang kemiskinan, penyakit sosial dan ketidakadilan menjadi ide pokok yang mereka pentaskan.
Kendati tema cerita lumayan ”berat”, namun dengan kemasan yang apik, tetap memukau perhatian penonton. Banyolan khas, sentilan dan komedi sartir membuat pentas malam itu menjadi hidup. Penonton tak lagi berkerut dahi, namun gelak tawa dan riuh tepuk tangan senantiasa mendominasi setiap adegan.
Gigok Anurogo, dedengkot teater Solo, menyatakan rasa salutnya atas pertunjukan malam itu. Menurutnya, selain menampilkan bahasa Jawa sebagai pengantar cerita, dia memuji para seniman teater Oyot yang kritis dengan mengusung tema realitas sosial. Tema seperti itu, bukan lagi imajinasi seniman, namun kerap terjadi dalam kehidupan masyarakat. ”Hanya saja ending-nya terlalu klise, dan penggalian karakter cerita kurang dalam,” timpalnya. (Deniawan Tommy Chandra Wijaya.)
| berbagi di Facebook : Share |
|
| berbagi di Twitter : Tweet |
berbagi di Google + : |




