Kamis, 24/05/2012
PT JOGLOSEMAR PRIMA MEDIA | Jalan Setia Budi No. 89 Gilingan, Banjarsari, Surakarta | Telp. 0271-717141, 0271-720496 dan 0271-741926 | Fax. 0271-741696 | website : www.harianjoglosemar.com | email : harianjoglosemar@gmail.com

NU dan Tantangan Berbangsa

Rabu, 24/03/2010 09:00 WIB -

Muktamar ke-32 Nahdlatul Ulama (NU), kemarin secara resmi dibuka oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) di Makassar, Sulawesi Selatan. Melalui muktamar ini, akan ditentukan arah perjalanan NU dalam lima tahun ke depan. Dan tentunya, nahdliyin serta masyarakat Indonesia pada umumnya berharap NU sebagai organisasi massa Islam terbesar di Tanah Air bisa memainkan peran yang lebih signifikan dalam kehidupan berbangsa.
Ke depan, kita berharap pengurus NU mampu membawa organisasi ini sesuai Khitah 1926. Pengurus NU jangan lagi terjebak dalam kegiatan politik praktis. Jika pun ada pengurus NU ingin berpolitik praktis, sebaiknya segara menanggalkan status kepengurusan. Hal ini tidak lain agar NU tidak lagi “terkotori” oleh kepentingan-kepentingan kekuasaan politik.
Selain itu, NU dalam lima tahun mendatang diharapkan bisa tampil sebagai problem solver terharap sejumlah masalah bangsa yang kini berkembang. Misalnya masalah terorisme yang selama ini selalu dikaitkan dengan agama. NU yang salah satu ruang geraknya di bidang pendidikan diharapkan bisa memainkan peranannya dalam hal ini. Sebagaimana diakui tokoh NU, KH Sahal Mahfudz bahwa gerakan terorisme yang cenderung ekstrem dan fundamental, muncul akibat kurangnya ilmu dan kesadaran dalam menempuh perjuangan. Di sinilah peran NU dalam menyampaikan ilmu agama yang mengedepankan kedamaian. NU bersama umat Islam lainnya harus bisa menampilkan wajah Islam yang damai, Islam yang menjadi rahmat bagi semua makhluk Allah SWT.
Sebagai bagian dari institusi pendidikan bisa dikatakan NU sudah cukup berhasil menghasilkan pemikir-pemikir brilian yang memiliki peran signifikan terhadap kemajuan bangsa. Hal ini harus terus dipertahankan. Ruang-ruang pembelajaran yang selama ini terbangun hendaknya disokong dan didukung. Ini tak lain dan tak bukan, agar NU tak pernah berhenti melahirkan intelektual-intelektual Islam mumpuni.
Sebagai organisasi dengan jumlah anggota hingga 60 juta jiwa, NU juga harus bisa lebih berperan nyata dalam peningkatan perekonomian rakyat, khususnya anggota organisasi tersebut. Pastinya kita semua berharap warga NU bisa merasakan manfaat kehadiran organisasi ini dalam konteks meningkatkan taraf perekonomian mereka. Bagaimana caranya? Ini akan menjadi pekerjaan rumah para pemimpin baru NU mendatang. (***)

berbagi di Facebook :
Share
berbagi di Twitter :
berbagi di Google + :