Amari Solo memberikan kebijakan ketat bagi para anggotanya. Jika nilai rapor anggota turun terlampau jauh, maka anggota harus diskors atau bahkan dikeluarkan. Hal ini sebagai wujud komitmen Amari Solo untuk membentuk kedisiplinan agar anggota dapat memanajemen waktunya dengan baik antara belajar di sekolah dan belajar musik.
Kepada Joglosemar, Conductor, Arranger and Music Director Amari, Mursid Hananto, menuturkan, Amari sebagai wadah belajar musik di luar sekolah formal tak ingin mengganggu kewajiban anak dalam dunia pendidikan di sekolahnya. Pihaknya berharap, anggota yang selama ini bergabung dapat menyeimbangkan antara kepentingan musik dan pelajaran di sekolahnya. “Kami berharap, kedua bidang itu (pelajaran sekolah dan musik-red) dapat mencapai prestasi,” kata dia.
Ia mengatakan, selama ini sudah ada beberapa anggota yang mendapatkan beasiswa di luar negeri, karena prestasi akademik dan musiknya. Misalnya saja Fiona Krista, yang berhasil meraih juara pertama Violin Competition se-Jawa Bali, sekarang mendapatkan beasiswa di Hongaria. “Kebetulan Fiona juga meraih banyak juara lainnya, baik tingkat lokal maupun nasional,” papar Mursid.
Selama ini Amari tak hanya berhubungan langsung dengan anak atau anggota saja, namun orangtua dari anggota juga dilibatkan. Mursid mengatakan, Amari memiliki Persatuan Orang Tua Amari Solo (Portamariso), yang berfungsi untuk mendampingi anaknya agar dapat konsentrasi dalam musik dan akademik di sekolah.
Diakui Mursid, kegiatan Amari Solo terkadang memang padat. Beberapa agenda konser telah diagendakan, sehingga mengharuskan anggota untuk aktif latihan. “Sebentar lagi kita akan adakan konser memperingati Hari Kartini dan meninggalnya Whitney Houston. Konser nanti bertemakan Baktimu Kartini dan Withney Houston in Memoriam. Ini tentu juga perlu persiapan dari tim Amari Solo,” imbuh Mursid.
Anisaul Karimah
| berbagi di Facebook : Share |
|
| berbagi di Twitter : Tweet |
berbagi di Google + : |




