Kamis, 24/05/2012
PT JOGLOSEMAR PRIMA MEDIA | Jalan Setia Budi No. 89 Gilingan, Banjarsari, Surakarta | Telp. 0271-717141, 0271-720496 dan 0271-741926 | Fax. 0271-741696 | website : www.harianjoglosemar.com | email : harianjoglosemar@gmail.com

Nikah Ala Tionghoa

Minggu, 21/03/2010 09:00 WIB -

Sebagai etnis minoritas, berbagai kebudayaan Tionghoa jarang dikenal masyarakat. Termasuk salah satunya budaya pernikahan ala etnis Tionghoa. Banyak tradisi unik pada saat dan menjelang pernikahan yang hingga kini masih berlaku di kalangan masyarakat Tionghoa. Lebih lengkap cerita unik tradisi pernikahan ala masyarakat Tionghoa, berikut laporan wartawan Joglosemar, Rani Setianingrum

Pesta pernikahan selama ini kental dengan nuansa sakral. Bahkan banyak banyak yang menganggap terlalu repot karena harus menuruti beragam ritual yang terkadang tak jauh-jauh dari mitos. Begitu pula yang terjadi pada budaya pernikahan masyarakat Tionghoa.
Meski sebagai etnis pendatang, masyarakat Tionghoa hingga kini tetap melestarikan budaya leluhur mereka dari bangsa Tiongkok(China) dalam menggelar upacara pernikahan.
Nyaris sama dengan tradisi etnis lainnya, masyarakat Tionghoa tetap menjalankan ritual khusus namun tetap mematuhi UU tahun 1974 tentang  penikahan masyarakat Tionghoa. Mereka wajib mengikrarkan peneguhan iman dan menerima wejangan dari rohaniawan Tionghoa. ”Tradisi itu, wajib dijalani  para calon mempelai sebelum melangsungkan pernikahan,” kata Haksu Thjie Tjay Ing, rohaniawan MAKIN Solo, saat berbicang dengan  Joglosemar.
Sebelum menjalankan pernikahan, mereka juga mengawali dengan tradisi lamaran. Keluarga calon mempelai pria akan datang ke rumah keluarga calon mempelai wanita untuk menjajaki kemungkinan untuk berbesan. Pada tradisi Tionghoa kuno, proses lamaran sebenarnya amat rumit dan makan waktu. Kerumitan ini karena mereka harus mempertimbangkan dengan sangat seksama kecocokan tahun, bulan, tanggal, dan jam lahir.
Mereka juga mengandalkan jasa peramal yang memahami penanggalan China serta shio  dalam kecocokan para calon pengantin. Para peramal inilah yang menentukan tanggal, bulan dan tahunnya bahkan sampai pada hitungan jam yang tepat. ”Sebelum pernikahan, bila kedua orang tua telah wafat, hendaklah berziarah dan bersembahyang sebagai simbolis memohon restu,” kata Ws Adjie Chandra, pendeta muda MAKIN Solo.
”Upacara ini disebut upacara Liep Gwan pernikahan pertama dilakukan dalam lingkungan keluarga, kedua di rumah ibadah.”
Menurutnya, Liep Gwan dilakukan di tempat-tempat kebaktian agama Khonghucu yang sebelumnya terlebih dahulu dilakukan upacara keluarga.”Kami juga mengenal tradisi pingitan untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan,” ujar Adjie Chandra.

Baca Surat Li Yuan
Dalam tradisi masyarakat Tionghoa, prosesi lamaran diwakili dengan tradisi antar rantang bambu atau lacquerware. Rantang bambu itu disusun bulat atau persegi empat. Sama seperti sedekah gunungan dalam masyarakt Jawa, rantang bambu mereka isi dengan aneka buah dan kue. Namun, jumlahnya harus genap.
Rantang bambu itu dipersembahkan oleh keluarga mempelai pria untuk keluarga wanita. Jika lamaran diterima, keluarga pengantin wanita akan memberi perhiasan sebagai tanda ikatan. ”Pas prosesi lamaran, pantang pelamar menyentuh makanan yang disajikan, sebelum lamaran diterima,” pesannya.
Bahkan ada juga keluarga pelamar yang memberikan angpau yang diselipkan di sela-sela makanan, untuk semakin mengakrabkan jalinan kedua mempelai.
Lebih lanjut, Adjie Chandra menjelaskan, ritual terpenting sebelum pernikahan dijalani adalah menjalankan ritual peneguhan pernikahan.”Namanya upacara Li Yuan dalam tradisi kami,” ujarnya.
Upacara Li Yuan diawali dengan pendampingan orangtua calon pengantin dan saksi menghadap ke altar. ”Lalu para mempelai lah yang menyalakan lilin,” lanjut dia.
Pengantin pria menyalakan lilin kiri dan yang wanita kanan, jadi posisinya saling bersilang. Setelah itu, keduanya bersama menuju ke altar. ”Selesai pernikahan dan dupa ditancapkan, lalu pembacaan doa oleh Cu Cee kedua mempelai untuk memberi penghormatan besar kepada Sam Kwi Khiu Kauw,” paparnya.
Posisi Sam Kwi Khiu Kauw sendiri berdiri berjajar, tingle, kaki kiri maju selangkah, kaki kanan ditekuk sampai lutut menyentuh lantai  dan posisi tangan tetap di ulu hati.
Tahap berikutnya, kedua mempelai menghadap altar nabi. ”Kedua mempelai berdiri di depan meja Li Yuan, didampingi kedua orang tua dan saksi. Saat naskah dibacakan Pwee Cee menyerahkan gelas kecil berisi air sidi kepada kedua mempelai yang memegang dengan tangan kiri sedangkan tangan kanan diletakkan di atas buku suci,” terangnya.
Cu Cee membacakan surat Li Yuan Pernikahan. Pada prosesi ini kedua mempelai mengikrarkan prasetia pernikan lalu meminum air sidi sambil tukar cincin. Ketika janji pernikahan dan tukar cincin telah dilaksanakan acara dilanjutkan dengan kedua mempelai memberikan penghormatan besar dengan Sam Kwi Khiu Kauw, dan dilanjutkan dengan pelaksanaan acara pemberian hormat kepada orang tua. ”Kemudian yang terakhir adalah pencatatan dan penandatanganan surat pernikahan,” jelasnya
”Itu tradisi yang kami pertahankan, setelah itu biasa yakni upacara resepsi. Bagi yang mampu mereka menggelar di hotel atau di rumah,” pungkasnya. (***)

berbagi di Facebook :
Share
berbagi di Twitter :
berbagi di Google + :