Hayo siapa di antara adik-adik yang hobinya suka berkaca? Atau kalau nggak berkaca, lalu adik-adik merasa kagum dengan penampilan sendiri dan bangga dengan apa yang dimilikinya?
Perlu adik-adik ketahui, sebenarnya rasa bangga akan diri sendiri atau yang biasa disebut narsis adalah hal positif karena bisa menimbulkan rasa percaya diri. Namun, apabila rasa bangga tersebut berlebihan, ini malah menjadi hal negatif dan harus segera dicegah.
Rasa bangga berlebihan ini populer disebut narsis. Narsis pada dasarnya adalah sifat pada seseorang yang melakukan tindakan berlebihan akan dirinya sendiri. Narsis ternyata tak hanya menjangkiti orang dewasa, anak-anak pun bisa memiliki sifat ini.
Menurut Psikolog Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), Ibu Wisnu Sri Hertinjung mengatakan bahwa narsis itu pada dasarnya adalah sifat pada seseorang yang melakukan tindakan berlebihan akan dirinya sendiri. Narsis ini bisa dilakukan oleh siapa pun termasuk pada usia adik-adik.
Sehingga kalau memang adik-adik memiliki sifat narsis itu boleh-boleh saja kok. Dengan bergaya berlenggak-lenggok di depan kaca atau di depan kamera adik pun tidak apa-apa.
Siapa tahu dari berlenggak-lenggok tersebut mampu menggali potensi pada diri adik-adik. Bisa jadi kalau adik-adik ini suka bergaya di depan kamera atau kaca ternyata adik-adik berpotensi untuk menjadi model kecil atau si fotogenik.
Namun Ibu Hertin juga menambahkan saat narsis pun adik-adik tidak boleh berlebihan. Karena dengan dengan gaya yang berlebih-lebihan tersebut ditakutkan bisa memunculkan sifat sombong terhadap diri adik-adik. Misalnya merasa paling cantik atau paling ganteng di antara teman-teman lainnya atau merasa paling segalanya.
“Narsis boleh-boleh saja, asal adik-adik jangan berlebihan narsis-nya ya. Karena siapa tahu dari kenarsisan yang dibangun sejak kecil tersebut mampu mengenalkan potensi adik-adik semua. Lalu bisa juga dengan ke-narsis-an tersebut mampu menemukan bakat adik-adik yang selama ini terselubung, “ jelas Ibu Hertin.
Pujian Berlebihan
Kemudian, bagaimana caranya agar bisa mengelola sikap narsis bisa menghasilkan dampak positif. Mengingat dengan perkembangan yang terjadi anak-anak anak-anak sekarang ini memang banyak yang narsis.
Bahkan orangtua pun juga merasa bangga ketika anaknya bisa tampil beda dengan yang lain. Misalnya ketika anaknya tampil menarik, cantik atau memiliki kelebihan jika dibandingkan dengan teman lain.
Pada dasarnya narsis sendiri dipengaruhi oleh beberapa faktor. Di antaranya karena faktor imitasi yaitu meniru baik itu dari orangtua, televisi atau melihat teman atau tetangganya.
Selain itu, faktor pujian yang diberikan orangtua kepada anaknya juga mempengaruhi anak untuk tertanamnya sikap narsis. Apalagi pujian yang diberikan bersifat berlebihan.
“Memang menjadi kebanggaan ketika anak bisa tampil sesuai dengan keinginan orangtua. Tetapi hendaknya ketika kemudian anak tampil sempurna sesuai dengan keinginan orangtua jangan memuji habis-habisan. Ada baiknya pujian yang realistis tetapi mendorong anak untuk tampil kreatif, “ kata Bu Hertin.
Dalam memberikan pujian juga diperlukan kekreatifan dari orangtua. Orangtua harus memuji berdasar apa yang diraih anak dan memberikan masukan kepada anak. Misal dengan kata, lukisan kamu bagus. Tapi alangkah baiknya, warnanya jangan seperti itu.
“Pujian yang berlebihan akan membuat anak bangga tidak dalam batas normal. Hingga anak pun akan merasa sombong. Karena segala sesuatu jika berlebihan akan tidak baik hasilnya,” kata Ibu Hertin. (Dwi Hastuti)
| berbagi di Facebook : Share |
|
| berbagi di Twitter : Tweet |
berbagi di Google + : |







