JOGJA—Sosiolog dari Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Gadjah Mada Yogyakarta Soeprapto mengatakan peristiwa mudik berpotensi menimbulkan kecemburuan sosial.
“Selain dimanfaatkan sebagai sarana silaturahmi, mudik sering kali digunakan sebagai ajang memamerkan kesuksesan atau kekayaan yang telah diperoleh dari perantauan,” ujarnya, Senin (6/9).
Ia mengatakan perilaku memamerkan kesuksesan merupakan cara untuk mendapatkan kesan bahwa ada peningkatan status sosial pada diri orang tersebut. “Misalnya agar dilihat lebih sukses di perantauan, pemudik harus menyewa mobil, padahal sebenarnya hal itu sedikit dipaksakan dengan kondisi ekonomi yang dimiliki.”
Penciptaan simbol status sendiri saat ini beragam, tidak hanya berbentuk kendaraan seperti motor atau mobil, tetapi dapat berupa perhiasan atau alat-alat elektronik. Menurut Soeprapto, penciptaan status sosial semu semacam inilah yang terkadang dapat merusak makna serta hakikat mudik.
“Peristiwa mudik sebaiknya tidak semata-mata diartikan sebagai mudik biologis dalam rangka mengobati rasa kangen pada sanak keluarga dan kampung halaman, tetapi juga mudik spiritual untuk kembali kepada kesucian,” tukasnya.
Ia menuturkan banyak sisi positif yang dapat diambil dari momentum mudik. “Ketika mudik tentu ada komunikasi motivatif yang terjalin antara perantau sukses dan sanak famili yang belum maju secara ekonomi,” katanya.
Menurut Soeprapto, mudik
Lebaran berbeda dengan libur pada hari-biasa, baik dari sisi semangat maupun sisi emosional. “Oleh karena itu para pemudik rela berdesak-desakan membeli tiket bahkan macet di perjalanan,” paparnya.
Soeprapto mengatakan bagi sebagian besar masyarakat Indonesia, terutama yang berasal dari Suku Jawa, mudik merupakan sebuah tradisi yang tidak dapat ditinggalkan. (ant)
| berbagi di Facebook : Share |
|
| berbagi di Twitter : Tweet |
berbagi di Google + : |







